Komentar Bos Lazada soal Bisnis Offline yang Menurun Akibat E-commerce

22 Maret 2019 9:17 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Jing Yin, President Lazada Group. Foto: Lazada
zoom-in-whitePerbesar
Jing Yin, President Lazada Group. Foto: Lazada
ADVERTISEMENT
Perkembangan teknologi turut mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah proses jual beli, yang tadinya offline menjadi online. Kini para penjual tidak hanya memiliki toko fisik, tapi juga membuka toko online di situs e-commerce, atau malah mereka tidak memiliki toko fisik sama sekali.
ADVERTISEMENT
Di saat itu pula, bisnis-bisnis seperti gerai retail dan toko offline sejenisnya mengalami penurunan dan tidak sedikit yang malah gulung tikar. Di Indonesia sendiri, pertumbuhan layanan belanja online menjadi salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.
Pada November lalu, riset Google dan Temasek mengungkap GMV (gross merchandise value) dari sektor e-commerce di Asia Tenggara mencapai angka 21 miliar dolar AS. Angka itu tumbuh pesat sebanyak 60 persen dibandingkan tahhun lalu.
Melihat fenomena ini, President Lazada Group Jing Yin berpendapat bahwa ini bukan persoalan siapa yang memenangkan kompetisi berbisnis. Menurutnya, ini soal cara berpikir pebisnis yang seharusnya dinamis dan ikut pergerakan zaman.
“Bicara soal pertumbuhan bisnis, ini bukan soal siapa lawan siapa, tapi ini soal siapa yang mau berubah. Saya kira inilah keindahan dari e-commerce yang saya lihat. Saya sangat percaya diri saya melihat banyak sekali talenta muda. Bukan muda dalam hal umur tapi ambisi mereka,” ungkap Ying, di Singapura, Kamis (21/3).
Pengumuman Super Solutions LazMall dari Lazada. Foto: Lazada
ADVERTISEMENT
Lazada sendiri merupakan salah satu platform marketplace terbesar di Asia Tenggara. Hingga kini, perusahaan itu sudah memiliki berbagai mitra merchant dari brand terkemuka dan pengusaha kecil menengah di enam negara Asia Tenggara, yakni Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, Indonesia, dan Thailand
Salah satu hal yang dimanfaatkan Lazada ialah karena perusahaan mampu melihat adanya talenta dan keinginan para pebisnis yang kuat untuk berkembang. Perusahaan berupaya menyediakan solusi bagi para pengusaha untuk merealisasikan ambisi besar tersebut.
“Jadi kalau kalian melihat layanan kami kompetitif dari pasar mal, kami hanya memberikan solusi untuk bagi para pebisnis untuk mengembangkan bisnis,” terang Jing.
Kompetisi di era digital memang semakin sengit. Para peritel offline harus putar otak agar bisnisnya tidak tergerus oleh teknologi yang seharusnya bisa dimanfaatkan.
Gudang Lazada Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
ADVERTISEMENT
Beberapa peritel konvensional seperti Matahari, Lotus dan Debenhams harus menutup gerainya di berbagai daerah yang dinilai sudah tidak menghasilkan banyak pemasukan. Ini besar kemungkinan terjadi karena masyarakat sudah mulai beralih ke belanja online ketimbang harus repot-repot keluar rumah demi mendapatkan barang yang mereka butuhkan.
Meski begitu, tampak ada juga sinergi antara ritel online dan offline yang saling melengkapi dan menjadi simbiosis mutualisme. Banyak pemain offline yang akhirnya membuka platform online atau berjualan di platform e-commerce. Begitu juga dengan peritel online yang juga membuka gerai di pusat-pusat perbelanjaan untuk lebih mendekatkan diri dengan pasar.