kumparan
28 Okt 2017 16:22 WIB

Perempuan Ini Berkeringat Darah, Apa Penjelasan Para Dokter?

Ilustrasi Berkeringat (Foto: Thinkstock)
Seorang perempuan muda asal Italia memiliki kondisi misterius yang menyebabkan tubuhnya berkeringat darah.
ADVERTISEMENT
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 23 Oktober 2017 di Canadian Medical Association Journal (CMAJ) disebutkan, perempuan berusia 21 tahun itu bercerita kepada para dokter yang menanganinya bahwa selama 3 tahun lebih belakangan ini wajah dan telapak tangannya secara berkala mengeluarkan keringat darah tanpa kemudian menimbulkan luka dan ruam di kulitnya.
Setiap pendarahan itu berlangsung selama 1 hingga 5 menit. Pendarahan tersebut, lapor perempuan itu, dapat terjadi lebih intens ketika ia sedang mengalami tekanan emosional.
Ketika perempuan itu telah berada di rumah sakit, para dokter kemudian mengamati “pengeluaran cairan berlumur darah dari wajahnya”, tulis laporan di JMAC itu sebagaimana dilansir Live Science awal pekan ini.
Hasilnya, perempuan itu didiagnonis memiliki kelainan kondisi yang jarang ditemukan bernama hematohidrosis atau bisa juga disebut hematidrosis. Kondisi ini menyebabkan darah dapat merembes melalui membran dan kulit yang utuh.
ADVERTISEMENT
Ilustrasi Berkeringat (Foto: Pixabay)
Menurut Dr. Jacalyn Duffin, ahli hematologi dan ahli sejarah medis di Queen’s University di Kingston, Ontario, Kanada, kondisi kelainan itu sebenarnya sudah pernah dilaporkan sejak berabad-abad lalu meski sebagian dokter meragukan adanya kondisi tersebut.
Setelah melakukan review terhadap 28 kasus hematidrosis yang pernah muncul dalam 13 tahun terakhir, Duffin yang menulis ulasan yang menyertai laporan kasus tersebut menyimpulkan bahwa kondisi tersebut memang benar-benar ada. Dalam ulasannya Duffin menulis bahwa kondisi tersebut “dapat dipercaya”.
“Meski sedikit, pengamatan-pengamatan terhadap berkeringat darah tetap ada” dalam literatur medis, tulisnya.
“Kumpulan observasi yang terdokumentasi dengan baik ini menuntut penghormatan dan penerimaan (terhadap adanya kondisi hematidrosis),” kata Duffin.
Namun begitu, tak ada seorang pun yang tahu apa yang menyebabkan kondisi tersebut.
Noda Darah (Foto: Thinkstock)
Menurut Genetic and Rare Diseases Information Center (GARD) Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat, beberapa peneliti memiliki hipotesis bahwa peningkatan tekanan dalam pembuluh darah menyebabkan keluarnya sel-sel darah melalui saluran kelenjar keringat.
ADVERTISEMENT
Spekulasi lainnya adalah kondisi ini bisa jadi dihasilkan oleh aktivasi respons 'fight of flight' dalam tubuh yang umumnya terjadi ketika seseorang mengalami ketakutan atau tertekan.
Respons ini memicu pelepasan hormon tertentu yang membuat seseorang lebih waspada, tapi dalam kasus-kasus langka dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah kecil, sehingga terjadi pendarahan.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini terkait dengan gangguan pendarahan seperti kondisi ketika darah tidak menggumpal dengan benar atau tekanan darah tinggi.
Ilustrasi Berkeringat (Foto: Pixabay)
Menurut Duffin, deskripsi “keringat darah” merujuk pada tulisan Aristoteles pada abad ke-3 sebelum Masehi. Pada akhir abad pertengahan dan periode modern awal, beberapa referensi mengenai keringat berdarah ada dalam konteks tulisan-tulisan terkait penyaliban Kristus.
Dalam beberapa tahun terakhir, menurut Duffin, telah terjadi peningkatan kasus hematidrosis. Sejak tahun 2013, ada 18 kasus hematidrosis yang dilaporkan. Secara total, menurut literatur medis, ada 42 kasus hematidrosis yang dilaporkan sejak 1880.
ADVERTISEMENT
Kebanyakan kondisi hematidrosis terjadi pada perempuan-perempuan muda. Namun begitu, kondisi ini juga pernah dilaporkan terjadi pada laki-laki.
Perempuan muda Italia yang mengalami kondisi hematidrosis melaporkan bahwa tampaknya tak ada satu pemicu tertentu yang menyebabkan ia mengeluarkan keringat darah. Katanya, hal tersebut bisa terjadi saat ia sedang tidur, atau sedang berolahraga, atau sedang di bawah tekanan.
Akibat kondisinya tersebut, kata perempuan itu, dirinya mengalami isolasi sosial. Akibat terisolasi secara sosial, ia pun mengalami gejala depresi dan gangguan kepanikan.
Sejumlah tes yang telah perempuan itu jalani menunjukkan bahwa yang keluar dari wajahnya itu memang merupakan darah, bukan keringat berwarna yang bisa terjadi dalam kondisi-kondisi tertentu. Hasil analisis terhadap kulitnya di bawah mikroskop menunjukkan, kondisi jaringan kulitnya itu normal.
ADVERTISEMENT
Dalam laporan kasus tersebut tertulis, perempuan itu kemudian menjalani perawatan dengan mengonsumi obat-obatan untuk tekanan darah tinggi. Selain itu, dokter juga memberikannya obat-obatan antidepresan untuk mengatasi gejala-gejala depresinya.
Setelah menjalani perawatan, pendarahan pada wajah dan telapak tangan perempuan itu dilaporkan telah berkurang, namun belum sepenuhnya berhenti.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·