kumparan
27 Jun 2019 15:11 WIB

Facebook Latih Orang Tua, Guru, Murid, Agar Melek Literasi Digital

Keseruan program Think Before You Share dari Facebook. Foto: Bianda Ludwianto/kumparan
Ranah media sosial kini kian akrab dengan segala usia, mulai dari remaja hingga dewasa, hampir semuanya sudah mengenal media sosial. Meski begitu, hingga kini hadirnya media sosial memang masih menimbulkan pro dan kontra, karena di balik manfaatnya, ada saja dampak negatif yang mengintai.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, platform media sosial terbesar saat ini, Facebook, menyiapkan cara khusus untuk mengurangi dampak buruk media sosial bagi remaja. Khususnya di Indonesia, Facebook bekerja sama dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) membuat gerakan khusus bernama Think Before You Share.
Dalam tiga tahun berjalannya Think Before You Share, kini mulai menyasar remaja-remaja ditingkat SMA sederajat untuk memberikan pelatihan khusus mengenai cara bijak bermedia sosial. Tidak hanya remaja saja, pelatihan ini juga melibatkan guru dan orang tua.
"Gerakan ini ingin menciptakan ekosistem yang baik untuk para remaja yang berada di lingkungan pendidikan sekolah serta rumah, maka di tahun ketiga ini kita melibatkan guru dan orang tua untuk berlatih bersama agar bijak memakai media sosial," kata Ruben Hattari, Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia, dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (27/6).
Program Think Before You Share dari Facebook. Foto: Bianda Ludwianto/kumparan
Program pelatihan Think Before You Share tahun 2018/2019 telah diselenggarakan di tujuh provinsi, yaitu Sumatera Utara, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Serta melibatkan lebih dari 21 ribu peserta, di antaranya 2.500 guru, 1.000 orang tua, di 150 sekolah di tujuh provinsi tersebut.
ADVERTISEMENT
Chief Operation Officer YCAB, Susi Herminjanto, menjelaskan modul yang dibuat untuk peserta itu berupa metode interaktif. Selama pelatihan akan dilihat proses perkembangan peserta terhadap dampak dari pelatihan yang diikuti.
"Sebelum melakukan pelatihan kita tes terlebih dahulu sejauh mana mereka memahami media sosial tersebut. Lalu nanti setelah tes kita bandingkan. Dari situ kita bisa lihat pencapaian setiap peserta," jelas Susi.
Lebih lanjut dari data sementara, Susi melihat remaja di Indonesia termasuk yang kurang dalam memahami penggunaan media sosial. Orang tua pun juga tidak jauh berbeda dengan kondisi dari remaja.
"Kebanyakan orang tua ini belum paham dampak yang dapat ditimbulkan dari media sosial bagi anak-anaknya. Seharusnya mereka mengajarkan kepada anak mereka untuk memahami apa yang bisa di-posting di media sosial dan dampak positif dari itu," terangnya.
Keseruan program Think Before You Share dari Facebook. Foto: Bianda Ludwianto/kumparan
Berdasarkan data Facebook, ada hampir 21 Juta remaja Indonesia berada di ranah online. Literasi digital yang rendah membuat remaja Indonesia mudah terpapar dengan berbagai risiko, seperti rentan terhadap misinformasi, mempertaruhkan keamanan data pribadi dengan pakai aplikasi yang tidak aman, kecanduan media sosial dan jumlah likes, serta mengalami perundungan (bullying).
ADVERTISEMENT
Salah satu peserta, Rizki (16), mengaku senang dengan adanya pelatihan Think Before You Share. Melalui pelatihan ini dirinya bisa mendapatkan inspirasi dari media sosial yang bisa mendapatkan manfaat.
"Menurut saya media sosial kini bisa lebih bermanfaat, tidak hanya sekedar posting-posting yang seenaknya kini lebih memperhitungkan dampak apa yang akan ditimbulkan dari itu," jelas remaja yang kini bersekolah di daerah Jawa Timur tersebut.
Program Think Before You Share ke depannya akan menjangkau lebih luas lagi. Melalui Kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama, program ini tidak hanya berhenti di tujuh kota saja tetapi akan menjangkau kota-kota lainnya, terutama di wilayah Indonesia Timur.
"Kita harap bisa lebih banyak di kota-kota lain terutama di wilayah timur. Karena daerah tersebut sedang berkembang penggunaan internetnya karena kemajuan infrastruktur," imbuh Ruben.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan