Pencarian populer

Daftar Satelit Indonesia yang Beroperasi dan Mengorbit Hingga Kini

Satelit di luar angkasa. (Foto: Thinkstock)

Perusahaan telekomunikasi Telkom Indonesia akhirnya resmi meluncurkan satelit terbarunya, Telkom 3S, dengan sukses pada 15 Februari pagi hari. Peluncuran dilakukan di Guiana Space Center, kota Kourou, Guyana Prancis.

Satelit Telkom 3S diluncurkan dan dioperasikan untuk meningkatkan kualitas jaringan komunikasi di Indonesia dalam hal siaran televisi berkualitas tinggi (High-Definition Television), layanan komunikasi seluler, komunikasi bisnis, jaringan ATM, serta broadband internet.

Telkom 3S masih harus melakukan sejumlah tahapan di angkasa agar ia dapat terparkir penuh di slot orbit 118 bujur timur, tepat di atas pulau Kalimanta, pada ketinggian sekitar 35.000 dari Bumi. Menurut rencana Telkom 3S bakal mengorbit pada 23 Februari 2017.

Keberhasilan peluncuran Satelit Telkom 3S membuat Indonesia kini memiliki total 7 satelit yang hingga sekarang masih mengorbit di atas Bumi. Untuk 6 satelit lain dari Indonesia, berikut informasi tentangnya:

LAPAN A2

LAPAN A2 merupakan satelit terbaru yang dirakit oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan diluncurkan dari Sriharikota, India, pada September 2015. Satelit ini merupakan penerus dari satelit LAPAN A1 atau LAPAN-TUBSat yang dibuat di Jerman.

Satelit didesain untuk tiga misi, yaitu pengamatan Bumi, pemantauan kapal dan komunikasi radio amatir. Dengan berat sekitar 78 kg, LAPAN A2 membawa muatan Automatic Identification System (AIS).

Bentuk satelit LAPAN A2. (Foto: LAPAN)

Teknologi tersebut memungkinkan satelit untuk dapat melakukan identifikasi terhadap kapal yang akan melintasi wilayah jangkauan LAPAN A2. Untuk misi pengamatan Bumi, satelit menggunakan kamera digital observasi Bumi dengan kamera 4 band multispectral scanning. Kamera itu beresolusi 18 m dengan cakupan 120 kilometer dan kamera resolusi 6 m dengan cakupan 12 x 12 kilometer.

Satelit juga dilengkapi dengan Automatic Packet Reporting System (APRS) yang mendukung komunikasi untuk penanganan bencana, memungkinkan satelit sebagai penghubung sekitar 700 ribu pengguna radio amatir atau Orari (Organisasi Amatir Radio Indonesia).

LAPAN A3

Beberapa bulan setelah peluncuran satelit LAPAN A2, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional kembali meluncurkan satelit generasi selanjutnya, LAPAN A3. Satelit digarap bersama dengan Institut Pertanian Bogor.

Bentuk satelit LAPAN A3. (Foto: LAPAN)

Seperti halnya A2, LAPAN A3 juga diluncurkan di Srihari kota, India, dengan menumpang roket PSLV C-34 milik India pada 22 Juni 2016. Satelit memiliki misi untuk bantu mengidentifikasi kapal pencuri ikan.

Untuk melakukan misi tersebut, LAPAN A3 yang berbobot 115 kilogram dan berdimensi 50 x 57,4 x 42,4 centimeter ini mengusung resolusi multispektral (4-band) dan sebuah kamera digital.

Kendati masih menggunakan komponen impor, satelit dibuat murni di dalam negeri dan memakai komponen dalam negeri berupa star censor dan reaction wheel.

Indostar II/Cakrawarta II

Setelah habis masa orbit satelit Indostar I, MNC Sky Vision meluncurkan satelit penerusnya bernama Indostar II atau Cakrawarta II. Satelit ini diluncurkan pada Mei 2009 lalu di Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.

Satelit ini dirakit oleh Boeing Satellite System asal Amerika Serikat dalam waktu 20 bulan. Indostar II kemudian diterbangkan melalui roket Proton Breeze M produksi Khrunichev State Research and Production Space Center asal Rusia.

Satelit tipe BS 601 HP memiliki dimensi 4 x 3,6 x 2,7 meter dan bobot sekitar 3.905 kilogram, serta mengorbit di 107 bujur timur. Masa aktif Indostar II mampu mencapai 15 tahun lebih.

Indostar II membawa 22 transponder Ku-Band dan 10 transponder S-Band untuk memberikan jaringan penyiaran DTH (direct-to-home) yang kuat dan jasa telekomunikasi lain seperti Internet broadband yang mencakup wilayah Asia Pasik.

Sekarang, satelit ini dioperasikan oleh SES World Skies asal Belanda, setelah ProtoStar melepas peran operator lewat jalur lelang. Hal ini berimbas pada pergantian nama dari Indostar II menjadi SES-7.

Palapa D

Palapa D atau bisa disebut dengan Palada D1 merupakan satelit komunikasi geostationer yang dioperasikan oleh Indosat. Ini merupakan satelit pengganti dari Palapa C2 yang sebelumnya mengorbit lebih dulu.

Indosat menunjuk Thales Alenia Space sebagai perakit satelit Palapa D, dengan dasar menggunakan platform tipe Spacebus-4000B3. Satelit memiliki bobot 4.100 kilogram dan daya elektrik mencakup 6 kilo watt.

Satelit dibawa ke luar angkasa dengan roket Long March CZ-3B di area peluncuran milik Xichang Satellite Launch Center yang berlokasi di China pada 31 Agustus 2009.

Palapa D membawa kapasitas total 40 transponder yang di antaranya terdiri dari 24 standar C-Band, 11 extended C-Band serta 5 Ku-Band. Transponder tersebut sanggup mencapai wilayah Indonesia, Asean, Asia Pasifik, Timur Tengah dan Australia.

Beberapa jam setelah peluncuran, roket yang membawa satelit Palapa D mengalami gangguan sehingga satelit sempat keluar dari posisi orbit yang seharusnya yaitu 113 bujur timur. Kondisi tersebut membuat umur satelit berkurang menjadi 10 tahun, dari yang sebelumnya ditargetkan 15 tahun.

Telkom 2

Ini dia satelit penerus Telkom 1 yang kemudian akan digantikan oleh satelit Telkom 3S yang baru saja diluncurkan Telkom Indonesia di Guyana Prancis. Telkom 2 diluncurkan pada 16 November 2005.

Telkom 2 dirakit oleh Orbital ATK Inc. dengan model GEOStar-2. Satelit ini membawa 24 C-Band transponder untuk menyediakan layanan TV, telepon dan Internet wilayah Indonesia, Asia Tenggara, dan Asia Selatan sekitar India.

Satelit kemudian diterbangkan menggunakan roket Ariane 5 ECA dengan Guiana Space Center sebagai lokasi peluncurannya. Telkom 2 mengorbit pada ketinggian 35.888 kilometer di atas Bumi, tepatnya di 118 bujur timur.

Telkom 2 yang memiliki bobot 1.930 kilogram diproyeksi dapat terus beroperasi selama 15 tahun sejak peluncuran. Itu berarti satelit masih memiliki kurang lebih 3 tahun lagi umur masa orbitnya.

Peluncuran penerus Telkom 1 ini sempat mengalami penundaan sebanyak dua kali.

BRISat

Perusahaan yang bergerak di sektor perbankan, Bank Rakyat Indonesia atau BRI, mencetak sejarah baru pada pertengahan 2016 lalu. Kala itu mereka jadi perusahaan bank pertama di dunia yang meluncurkan dan mengoperasikan satelit, yang kelak diberi nama BRISat.

Satelit BRISat. (Foto: BRISat via Twitter)

Satelit BRISat yang berbobot 3.500 kilogram ini diproduksi oleh Space Systems/Loral (SSL), dengan peluncurannya difasilitasi oleh Arianespace melalui roket Ariane 5 ECA yang diluncurkan di Guiana Space Center, Guyana Prancis.

Satelit model LS-1300 ini membawa 9 transponder Ku-Band dan 36 C-Band transponder. Semuanya itu digunakan untuk memberikan peningkatan keamanan komunikasi perbankan untuk lebih dari 10.600 cabang operasional, serta 237.000 saluran outlet elektronik dan 53 juta pelanggan di seluruh Tanah Air.

BRISat yang mengorbit di slot orbit 150 bujur timur ini diklaim memiliki masa hidup selama 15 tahun lebih untuk melayani kebutuhan BRI dalam melakukan operasional perbankan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet
Lorem ipsum dolor sit amet
11 Desember 2017
Lorem ipsum dolor sit amet
Lorem ipsum dolor sit amet
11 Desember 2017
Lorem ipsum dolor sit amet
Lorem ipsum dolor sit amet
11 Desember 2017
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: