Pencarian populer

Tertarik Lakukan Thread-Lift? Ini Hal yang Harus Diperhatikan

Thread-lift (Foto: Thinkstock)
Prosedur kecantikan thread-lift, bukanlah nama yang asing lagi di dunia kecantikan. Prosedur ini juga sangat umum disebut sebagai ‘tanam benang’. Meski demikian, istilah tanam benang sendiri bukanlah bahasa yang umum disebut di kalangan para dokter.
ADVERTISEMENT
“Saya luruskan saja, dengan nama thread-lift. Di luar sana pasti banyak sekali istilahnya, tapi kami di sini konteksnya kerucut menjadi thread-lift,” papar dr. Irena Sakura Rini ,SpBP(K) RE., saat ditemui kumparanSTYLE (kumparan.com) di peluncuran Happy Lift di Renaissance Uluwatu Resort & Spa, Bali, beberapa waktu lalu.
Dalam penjelasan dr. Irena, thread-lift adalah satu komponen kedokteran untuk memperbaiki kontur wajah dan kulit yang menggunakan material atau bahan medis tetapi dengan cara tidak dibuka kulitnya.
Thread-lift dipercaya mampu memperbaiki bentuk wajah sehingga dapat terlihat lebih muda dari usia yang sebenarnya,” tambah dr. Irena, yang juga Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Indonesia (PERAPI).
Ilustrasi wajah perempuan (Foto: dok.Thinkstock)
Namun, terdapat kesalahan persepsi thread-lift ini. Ada hal yang harus diperhatikan bagi para calon pasien terlebih dahulu. Salah satunya, adalah kondusi kulit. Calon pasien harus memahami bahwa kualitas kulit di umur 20 tahun dan 40 tahun sangatlah berbeda. Sehingga, tak serta merta dengan thread-lift, kulit seketika menjadi muda.
ADVERTISEMENT
“Kulit yang sudah bergelambir, volumenya juga menghilang. Nah, banyak orang berpikir, dengan ditaruhnya benang, maka volume yang hilang tadi bisa diganti,” jelasnya.
Meski tak melalui prosedur potong (bedah), pemotongan panjang, dan membuka kulit, thread-lift tetaplah suatu tindakan medis yang memiliki risiko.
Alasannya, karena proses tersebut menggunakan jarum. Di dalam wajah juga terdiri dari berbagai lapisan. Mulai dari kulit, saraf, dan tulang. Para calon pasien juga harus memahami bahwa thread-lift harus dilakukan oleh dokter yang komponen, bukan kursus.
“Jadi ini bukan sekadar menanam suatu benang. Ini tindakan yang juga memiliki cukup risiko. Praktek ini harus university-based. Jadi nggak bisa asal kursus. Ini tetap membutuhkan keahlian dan pengetahuan tambahan. Jadi harus dokter,” tegas dr. Irena.
Ilustrasi perawatan wajah (Foto: dok. Thinkstock)
dr. Lilik Norawati Sp.KK, FINSDV, FAADV, pun mengungkapkan hal serupa. Pada prosesnya diperlukan kehati-hatian yang sangat cermat, karena ini melibatkan penggunaan jarum.
ADVERTISEMENT
“Dokter yang baik akan memberikan konsultasi yang cermat. Hasil laboratorium ada, harus diperiksa. Siapa tau dia ada infeksi atau alergi, jadi semuanya harus jelas,” papar dr. Nora di acara yang sama.
Ia juga menambahkan, dokter yang baik akan berani untuk mempertanggungjawabkan segala risiko yang didapatkan. Mulai dari komplikasi, kegagalan, dan lainnya. Tak serta merta melakukan prosedur, namun pergi saat terjadi kesalahan.
“Pasien harus cerdas untuk bertanya. Saya pesan, ini tidak ada jaminan, karena prosedur ini juga ada risiko,” tutup dr. Nora.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.85