Pencarian populer

Art Processors, Merevolusi Museum Lewat Sentuhan Digital

Bangunan Museum of Old and New Art (MONA) di Tasmania, Australia. (Foto: Dok. mona.net.au)

Buang jauh-jauh gagasan usang yang terlintas di kepala saat berbincang tentang museum. Museum―yang secara literal bermakna “tempat menyimpan barang kuno atau yang patut mendapat perhatian umum”―tak harus tampil arkais dan tampak kuno.

Sebaliknya, ia bisa hadir dalam wujud amat modern―berbalut teknologi digital canggih untuk menyampaikan pesan kepada pengunjung secara maksimal. Dan itulah yang terlihat pada Museum of Old and New Art (MONA) di Hobart, Tasmania, Australia.

Museum yang sebelumnya bernama Moorilla Museum of Antiquities itu berlokasi di area pabrik anggur Moorilla di Semenanjung Berriedale, tepi utara Hobart. Ia menghadap ke laut lepas.

MONA menyimpan koleksi seni kuno, modern, dan kontemporer milik David Dominic Walsh, kolektor seni eksentrik Australia. Karya-karya seni itu mengambil tema sentral seks dan kematian.

Bangunan Museum of Old and New Art (MONA) di Tasmania, Australia, dilihat dari ketinggian. (Foto: Dok. mona.net.au)

Satu hal berbeda yang mencolok di MONA: tidak ada label atau papan nama konvensional―berisi judul dan keterangan tertulis tentang karya seni yang dipamerkan―yang melekat di dinding atau di dekat objek ekshibisi.

MONA yang terdiri dari tiga lantai, bersih dari papan teks. Pengunjung tak perlu berlama-lama menunggu giliran membaca label informasi di depan objek. Tinggal lihat ke ponsel untuk mendapat penjelasan mengenai segala benda yang menjadi koleksi museum.

Ini bukan berarti pengunjung harus mencari tahu lewat mesin pencari Google. Tak perlu “sekuno” itu, karena MONA menyediakan aplikasi mobile khusus bagi pengunjungnya.

Artinya, tak ada pengunjung MONA yang tak membawa ponsel. Pun bila ada, MONA akan meminjamkan perangkatnya. Maka, begitu masuk MONA, pengunjung siap menjelajah dengan ponsel tergenggam.

Pengunjung Museum of Old and New Art (MONA) di Tasmania, Australia, membawa ponsel di tangan yang berisi aplikasi The O. (Foto: Dok. mona.net.au)

Aplikasi “The O” yang dirancang Art Processors―startup digital dan konsultan desain eksperiensial bidang seni―menjadi ujung tombak perubahan revolusioner di MONA.

The O ialah teknologi mobile tour yang dibuat khusus untuk memberikan pengalaman istimewa bagi pengunjung. Ia menerapkan desain spasial yang presisi, serta mengintegrasikan realitas virtual (virtual reality) dan realitas tambahan (augmented reality) dengan koleksi karya seni dan arsitektur MONA.

Arsitektur Museum of Old and New Art (MONA) di Tasmania, Australia. (Foto: Dok. mona.net.au)

Dengan data digital yang tertanam di The O, tak perlu lagi memasang papan keterangan di dinding museum, atau di bawah dan samping objek ekshibisi. Menekan tombol “O” pada aplikasi The O akan memunculkan daftar karya seni yang berada di dekat pengunjung.

Katalog tersebut terpampang di layar ponsel, dan pengunjung tinggal memilih objek mana yang ingin mereka ketahui kisahnya.

Nic Whyte, Delivery Director & Co-Founder Art Processors, tech startup berbasis di Melbourne dengan spesialisasi merancang desain imersif untuk museum. (Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan)

“The O terkoneksi dengan sistem navigasi museum. Pengunjung bisa mengetahui objek di sekitar mereka, memilih yang mereka suka, dan memberikan tanggapan secara real time,” kata Nic Whyte, Co-Founder & Delivery Director Art Processors, kepada sejumlah media Indonesia yang berkunjung ke kantornya di Bedford Street, Collingwood, Melbourne, Selasa (27/11), bersama Kedutaan Besar Australia.

Salah satu koleksi Museum of Old and New Art (MONA) di Tasmania, berjudul “When My Heart Stops Beating” karya Patrick Hall. (Foto: mona.net.au)

The O bukan cuma menyajikan informasi tertulis, tapi juga gambar karya seni terkait secara jelas dan detail. Dengan demikian, pengunjung tak perlu mengantre panjang untuk melihat suatu objek.

Dalam satu ruangan tempat objek itu berada, pengunjung dapat berdiri di sudut mana saja, dan tetap memperoleh keterangan teks dan gambar secara komprehensif.

Selanjutnya, bila pengunjung ingin mendekati objek seni tertentu yang peminatnya membeludak, mereka dapat memesan antrean secara virtual lewat The O, dan akan menerima notifikasi dari aplikasi tersebut ketika nomor antrean hampir tiba.

Keseluruhan sistem yang tertata rapi dalam The O, membuat waktu kunjungan lebih efektif. Tak ada waktu terbuang percuma karena antrean yang tak kunjung usai.

Aplikasi The O yang dikembangkan oleh Art Processors untuk Museum of Old and New Art (MONA) di Tasmania, Australia. (Foto: Dok. Istimewa.)

Melalui aplikasi The O, pengunjung tak hanya memperoleh penjelasan terkait karya seni dan sang seniman, namun pula esai dan wawancara dengan seniman tersebut.

Paket lengkap informasi itu dapat diakses dalam konten multimedia―teks, audio, maupun visual seperti foto dan video.

Aplikasi The O yang digunakan Museum of Old and New Art (MONA) di Tasmania, Australia. (Foto: Dok. mona.net.au)

The O juga membangun interaksi via fitur “love” and “hate” yang dapat diklik oleh pengunjung museum, bila mereka menyukai atau membenci karya seni tertentu.

Fitur love-hate tersebut ialah ide pemilik museum, David Dominic Walsh yang nyentrik.

David Walsh, pemilik Museum of Old and New Art (MONA) di Tasmania, Australia. (Foto: Dok. mona.net.au)

Selain kolektor seni, David Walsh―yang menyebut diri sebagai “ateis fanatik” dalam wawancaranya dengan harian Australia, The Age, pada April 2007―juga merupakan pengusaha dan pejudi profesional.

Walsh pula yang menggagas untuk meniadakan label keterangan di dinding yang menurutnya mengganggu. Terlebih, sebelum MONA direnovasi dan masih bernama Moorilla Museum, label itu kadang berukuran lebih besar dari karya seninya.

Maka, Walsh dan para kuratornya bekerja sama dengan Art Processors selama tiga tahun lebih untuk melakukan perubahan radikal pada museumnya yang dulu ketinggalan zaman dan membosankan. Hasilnya: aplikasi The O yang fenomenal.

Deskripsi tentang karya seni di Museum of Old and New Art (MONA), Tasmania, yang terpampang di layar aplikasi The O. (Foto: Dok. mona.net.au)

Di samping fitur love-hate, The O memberi kejutan lebih jauh dengan menghadirkan teks dalam bahasa yang renyah―memadukan humor dan satire.

Kelakar segar juga terlihat pada pilihan kata di situs resmi MONA. Misal saat membicarakan The O, tersisip kalimat “The O is free, but if you attempt to steal it, we’ll kill you.”

Humor pun tampak pada cara MONA memperkenalkan para kuratornya di salah satu laman pada situsnya dengan ucapan, “Hate the art? Blame these people.”

Pengunjung Museum of Old and New Art (MONA) di Tasmania, Australia. (Foto: Dok. mona.net.au)

Penggunaan The O oleh seluruh pengunjung MONA memungkinkan manajemen museum untuk mengetahui secara real time jumlah pengunjung yang datang dan pergi, dan di lokasi mana saja mereka berada selama di museum.

Berikut gambaran pergerakan real time pengunjung MONA―yang mempermudah pendataan digital pihak museum.

Video

Sejak The O diluncurkan pada Januari 2011 berbarengan dengan wajah baru MONA yang bertransformasi dari Moorilla Museum, pengunjung museum itu meningkat 81 persen.

Enam tahun kemudian, per Januari 2017, The O telah digunakan oleh 2 juta pengunjungnya untuk berinteraksi dengan pihak museum.

We bring the art closer to people.

- Chuan Lim, Creative Tech Art Processors

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57