kumparan
15 Feb 2018 20:22 WIB

Ambisi Marlin Booking Menjadi 'Go-Jek' di Transportasi Laut

Tim Marlin Booking (Foto: Aditya Panji/kumparan)
Digitalisasi transportasi di Indonesia sudah dibangun pada sektor darat dan udara. Tetapi di sektor transportasi laut, banyak yang bilang ini masih serba manual dan ribet.
ADVERTISEMENT
Kenyataan ini kemudian dilihat sebagai sebuah peluang bisnis oleh startup Marlin Booking asal Batam. Mereka berambisi untuk melakukan digitalisasi pelabuhan di Indonesia dan menjadi Go-Jek dalam bisnis transportasi laut.
Ide mendirikan solusi digital untuk transportasi laut bermula dari seorang pemuda kelahiran 1990 bernama Dede Saputra. Suatu hari, Dede pergi ke Singapura dari Batam dengan kapal feri, dan di sana ia merasa proses pembelian tiket, check-in, dan sampai penumpang masuk ke dalam kapal, semuanya masih super ribet. Pengalaman ini membuat Dede punya mimpi untuk membangun sistem digital guna memudahkan publik mengatasi masalah transportasi laut.
Dari sini Dede menemui temannya, Ali Sadikin, untuk bersama membangun sistem solusi transportasi laut, karena Ali dinilainya mahir di bidang pemrograman peranti lunak.
ADVERTISEMENT
Ali sebelumnya telah hidup mapan di Singapura dengan gaji tinggi. Dia pernah kerja sebagai pemrogram di DHL, Gemalto, dan terakhir di perusahaan Marine and Port Authority of Singapore.
Tinggalkan Singapura, Kembali ke Indonesia
Ali dibuat galau oleh tawaran Dede. Ada pikiran ia tak mau selamanya bekerja untuk uang. Ia ingin sesuatu yang lebih berarti dan memberi kontribusi untuk Tanah Air.
Setelah berpikir berkali-kali, dia akhirnya menerima tawaran untuk membangun solusi transportasi laut Indonesia. Pria kelahiran 1985 ini rela meninggalkan pekerjaan di Singapura dan mulai membangun Marlin Booking bersama Dede sejak Oktober 2016.
"Ada panggilan hati bahwa saya hidup bukan untuk uang. Saya balik ke Indonesia ingin memberi kontribusi untuk bangsa. Orang rumah bilang saya sudah gila. Tapi saya bilang, hanya orang 'gila' yang akan membuat perubahan," kata Ali.
Marlin Booking. (Foto: Marlin Booking.)
Aksi "gila" yang dilakukan oleh Ali dan kawan-kawan itu memberi hasil cukup manis. Marlin Booking menjadi startup yang bergerak cepat mengatasi sejumlah masalah transportasi laut dan menorehkan sejumlah prestasi gemilang walau baru seumur jagung.
ADVERTISEMENT
Salah satu prestasi yang diraih adalah menjadi salah satu dari empat pemenang Telkomsel The NextDev Competition 2017 karena dinilai memberi dampak sosial dan dapat menyelesaikan masalah publik. Dari tanggal 11 hingga 20 Februari 2018 ini, para pendiri Marlin Booking dibawa oleh Telkomsel ke Silicon Valley untuk belajar mengembangkan produk dan skala bisnis dengan cara menghadiri Startup Grind Global Conference 2018 dan berkunjung ke kantor pemain besar bisnis e-transportation seperti Uber serta Waze.
Para pendiri startup pemenang The NextDev 2017. (Foto: Aditya Panji/kumparan)
Membangun Aplikasi B2B dan B2C
Dari ide awal hingga menjadi aplikasi Marlin Booking versi beta, Ali membutuhkan waktu sebulan untuk menyusun kode-kode pemrograman, dan kemudian versi publik Marlin Booking dirilis pada Januari 2017 dengan rute Batam-Singapura dan Batam-Johor, Malaysia.
ADVERTISEMENT
Jika ingin melakukan digitalisasi pelabuhan di Indonesia, Marlin Booking tahu bahwa ini tidak bisa hanya dilakukan dengan bikin aplikasi business to consumer (B2C), tetapi juga harus ada aplikasi business to business (B2B) yang bisa dipakai oleh mitra penyedia kapal feri. Karena, sebagian besar pelabuhan dan perusahaan penyedia kapal feri di Indonesia, belum melakukan digitalisasi dalam operasional layanan.
"Kami ingin mendigitalisasi pelabuhan di Indonesia. Ini terdengar tidak mungkin kalau hanya menjual tiket. Mendigitalisasi pelabuhan itu harus dari proses beli tiket, check-in, sampai konsumen masuk ke kapalnya. Itu harus digital semua. Ini baru namanya baru mendigitalisasi dan menjadikan standar pelabuhan seperti standar bandara," tutur Ali.
Apa yang ditawarkan Marlin Booking ini adalah solusi end-to-end dari sisi konsumen, dan dari sisi mitra penyedia kapal feri yang memakai application program interface (API). Sejauh ini, sudah ada 15 perusahaan penyedia kapal feri yang bermitra dengan Marlin Booking.
ADVERTISEMENT
Dari yang semula hanya menyediakan rute kapal feri dari Batam ke Singapura dan dari Batam ke Johor, Marlin Booking melakukan ekspansi besar di awal 2018 ini untuk membuka rute-rute baru.
Rute baru itu antara lain Bali-Lombok, Bali-Gili, Lampung-Jakarta, Surabaya-Balikpapan, Bintan-Singapura, Tanjung Pinang-Singapura, dan Jakarta-Kepulauan Seribu.
"Rute-rute ini sudah mencakup 90 persen transportasi laut dengan kapal feri di Indonesia." tukas Dede.
Deretan pemenang The NextDev 2017 di San Fransisco (Foto: Aditya Panji/kumparan)
Untuk memperkuat jalur penjualan tiket ke konsumen, Marlin Booking telah bermitra pula dengan sejumlah perusahaan, antara lain PayTren, LiteBig Messenger, sampai dengan MCash. Para pendiri startup ini berharap pemerintah bisa membuka diri sebesar mungkin agar mendukung langkah Marlin Booking dalam melakukan digitalisasi dan pada akhirnya nanti, memudahkan para pengguna transportasi laut.
ADVERTISEMENT
Di masa depan, Marlin Booking akan lebih agresif lagi dalam menjalankan bisninya, dan oleh karena itu mereka bakal membuka pendanaan seri A di pertangahan tahun 2018 ini setelah mereka menerima seed funding pada tahun 2017 kemarin.
Pendanaan ini dibutuhkan guna meningkatkan skala bisnis Marlin Booking ke tahap selanjutnya, serta memfasilitasi seluruh pembelian tiket kapal feri di Indonesia.
"Jika orang bicara transportasi udara, orang akan ingat Traveloka. Untuk transportasi darat, orang ingat Go-Jek. Tapi untuk transportasi laut, kami mau semua orang ingat Marlin Booking," tutup Ali.
Startup Marlin Booking. (Foto: Lidwina Win Hadi/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan