Pencarian populer

Di Balik Posisi Dubes Teknologi Pertama di Dunia

Casper Klynge (Foto: Twitter @DKTechAmb)

Casper Klynge adalah yang pertama.

“Dan saya kemungkinan bukanlah yang terakhir,” tambah laki-laki berkewarganegaraan Denmark itu dalam wawancaranya bersama Politico (20/7/17).

Dan benar demikian. Bahkan, Klynge tak perlu menunggu lama agar pernyataannya itu mewujud nyata. Hanya dua bulan setelah membawa nama Denmark yang tak populer ke arus media mainstream dunia, ia punya teman: David Martinon dari Prancis.

Keduanya adalah duta besar pertama sepanjang masa, yang mana tidak ditugaskan mewakili negara asalnya untuk negara lain, melainkan untuk teknologi dan dunia digital per se.

Sambutlah yang pertama di dunia: His Excellency Casper Klynge, The Ambassador of the Kingdom of Denmark to the Technology and Digital World.

Jelas, ragam duta besar satu ini merupakan hal yang baru dalam tradisi diplomasi kenegaraan. Ketimbang mewakili negaranya untuk Amerika Serikat, Indonesia, dan negara-negara lain yang sederajat, Casper Klynge akan menjadi penghubung Denmark dan raksasa-raksasa teknologi macam Google, Facebook, Apple, Microsoft, dan IBM.

“(Ini) adalah perusahaan-perusahaan yang mempengaruhi kehidupan Denmark melebihi apa yang bisa dilakukan negara-negara lain. Ini adalah kenyataan baru,” ucap Anders Samuelsen, Menteri Luar Negeri Denmark, saat mengumumkan pertama kali pembentukan pos di fron diplomasi Denmark ini, dikutip dari Politiken (29/1/17).

Apa yang dikatakan Samuelsen cukup beralasan. Pada 2016 lalu, gross domestic product (GDP) Denmark hanya berjumlah USD 306 miliar. Besaran tersebut tak sampai separuh dari market capitalization Google di tahun yang sama, yang mencapai USD 780 milar (per 15 April 2016).

“Perusahaan-perusahaan ini sudah seperti negara baru dan kami punya kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan (mereka),” tambah Samuelsen.

Hal tersebut masuk akal. Apabila Apple dan Google adalah sebuah negara, mereka akan dengan mudah masuk ke dalam kelompok 20 negara dengan kekuatan ekonomi terbesar, G20. Microsoft punya nilai USD 695 miliar; Apple USD 920 miliar; Facebook USD 522 miliar; dan Alibaba mencapai USD 472 miliar (per 19 Januari 2018).

Casper Klynge (Foto: Twitter @DKTechAmb)

Lihat saja data keluaran Facebook 2016 lalu. Hanya 12 tahun setelah didirikan, “penduduk”-nya (pengguna yang mengunjungi Facebook minimal sekali sebulan) sudah mencapai 1,86 miliar orang. Di tahun yang sama, populasi China hanya 1,37 miliar orang, lebih sedikit 500 juta dibandingkan jumlah warga Facebook

Masalahnya, perusahaan-perusahaan teknologi tersebut tak hanya masalah jumlah.

Keberadaan Facebook, misalnya, mempengaruhi kehidupan penggunanya secara substansial. Christian Jarrett, psikolog sekaligus penulis dari Inggris, menyebut bahwa Facebook membuat seseorang merasa semakin kesepian, lebih sering merasa iri, dan membuat nilai pelajar lebih buruk ketimbang yang tidak menggunakannya secara aktif.

Di bidang keamanan, kemunculan teknologi di dunia digital macam Telegram dan WhatsApp dengan mudah dimanfaatkan oleh teroris untuk lakukan aksinya (sama seperti BlackBerry Messenger digunakan kelompok teroris untuk Bom Bali I).

Mau tahu apa dampak Facebook ke kehidupan politik sebuah negara? Tanya saja ke warga Amerika Serikat yang presidennya gemar makan McD karena takut diracun.

“Kekuatan ekonomi dan pengaruh mereka ke kehidupan kami sehari-hari sudah jauh melampaui negara-negara tradisional yang punya kedubes kami,” tutur Samuelsen, seperti dikutip dari laman resmi Kemenlu Denmark.

“Ia--Tech Ambassador--akan bertugas untuk mengamankan dan mempromosikan kepentingan masyarakat Denmark di dunia yang terus berubah secepat kilat,” tambahnya.

Kepentingan yang dimaksud, sebenarnya, tak jauh berbeda dari apa yang dilakukan duta besar pada umumnya terhadap sebuah negara lain. Menurut Klynge, tugas utama posisinya adalah untuk menjadi pembuka jalan bagi terciptanya dialog komprehensif antara Denmark dan aktor-aktor teknologi. Techplomacy, sebutnya.

“Dialog komprehensif ini akan meliputi perusahaan, institusi riset, negara, kota, dan organisasi. Ini sangat menjanjikan,” ujar Klynge (25/5/17).

Dialog tersebut akan membahas berbagai rupa permasalahan yang berkelindan dengan perkembangan teknologi sementara tetap menjadi kepentingan Denmark. Misalnya saja, menurut Klynge, untuk memastikan raksasa teknologi memperhatikan isu perubahan iklim, mendorong mereka untuk memerangi perkembangan terorisme di dunia digital, dan isu internasional lainnya.

Namun, seperti yang layaknya dilakukan duta besar sebuah negara, Klynge juga harus memastikan adanya investasi dari mitra menuju Denmark. Apabila sebelumnya seorang duta besar memastikan terjadinya kesepakatan ekonomi dari sebuah negara ke sebuah negara, Klynge bertugas memastikan hal serupa dari perusahaan-perusahaan teknologi besar dunia.

Klynge berkata, Duta Besar Teknologi ini datang pada saat yang tepat. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, Denmark sudah mulai dilirik sebagai negara tujuan tempat perusahaan-perusahaan teknologi menaruh pundi investasinya.

Januari tahun lalu, Facebook memastikan akan membangun pusat data (data centre) asing ketiganya di Denmark senilai USD 100 juta yang akan menyediakan lapangan pekerjaan bagi 150 orang. Sementara itu, Apple juga berniat membangun pusat data dengan sumber energi terbarukan yang bernilai USD 921 juta pada 2019 nanti.

“Meskipun perusahaan asing di Denmark hanya satu persen dari keseluruhan, mereka bisa menyediakan 20 persen lapangan kerja bagi masyarakat Denmark. Untuk alasan ini, pemerintah Denmark akan terus menarik investasi asing ke Denmark,” ucap Samuelsen, dikutip dari Russian Today.

Casper Klynge (Foto: Twitter @DKTechAmb)

Sebelum menjadi tech ambassador pertama di dunia, Klynge bertugas sebagai Duta Besar Denmark untuk Indonesia --yang merangkap sebagai Dubes Denmark untuk Timor Leste, Papua Nugini, dan ASEAN. Sebelumnya, ia menjadi Dubes Denmark untuk Siprus dan pernah bertugas sebagai pegawai Kemenlu Denmark terkait Afrika dan Afghanistan.

Kini Casper Klynge akan bertugas di Palo Alto, California. Meski begitu, gerak dan kerjanya tak akan terbatas di Silicon Valley semata.

Dilansir Politico, ia kemungkinan besar akan memiliki dua buah tim yang akan ditempatkan di Copenhagen dan sebuah negara Asia yang belum ditentukan, meski kemungkinan besar di China.

Akan seperti apa kerja spesifiknya nanti? Klynge sendiri mengaku ia akan memasuki sebuah teritori yang belum baku betul bentuknya.

“Saya pikir itu adalah salah satu poinnya. Ini benar-benar baru, dan kami harus belajar membuatnya benar-benar bekerja,” ucap Klynge, dikutip dari Scandasia. “Saya pikir kinerja kami akan banyak diperhatikan lebih keras ketimbang kedubes lainnya, karena perhatian terhadap kami juga lebih besar.”

=============== Simak ulasan mendalam lainnya dengan mengikuti topik Outline!

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53