kumparan
20 Apr 2019 15:39 WIB

Perjalanan Angkie Yudistia Sebagai Pemimpin Perempuan Difabel

Angkie Yudistia, Difable Womanpreneur, Pendiri Thisable Enterprise. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Menurut data WHO (World Health Organization) dan SUPAS 2015 (Survei Penduduk Antar Sensus), diperkirakan 10 persen-- atau sekitar 20 juta penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas. Mereka tergolong lebih rentan terhadap kemiskinan karena menghadapi keterbatasan akses terhadap kesehatan, pendidikan, pelatihan, dan pekerjaan yang layak. Hal serupa juga dijabarkan oleh Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), bahwa baru 25 persen penyandang disabilitas yang bisa bekerja secara formal maupun informal.
ADVERTISEMENT
Kebanyakan dari mereka menghadapi berbagai tantangan sejak kecil hingga dewasa. Terutama saat mereka ingin menyambung hidup menuju kemandirian lewat pekerjaan. Kesulitan tersebut juga dipicu oleh pandangan masyarakat yang masih menganggap remeh para penyandang disabilitas. Membuat mereka memiliki kesempatan yang sangat terbatas dalam mencari pekerjaan.
Kekhawatiran dan fakta inilah yang mendorong Angkie Yudistia (32) untuk terus berjuang menaikkan derajat para penyandang disabilitas. Angkie Yudistia sejak lama dikenal sebagai penyandang disabilitas yang menginspirasi banyak orang. Angkie divonis tuli sejak ia berusia 10 tahun.
Pada mulanya, kenyataan dirinya menjadi tuli tentu menjadi hal yang sulit diterima. Angkie kecil sempat merasa sedih dan kerap mempertanyakan mengapa hal tersebut harus terjadi padanya. Bully dan cemoohan dari anak-anak seusianya pun harus jadi makanan sehari-hari Angkie. Namun, seiring berjalannya waktu, berkat dukungan dari orang tua, Angkie terus bangkit dan melebarkan sayapnya agar menjadi seorang perempuan yang mandiri dan sukses.
ADVERTISEMENT
Kegigihan, kesabaran, kerja keras, dan tekadnya pun terbayarkan. Kini, Angkie dikenal sebagai motivator dan inspirasi bagi banyak teman-teman disabilitas lainnya.
Tekadnya yang kuat juga mengantarkan perempuan kelahiran 1987 ini mendirikan sebuah perusahaan berbasis sosial yang bernama Thisable Enterprise, sebuah pusat penyedia jasa untuk memberdayakan dan memberikan kesempatan kerja bagi para penyandang disabilitas. Ia pun telah meluncurkan dua buku yang ditulisnya berjudul Setinggi Langit dan Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas.
Beberapa waktu lalu, Angkie berbagi kisahnya kepada kumparan tentang perjuangan, pengalaman, dan usahanya dalam memberdayakan teman-teman disabilitas. Simak perbincangan Angkie bersama kami di bawah ini.
Difable Womanpreneur, Angkie Yudistia. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Anda divonis kehilangan pendengaran saat masih anak-anak. Boleh diceritakan awal mulanya bagaimana?
Saya tuli bukan dari lahir, tetapi di usia 10 tahun. Awal mulanya, saya sempat terkena malaria dan demam tinggi, dan dianjurkan untuk mengkonsumsi antibiotik. Tiba-tiba saja saya jadi tidak bisa mendengar. Sebenarnya masih kurang jelas, apakah saya tuli karena malaria, atau efek samping dari antibiotik yang saya konsumsi. Untuk kasus saya sendiri belum ada penelitian validnya, namun kemungkinan memang karena panas tinggi tersebut atau antibiotik.
ADVERTISEMENT
Saya mengetahui kemungkinan-kemungkinan tersebut dari penelitian serupa di kasus orang lain yang pernah terkena malaria. UN (United Nations, PBB) punya penelitian tentang malaria di wilayah Indonesia Timur, yang kebetulan saat malaria itu saya memang sedang tinggal di Indonesia Timur. Kebetulan orang tua saya kerja di BUMN yang sempat dinas di Ternate, Maluku Utara. Nah, di penelitian tersebut memang disebut salah satu pemicunya bisa dari demam tinggi, tapi untuk penelitian di kasus saya sendiri memang belum ada.
Dengan keadaan Anda yang menjadi tuna rungu secara tiba-tiba, apakah Anda pernah mendapatkan perlakuan seperti bullying dan cemoohan karena kondisi ini?
Wah sering. Sampai sekarang pun pasti, ya. Karena gini, manusia itu sehari-harinya akan berkomunikasi. Di rumah, di luar rumah, kita pasti akan berkomunikasi. Tentu saya pun ada masa lelah jika harus selalu menjelaskan diri saya kepada orang lain seperti, ‘saya tidak bisa dengar’ apalagi untuk kesan pertama.
ADVERTISEMENT
Namun, saya paham kenapa orang-orang seperti itu (bully), karena mereka nggak tahu apa-apa. Makanya suka ada pernyataan: ‘Lo tuh denger nggak sih?’ atau ‘Kalau ngomong sama Angkie tuh lemot ya’. Itu kan sebenarnya physically-shaming ya. Tapi saya mengerti, mereka seperti itu karena tidak paham. Jadi ya saya harus jelaskan bahwa saya nggak bisa dengar, dan harus membaca gerakan bibir. Jadi sepanjang hidup, saya memang harus memperkenalkan diri kepada semua orang. PR (public relations) banget, kan? Ya, saya ini memang PR untuk diri saya sendiri.
Lalu, bagaimana cara Anda menghadapi segala perlakuan bullying tersebut?
Diemin aja. Banyak orang di sekitar saya yang berkata bahwa saya harus lawan mereka. Ya saya tahu. Tapi kalau melawan dengan kata-kata, itu hanya akan menguras energi saja. Pada akhirnya saya berpikir, someday, para pembully itu akan malu sendiri. Menurut saya, bully itu jangan dibalas dengan kata-kata, tapi dengan action--tindakan. Buktinya saja, dulu yang sering bully saya, ya nggak akan berani untuk bully saya sekarang, kan? Karena saya sudah mengumpulkan kekuatan, sudah nyaman dengan diri saya sendiri, sudah tidak ‘kacau’ dengan diri sendiri, sudah menemukan jati diri. Sehingga ketika ada orang lain yang mulai bertingkah, saya jadi berani lawan dan membela diri.
Difable Womanpreneur, Angkie Yudistia. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Apakah sekarang Anda menggunakan alat pendengar? Dan bagaimana cara Anda berkomunikasi dengan orang sekitar?
ADVERTISEMENT
Sekarang saya pakai alat pembantu pendengaran di telinga kanan dan kiri. Jadi alat ini membantu untuk menambah volume, tapi saya sendiri tetap harus lihat gerakan bibir lawan bicara. Tentu, di beberapa kasus saya juga memerlukan bahasa isyarat. Tapi jika berbicara secara umum, saya berkomunikasi lewat gerakan bibir supaya informasi yang diterima dapat semua. Kalau nggak pakai alat, nggak ada suara. Sepi, hening sekali. Saya juga ada tinnitus, suara berdenging di telinga, sehingga kalau tidak pakai alat pendengar itu bisa mengganggu sekali.
Apa yang membuat Anda untuk terus semangat?
Dulu tantangan saya adalah lingkungan. Mau ini itu, bisa saja dipatahkan. Tapi tetap, saya juga punya penyemangat. Semangat saya itu adalah pemikiran bahwa hidup hanya sekali, so I have to make it work. Meski orang tidak percaya dengan kemampuan saya, tapi saya dikelilingi oleh keluarga yang selalu mendukung. Orang tua saya dulu selalu berusaha untuk memenuhi keinginan saya, mulai dari sekolah sampai S2 sampai internship di luar negeri. Selama itu positif, orangtua selalu membuka jalan. Dan itu sesuatu yang nggak semua orang bisa dapatkan, saya pun bersyukur. Meski saya memiliki keterbatasan, namun saya beruntung karena memiliki keluarga yang mendukung. Sehingga, saya tidak boleh menyia-nyiakan itu semua.
ADVERTISEMENT
Bagaimana akhirnya bisa mendirikan Thisable Enterprise?
Ketika saya mendirikan Thisable Enterprise ini, orang-orang tanya, ‘Memang kamu mau jadi entrepreneur?’ Ya sebenarnya nggak juga. Tapi balik lagi, kesempatan kerja untuk saya itu nggak banyak. Malah saya lebih sering ditolak daripada diterima. Meski begitu, saya pernah bekerja di beberapa perusahaan besar, seperti IBM dan di industri Oil & Gas. Saya juga dulu internship di Australia lewat program kampus. Perjalanan karier itu membuat saya banyak belajar tentang mendirikan perusahaan. Tapi jujur, cari pekerjaan dengan keadaan saya ini memang susah sekali. Namun, lewat pekerjaan-pekerjaan dan berbagai penolakan tersebut, saya merasa mendapatkan banyak pengalaman.
Untuk Thisable Enterprise sendiri awal mulanya karena dulu di industri migas saya sempat merasa down dan kebingungan, kemudian dosen saya tiba-tiba bilang: ‘Angkie, kalau kamu merasa kesulitan mencari kesempatan, mengapa tidak membuat kesempatan saja?’
ADVERTISEMENT
Saya pun bingung, jadi maksudnya saya harus bagaimana? Saat itu saya masih berusia 23 tahun. Akhirnya kepikiran untuk mendirikan Thisable, tapi ya tetap masih buram.
Angkie Yudistia bersama teman-teman disabilitas Thisable Enterprise. Foto: Instagram @Thisable.id
Pada waktu itu, saya juga belum menemukan benchmark-nya (nilai standar dan perbandingan) untuk memulai dari mana. Tapi ya saya mau mencoba, saya sadar saya masih minim pengalaman. Sehingga akhirnya saya banyak belajar, ikut coaching, belajar tentang struktur perusahaan, organisasi, marketing, how to handle client, dan lainnya.
Jatuh bangun ya pasti, tapi pengalaman bisa membuat kita belajar. Kalau bisa disebut, di lima tahun pertama, saya banyak gagalnya dibanding untungnya. Buang-buang uang, orang pun sulit percaya. Orang terdekat pun banyak yang mematahkan mimpi saya dengan memberikan saran untuk berhenti saja dan cari pekerjaan yang pasti. Tapi sayang nggak sih, kalau kita berhenti terhadap sesuatu yang sudah kita mulai?
ADVERTISEMENT
Lalu momen apa yang membuat Anda akhirnya bertekad untuk tetap berjuang dan mempertahankan Thisable Enterprise?
Saya orangnya penasaran dan selalu percaya, bahwa saya harus tetap maju. Di media sosial saya ramai sekali teman-teman disabilitas yang meminta bantuan berupa semangat dan saran. Jadi ya saya harus berusaha. Thisable terus berjalan ini karena kita berupaya untuk selalu mendengarkan kebutuhan disabilitas itu sendiri.
Setelah lima tahun berjalan, Thisable pun bekerjasama dengan Go-Life dari GOJEK. Ini pun bukan hal yang mudah. Tapi saya tegaskan, kalau kita tidak coba, kita tidak akan tahu. Dan keajaibannya, setelah kerjasama antara Thisable dan Go-Life dicoba, cerita mitra difabel di Go-Life pun menjadi viral. Customer pun merasa bahagia dengan approach yang kami lakukan untuk memberikan kesempatan kerja pada para disabilitas. Dari situ, Thisable Enterprise semakin berkembang. Dan kini, kita jadi employment service company seperti sourcing, hunter, kemitraan, dan lain-lain.
Angkie Yudistia bersama teman-teman disabilitas Thisable Enterprise. Foto: Instagram @angkie.yudistia
Kalau boleh kilas balik, yang tadinya perusahaan kami sudah gagal, kini kami punya 3800 database disabilitas yang selalu kami training dan salurkan ke beberapa perusahaan untuk bekerja. Tadinya kami yang selalu ‘ketok-ketok’ client dan investor, sekarang mereka yang berdatangan. Mengapa? Karena kami punya sebuah pola yang diperlukan bagi disabilitas, tapi tidak mengganggu sistem perusahaan. Mulai dari pola treatment, assessment, hingga training. Saya hire orang-orang ahli, mulai dari HR dan psikolog, karena saya paham, orang-orang disabilitas ini ketika mendapatkan perlakuan yang baik, mereka akan sangat loyal. Dari berbagai kegagalan tersebut, saya banyak belajar sekali.
ADVERTISEMENT
Apa tantangan yang Anda temui sebagai seorang pemimpin perempuan disabilitas?
Perempuan disabilitas, itu sudah kebayang mungkin challenge-nya akan seperti apa. Contohnya, di saat kita sedang meeting, baik dengan investor, stakeholder, dan client, mereka semua isinya mostly laki-laki. Gimana coba pandangan mereka melihat perempuan yang berdiri, terus disabilitas pula. Nggak perlu berkata-kata, dari tatapan mata mereka saja sudah kelihatan.
Awal-awal kalau dibilang apakah banyak yang meragukan saya, ya pasti. Karena kita dulu tidak ada benchmark-nya, jadi banyak orang yg meragukan tolak ukur kesuksesannya dari siapa? Bagaimana? Jangankan investor, sponsor-sponsor juga pernah ikut meragukan.

Patah semangat pasti banget, semua orang tahu ketika kita membangun sesuatu untuk melewati 5 tahun pertama itu sudah bagai perang dan seolah tersesat di hutan belantara.

ADVERTISEMENT
Apakah lingkungan sosial di Indonesia sekarang sudah mendukung perempuan disabilitas dalam bekerja?
Dulu, lingkungan untuk perempuan bekerja, khususnya teman-teman disabilitas itu sangat tidak mendukung sekali. Namun, sekarang karena sudah tersedia berbagai kesempatan yang bisa ditempuh, semakin banyak pula peluang-peluang pekerjaan untuk disabilitas. Tapi sayangnya, mental block dari perempuan teman-teman disabilitas itu memang masih perlu untuk diperkuat, supaya mereka lebih tangguh untuk menghadapi banyak hal yang terjadi di masa depan.
Sarannya adalah sama seperti program-program Thisable lainnya, kita memang membutuhkan role model. Ketika role model satu sampai lima itu sukses, teman-teman lainnya akan mengikuti. Makanya kita berusaha menjadikan role model ini menjadi bibit yang bisa menginspirasi untuk komunitasnya.
Difable Womanpreneur, Angkie Yudistia. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Apa proyek Anda selanjutnya untuk teman-teman disabilitas ini?
ADVERTISEMENT
Sekarang kita sedang develop sebuah aplikasi. Aplikasi employment service yang bisa diakses teman-teman disabilitas supaya mereka mengetahui minat dan bakat mereka. Perusahaan lain pun juga bisa melihat kapabilitas teman-teman disabilitas untuk mereka rekrut. Karena selama ini, teman-teman disabilitas itu nggak tahu harus kemana. Kami sangat percaya bahwa 20 juta orang disabilitas di Indonesia ini, akan memiliki wadah lewat Thisable Enterprise.
Saya juga mau meluncurkan buku ketiga saya. Sebenarnya buku ini sudah selesai dan tinggal publish saja. Cuma tunggu momentum dulu, ini kan masih panas pemilu, jadi biarkan cooling down dan istirahat dulu.
Boleh diceritakan kisah beberapa teman disabilitas yang kini sukses lewat bantuan Thisable Enterprise?
Ada satu teman tunanetra, yang jadi pemijat di Go-Massage, dan sekarang dia sudah bisa beli rumah sendiri. Dia nggak bisa melihat, dan selalu pakai tongkat. Lewat teknologi, dia bisa mendapat orderan, memahami peta lewat suara, dan lainnya. Dan masih banyak lagi cerita-cerita keren lainnya kami unggah di Instagram thisable.id.
ADVERTISEMENT
Sebagai pemimpin perempuan, tentunya Anda memiliki waktu yang padat. Bagaimana meluangkan waktu luang untuk ‘me-time’ dengan kegiatan yang bisa meredakan stres?
Mengurus anak, serius. Anak saya yang paling besar itu umur empat tahun, dan yang kedua tujuh bulan. Sebagai working mom, kita nggak bisa 24 jam bersama anak. Saat kita bekerja, kita harus bisa mempercayakan anak kepada support system sekitar, seperti orang tua, mertua, kakak ipar, bahkan mbak di rumah. Tapi ketika weekend, saya akan suruh asisten rumah tangga untuk libur, karena semua waktu weekend ingin saya pakai quality time bersama anak dan keluarga. Meski capek ya, terkadang maunya tidur dan istirahat. Tapi ya namanya quality time, itu nggak ternilai harganya.
Difable Womanpreneur, Angkie Yudistia. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Siapa support system terbesar Anda saat ini?
ADVERTISEMENT
Kalau dulu orang tua, sekarang suami. Karena tanpa dukungan suami, saya nggak akan bisa di tahap seperti hari ini. Dia mengerti jam kerja saya, dia tahu semuanya mulai dari tanggung jawab, pressure, suka dan duka, dia support banyak hal. Dia percaya bahwa saya akan percaya juga dengan dia.
Apa momen paling membanggakan dalam hidup Anda?
Hal yang paling membuat saya bangga adalah ketika harus berdiri memimpin ratusan teman-teman disabilitas dengan tujuan yang sama, untuk memajukan ekonomi mereka. Kami sama-sama takut terhadap hal yang akan terjadi di depan, tapi kami saling percaya bahwa kami harus terus mencoba. Jadi ini memang momen yang membanggakan sekali ketika melihat teman-teman berjuang meraih tujuan dan mimpi mereka.
ADVERTISEMENT
Disability leader, siapa sih yang mau percaya? Mungkin dalam penampilan luar, orang-orang di luar sana akan menganggap saya keren. Tapi di dalam hatinya, belum tentu mereka seratus persen percaya atas apa yang saya lakukan. Saya pun selalu bilang kepada tim, bahwa saya tidak bisa memprediksi apa yang ada di depannya. Tapi kalau kalian mau mengarungi ini suka dan duka bersama, ayo kita jalani bersama. Jika kalian mau kerja asik yang jalan-jalan, sorry to say, bukan di sini tempatnya.
Pesan untuk teman-teman difabel di luar sana untuk meraih mimpi dari Angkie Yudistia?
Tetap konsisten dan jangan melupakan benang merah tujuan utama awal untuk meraih mimpi tersebut. Karena banyak orang, ketika menjalani suatu proses jadinya PaLuGaDa, Apa yang Lu Mau Gue Ada. Ingat mimpi apa yang mau dicapai, sesulit-sulitnya proses dan jalan, pasti ada waktu yang tepat untuk menggapainya.
ADVERTISEMENT
Membutuhkan waktu delapan tahun untuk saya mewujudkan mimpi lewat Thisable Enterprise itu. Di awal pembentukannya saya harus terus memutar uang pribadi hanya untuk memaksimalkan sistem dan membayar pekerja. Perhiasan saya jual, gaya hidup saya turunkan, dan banyak bersabar. Semua itu proses dan pasti ada jalan keluarnya. Dengan kegigihan, pasti ada titik balik yang bisa membuat kita bahagia dengan segala pencapaian.
Video
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·