Pencarian populer

Bos Liverpool Khawatir Fortnite Jadi Ancaman untuk Sepak Bola

Fortnite Foto: YouTube/GameSpot

Game battle royale 'Fortnite' saat ini sedang berada di puncak popularitasnya, terutama di Amerika Serikat. Milenial di negeri Paman Sam tersebut sudah tidak asing lagi dengan 'Fortnite', seperti halnya 'Mobile Legends' di Indonesia. Namun, beberapa pihak menganggap popularitas Fortnite itu dapat memberikan dampak buruk. Salah satu sosok yang memiliki anggapan ini adalah CEO klub sepak bola Liverpool, Peter Moore. Ia khawatir industri sepak bola bakal kehilangan penonton milenial. Moore menilai milenial saat ini lebih tertarik untuk menonton pertandingan Fortnite ketimbang menyaksikan pertandingan sepak bola. "90 menit adalah waktu yang lama bagi seorang milenial untuk duduk di sofa (dan nonton laga sepak bola)," kata Moore, seperti dikutip dari SportsPro. “Ketika saya melihat jumlah penonton pria di kalangan milenial, sebagai chief executive sebuah klub sepak bola yang bergantung pada suporter generasi berikutnya, saya khawatir,” lanjutnya.

Para pemain Liverpool berpose sebelum pertandingan. Foto: Oli Scarff/AFP

Untuk mengatasi masalah tersebut, Moore merasa jika industri sepak bola harus berinvestasi lebih demi menarik para penonton milenial. Salah satunya adalah dengan menggunakan teknologi baru untuk mengadaptasi konten agar lebih singkat dan menarik. Industri sepak bola memang tidak begitu akrab dengan teknologi. Namun menurut Moore, jika mereka tidak mampu untuk beradaptasi dengan hal-hal yang digemari oleh generasi mendatang, maka mereka akan kehilangan audiens anak muda. “Terlalu banyak masalah saat ini dan dalam sehari hanya ada 24 jam dan sangat banyak orang yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain Fortnite,” tegasnya. Ke depannya, pria yang pernah mengurus divisi Xbox di Microsoft dan juga memimpin divisi game di Electronic Arts ini berencana untuk mengemas konten pertandingan sepak bola dalam durasi 60 hingga 90 detik. Langkah ini sering digunakan oleh klub-klub besar lain di media sosial. "Kami berada di industri yang harus memanfaatkan teknologi demi memastikan kami tidak kehilangan satu generasi yang sedang tumbuh dengan tidak mencintai sepakbola,” ungkapnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53