kumparan
26 Mei 2018 11:33 WIB

Transformasi Gaya Busana Perempuan Iran, Sebelum & Sesudah Revolusi

Perempuan Iran (cover) (Foto: dok.Twitter @JewelyTAH)
Di akhir penghujung tahun 2017, tercatat seorang perempuan bernama Viva Mohaved (31) ditangkap pemerintah Iran karena aksi melepas jilbab.
ADVERTISEMENT
Ia berdiri di atas satu pilar di pinggir sebuah jalan yang sibuk di Teheran bersama demonstran lainnya saat menentang pemerintahan Presiden Hassan Rouhani.
Fotonya yang mengibarkan kerudung putih di ujung sebuah tongkat kemudian menyebar ke seluruh dunia.
Aksi perempuan Iran lepas kerudung (Foto: Twitter @NegarMortazavi)
Aksi unjuk rasa antipemerintah yang melanda beberapa kota di Iran pada akhir tahun lalu dipicu oleh kenaikan harga kebutuhan pokok sehari-hari sebelum berkembang menjadi ungkapan kemarahan pada pemerintah.
Selain Mohaved, perempuan bernama Narges Hosseini juga diciduk aparat pada akhir Januari 2018 karena melakukan aksi serupa sebelum akhirnya dilepas dengan jaminan sekitar Rp 1,3 miliar. Mohaved sendiri dibebaskan pada 26 Januari 2018.
Penangkapan Mohaved dan Hosseini seketika memicu protes dari kalangan perempuan Iran. Mereka lantas melakukan aksi solidaritas dengan turun ke jalanan ibukota Teheran. Mereka berfoto tanpa jilbab dan mengunggahnya ke media sosial disertai tagar “Gadis Jalan Enghelab," yang merujuk pada jalan tempat Mohaved beraksi.
ADVERTISEMENT
Merespons hal tersebut, tak lama tagar #RabuPutih di media sosial merebak. Menjadi wujud solidaritas dan penggalangan dukungan terhadap aksi tersebut. Melansir CBC kampanye tersebut diprakarsai Masih Alinejad, jurnalis VOA asal Iran yang kini di New York. Tujuan kampanye Alinejad berupaya mengajak perempuan Iran untuk "mengunggah foto mereka dan membicarakannya di publik."
Perlu diingat sejak Revolusi Islam di Iran (1979) gerak perempuan di muka publik kian terbatas.
Aksi dari Mohaved, Hosseini dan kampanye yang beredar di media sosial tersebut setidaknya menunjukkan satu hal, yakni respon keengganan perempuan Iran yang diatur wilayah privatnya dalam hal ini adalah kebebasan berekspresi (berbusana) oleh pemerintah.
Alhasil gelombang protes perempuan Iran mengenai aturan busana di negaranya pun kian bergulir. Para perempuan kerap menolak jika persoalan pakaian mereka diatur.
ADVERTISEMENT
Salah satunya soal jilbab. Hal tersebut diperkuat dengan hasil riset dari Pusat Studi Strategis Iran, pada 2006, yang mengungkapkan bahwa 34 persen warga Iran beranggapan pemerintah tidak boleh diizinkan mengatur apa yang harus dipakai perempuan. Di 2014 persentase penolakan tersebut meningkat hingga 49 persen.
Namun, jika ditelisik lebih jauh riwayat aturan berbusana bagi perempuan Iran memiliki catatan sejarah yang cukup panjang.
Mari kita tarik beberapa dekade ke belakang.
Perempuan Iran di Pemerintahan Reza Shah Pahlavi
Pada awal tahun 1900-an perempuan Iran memakai pakaian konservatif dengan jilbab putih. Tanpa riasan di wajah, dan alis yang natural telah menjadi standar kecantikan perempuan Iran kala itu.
Dikutip dari The Vintage News saat itu perempuan yang tidak memakai jilbab dianggap sebagai orang miskin, kampungan dan nomaden.
Perempuan Iran tahun 1900 (Foto: dok.wikimedia commons)
Memasuki tahun 1920-an, di era kepemimpinan Reza Shah Pahlavi (1925 - 1941), berbeda dengan masa sebelumnya, perempuan Iran dilarang mengenakan jilbab apalagi cadar. Warga Iran diharuskan mengenakan seragam, jas dan topi seperti orang Eropa. Bahkan di tahun 1935 terbit aturan resmi larangan berjilbab yang berlaku di semua provinsi di Iran. Bukan tanpa alasan Rezim Pahlevi mencanangkan larangan tersebut. Ia percaya bahwa melarang penggunaan jilbab dapat membawa Iran maju secara ekonomi dan sosial serta tidak tertinggal dari modernitas Eropa. Bahkan Rezim Pahlavi beranggapan bahwa penggunaan jilbab hanya membatasi kebebasan perempuan dalam berekspresi.
Mohammed Reza Pahlavi dan Farah Diba. (Foto: AFP)
Hal ini menjadi langkah besar bagi perempuan Iran dalam menegakkan hak-hak mereka dan berekspresi tentunya. Meskipun tidak semua perempuan Iran menyambut positif hal tersebut.
ADVERTISEMENT
Tak heran, penghakiman atas perempuan Iran yang mengenakan jilbab saat rezim Pahlavi pun merebak. Kukuhnya Rezim Pahlavi membentuk perempuan Iran yang bergaya kebarat-baratan makin diperkuat dengan menampilkan sosok Ratu Farah Pahlavi sebagai standar perempuan Iran yang sempurna. Queen Farah kerap tampil dalam balutan dress dengan rambut disanggul ke atas dan pakaian yang stylish kala itu. Queen Farah juga terkenal menjadi special client para desainer-desainer rumah mode di Paris
Queen Farah 1972. (Foto: Facebook/Vintage Persia)
Jika mengamati majalah di tahun 1970-an perempuan di Iran memiliki gaya busana layaknya bintang Hollywood. Para perempuan Iran tak ragu berbusana kasual lengkap dengan riasan wajah dan rambut yang ditata ala bintang Hollywood yang gemerlap.
Iranian Fashion. (Foto: Facebook/Vintage Persia)
Bahkan mereka tidak segan mengenakan busana yang cukup terbuka dengan warna-warna yang mencolok.
Perempuan Iran 1970 (Foto: dok.istimewa)
Saat itu perempuan Iran mendapatkan kebebasan dalam berekspresi. Farrokhroo Parsa pun menjadi perempuan pertama yang diangkat ke kabinet sebagai Menteri Pendidikan. Tak hanya itu, perempuan Iran juga memiliki hak yang setara dalam pernikahan dan perceraian.
ADVERTISEMENT
Pada masa-masa tersebut muncul dikotomi yang merebak di kalangan masyarakat. Perempuan Iran yang bergaya busana barat direfleksikan sebagai kalangan menengah atas yang berpendidikan dan lebih maju, sementara kelompok perempuan yang memilih mengenakan hijab dianggap sebagai bagian kelas menengah bawah.
Perempuan Iran (Foto: dok.Twitter @JewelyTAH)
Namun, di tengah anggapan atas perempuan Iran yang berhijab adalah kelas menengah bawah dan tidak berpendidikan, masih banyak perempuan Iran kala itu yang memakainya dengan bangga.
Kuasa Rezim Pahlavi yang melarang jilbab di kalangan perempuan Iran juga sempat mendapat kecaman dari kalangan ulama Iran. Namun, rezim tersebut membungkam para ulama dengan membuang mereka ke pengasingan.
Pergolakan di Iran pun terjadi yang akhirnya memicu lahirnya Revolusi Iran. Revolusi ini merupakan reaksi dari kebijakan penguasa rezim Pahlavi yang bertindak diktator, dan sangat berorientasi pada negara-negara Barat. Rezim Pahlavi banyak membuat kebijakan yang memojokkan posisi ulama di Iran.
ADVERTISEMENT
Akibatnya, ulama perlahan-lahan menghimpun kekuatan dari berbagai lapisan masyarakat untuk mewujudkan perubahan. Tertanggal sejak 11 Februari 1979 menjadi momentum pengambilalihan kekuasaan oleh Ayatollah Khamenei dan kemudian mengubah sistem pemerintahan Iran.
Perempuan Iran di Pemerintahan Ayatollah Khamenei
Alhasil di tahun 1979, aturan mengenakan jilbab pun dibuat kembali. Terbalik dari peraturan sebelumnnya, setiap perempuan Iran bahkan diwajibkan untuk menutupi sebagian besar tubuh mereka kecuali bagian wajah dan tangan. Jilbab yang dipakai harus terdiri dari kain yang menutup kepala, baju yang panjangnya harus menutup bokong, dan celana harus panjang. Banyak perempuan Iran yang melengkapinya dengan chador, yakni kain lebar yang jika diselubungkan bisa menutup seluruh tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki. Chador biasanya berwarna hitam, tapi tidak wajib. Sungguh berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan rezim sebelumnya.
Perempuan Iran mengenakan chador (Foto: dok.wikimedia commons)
Bahkan setelah revolusi, marak anggapan yang menggambarkan perempuan yang tidak berjilbab sama seperti orang yang telanjang. Hal ini pun mendapat kecaman dari kalangan perempuan Iran. Memasuki 1983, parlemen Iran menegaskan bagi perempuan yang tampil tanpa jilbab di muka umum akan dihukum dengan 74 cambukan. Tak sedikit warga Iran yang meninggalkan negara mereka karena tidak tahan hidup di bawah aturan pemerintahan Ali Khamenei. Salah satunya adalah Marjane Satrapi, penulis buku terkenal berjudul Persepolis.
Buku Persepolis (Foto: dok.Instagram @market_mah)
Perempuan Iran di Abad ke-21
ADVERTISEMENT
Memasuki abad ke-21 kondisi sosial dan politik di Iran kembali bergejolak. Pemilihan Presiden pada 2009 menjadi momentum bangkitnya perlawanan terhadap rezim.
Pilpres tersebut menghabiskan periode kedua kepemimpinan Ahmadinejad yang dianggap oleh tiga kandidat oposisi dipenuhi kecurangan. Alhasil demonstrasi pun muncul di jalanan Teheran. Para demonstran menggunakan pita hijau sebagai simbol, sehingga gerakan perlawanan terhadap Pilpres 2009 ini disebut sebagai Revolusi Hijau.
Kini pengganti Ahmadinejad, Hassan Rouhani, biarpun masih berasal dari kelompok konservatif, memperlihatkan corak pemerintahan yang lebih moderat.
Perubahan mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam gaya hidup anak-anak muda Iran. Salah satu yang menonjol adalah kalangan perempuan muda.
Perempuan Iran (Foto: Reuters)
Terkait ketatnya aturan berpakaian, perempuan Iran kerap melakukan pembangkangan. Misalnya kerudung yang dikenakan menutupi setengah kepala sehingga memperlihatkan helaian rambut. Dan untuk sebagian orang memakai jilbab seminimal mungkin merupakan suatu bentuk protes terhadap keharusan memakainya.
ADVERTISEMENT
Namun, dapat kita lihat, bahwa apapun rezim yang berkuasa di Iran, selalu ada peraturan yang menentang kebebasan gaya berpakaian perempuan. Terlepas dari baik maupun buruk, serangan terhadap perempuan yang menolak berjilbab tak ada bedanya dengan memaksa perempuan menanggalkan jilbabnya seperti yang dilakukan rezim Pahlavi.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·