Pencarian populer

Tulisan Tangan yang Kian Musnah

Ilustrasi surat perkamen tua. (Foto: Flikr/Dominik Bartsch)

Kapan terakhir kali anda menulis di atas kertas menggunakan pena atau pensil? Bukan mengetik di papan ketik komputer atau layar sentuh smartphone. Sudah cukup lamakah? Apa iya tulisan tangan akan benar-benar tidak lagi dibutuhkan di masa depan?

Faktanya, saat ini penggunaan tulisan tangan terus terpinggirkan. Perangkat tulis digital seperti komputer, tablet, atau handphone semakin menggantikan tulisan tangan. Menjadikannya kurang penting daripada pada masa-masa sebelumnya.

Beberapa orang mungkin masih sering menulis catatan-catatan singkat, seperti daftar belanja atau catatan singkat pekerjaan di lembar post-it. Tapi menulis panjang dengan tulisan tangan sudah jarang dilakukan.

Semisal, menulis surat kepada teman jauh lebih mudah dilakukan via surat elektronik atau email. Menulis kisah sehari-hari seperti yang dulu dilakukan di buku harian, kini juga lebih banyak dilakukan di komputer--dan bisa langsung diunggah ke blog.

Semua itu perlahan membuat seni menulis tangan kian berkurang, terlepas dari sentuhan personal yang ada pada tulisan tangan, yang mungkin sulit tergantikan oleh lembar-lembar kertas hasil ketikan.

Mesin ketik (Foto: Pixabay)

Di Indonesia, tulis tangan menjadi salah satu pelajaran paling pertama yang didapat siswa saat memulai sekolah dasar. Siswa juga diajari menulis tegak bersambung, mengukir huruf per huruf dengan indah, dan menyambungnya menjadi kalimat.

Namun pelajaran menulis indah tegak bersambung perlahan pun tak lagi menjadi prioritas untuk diajarkan kepada siswa. Pada tahun berikutnya, murid dibebaskan untuk menulis atau tidak menulis dengan huruf bersambung.

Beberapa negara bagian di Amerika Serikat pun menyetujui pedoman kurikulum nasional 2014 untuk tidak mencantumkan pelajaran tulisan tangan tegak bersambung.

Untuk menggantikan menulis tangan, siswa diizinkan mencatat di notebook, laptop, atau gadget lain. Sejak 2013, anak-anak Amerika bahkan harus belajar menggunakan keyboard untuk menggantikan pelajaran menulis bersambung.

Sementara sejumlah negara bagian AS lainnya menyerahkan kepada masing-masing sekolah untuk memutuskan apakah tulisan tangan masih perlu diajarkan atau tidak, dan sisanya memutuskan untuk tetap mewajibkan pelajaran tulisan tangan.

Keputusan tersebut disetujui oleh banyak kalangan, terutama pada bagian menghilangkan pelajaran tulis bersambung.

Opini editorial The Los Angeles Times September 2013 misalnya menyatakan, “Negara dan sekolah seharusnya tidak berpegang teguh pada gagasan romantis bahwa (menulis tangan) itu tradisi, bentuk seni atau keterampilan dasar yang jika lenyap akan menjadi tragedi budaya. Tentu saja, semua orang tetap harus bisa menulis tanpa komputer.”

Bahkan di Finlandia, mulai musim gugur tahun 2016, tidak perlu lagi belajar tulisan tangan tegak bersambung. Mereka menggantinya dengan pelajaran mengetik. Pemerintah Finlandia pun sedang merevisi peraturan soal belajar menulis tangan biasa.

“Keterampilan mengetik yang lancar adalah kompetensi nasional yang penting,” kata Minna Harmanen dari Dewan Pendidikan Nasional Finlandia.

Menurutnya, peralihan tersebut memang akan menyebabkan perubahan budaya. Mengetik akan lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi tulisan tangan bersambung (Foto: Flickr/BookMama)

Sejak tulisan pertama kali ditemukan di Mesopotamia sekitar tahun 4.000 Sebelum Masehi, teknologi berkembang pesat. Alat dan media yang digunakan untuk menulis telah beberapa kali berubah seiring terus inovasi yang terus melaju.

Dari lempeng Sumeria sampai alfabet Fenisia pada milenium pertama SM; dari penemuan kertas di China sampai 1.000 tahun kemudian ke naskah kuno pertama; dari penemuan percetakan pada abad ke-15 hingga munculnya pulpen di tahun 1940-an. Dan tentu saja, dari pena ke keyboard kini.

Esduard Gentaz, profesor psikologi perkembangan di Universitas Jenewa, Swiss, mengatakan pulpen dan keyboard melalui proses kognitif yang benar-benar berbeda.

“Tulisan tangan merupakan tugas kompleks yang memerlukan beberapa kemampuan--merasakan pulpen dan kertas, menggerakkan pulpen membentuk huruf, dan mengarahkan gerakan dengan pikiran,” kata Gentaz seperti dilansir The Guardian (16/12/2014).

Dalam menulis, ujar Gentaz, diperlukan cara untuk memegang alat tulis dengan benar, menggerakkannya sedemikian rupa hingga meninggalkan guratan berbeda di setiap hurufnya.

“Mengoperasikan keyboard sama sekali tidak demikian. Yang harus anda lakukan adalah menekan tombol kanan. Cukup mudah bagi anak untuk belajar dengan sangat cepat. Semua gerakannya persis sama apapun hurufnya,” kata dia.

Ilustrasi mengetik di laptop. (Foto: Pexels)

Masa depan tulisan tangan terus dibahas dan diperdebatkan. Dalam tulisan berjudul The History and Uncertain Future of Handwriting, Anne Trubek berpendapat bahwa penyusutan dan bahkan penghapusan tulisan tangan dari kehidupan sehari-hari tidak menandakan penurunan peradaban, melainkan beranjak ke tahap berikutnya.

Dia percaya, siswa belajar lebih cepat dengan keyboard daripada dengan tulisan tangan. Mereka belajar bagaimana mengetik tanpa melihat huruf di keyboard, dan mengetik jauh lebih cepat daripada menulis.

“Ini bukan karena kita menginginkan segalanya lebih cepat di masa serbacepat ini, tapi untuk alasan sebaliknya: kita ingin memiliki banyak waktu untuk berpikir,” ujar Trubek.

Tulisan tangan John Hancock (Foto: Wikimedia Commons)

Tak ada data yang bisa mendeskripsikan dengan tepat berapa banyak penggunaan tulisan tangan menurun. Namun, survei Docmail Juni 2014 di Inggris terhadap 2.000 orang responden memberi beberapa gagasan tentang tingkat penurunan tulisan tangan.

Satu dari tiga responden tidak menulis apapun dengan tangan selama enam bulan terakhir. Rata-rata mereka belum mengguratkan pena ke atas kertas dalam 41 hari terakhir.

Dua per tiga dari 2.000 responden mengatakan, mereka masih menorehkan sesuatu dengan tangan, tapi hanya berupa coretan singkat.

Lebih dari separuh responden dalam penelitian tersebut mengakui bahwa tulisan tangan mereka telah mengalami penurunan dari waktu ke waktu, dan satu dari tujuh orang mengatakan merasa malu dengan kualitas tulisan tangan mereka.

Tulisan tangan mungkin tidak akan hilang begitu saja dengan cepat. Tapi tulisan itu mungkin tak akan seindah goresan tangan John Hancock, Gubernur Massachusetts ketiga yang termasyur dengan tanda tangannya yang indah.

===================

Simak ulasan mendalam lainnya dengan mengikuti topik Outline!

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.33