Pencarian populer

Penyesalan Mark Zuckerberg Tak Belajar dari WeChat

CEO dan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Foto: Stephen Lam/Reuters

Facebook punya cita-cita menjadi seperti platform pesan instan asal China, WeChat. Raksasa media sosial itu telah mengumumkan visinya untuk memadukan semua aplikasi miliknya menjadi satu platform yang fokus pada privasi pengguna.

Namun, dalam mengembangkan visinya menjadi kenyataan, perusahaan mengalami kendala soal privasi pengguna. Hal ini membuat CEO Mark Zuckerberg menyadari bahwa ia seharusnya belajar dari WeChat.

"Kalau saja saya mendengarkan saran Anda empat tahun yang lalu," kata Zuckerberg, menanggapi sebuah artikel yang menyarankan Facebook untuk belajar dari WeChat, karya Jessica Lessin, pendiri media teknologi The Information.

Visi Zuckerberg untuk mengembangkan aplikasi pesan pribadi yang menjaga keamanan data itu muncul karena perusahaan ingin penggunanya memiliki pengalaman lebih dari sekadar berinteraksi.

"Termasuk teleponan, video chat, stori grup, bisnis, pembayaran, belanja online dan pada akhirnya menjadi platform untuk jenis layanan private lainnya," ungkap Zuckerberg dalam sebuah posting-an di Facebook pada Kamis (14/3).

Pendiri dan CEO Facebok, Mark Zuckerberg. Foto: Stephen Lam/Reuters

Sementara WeChat adalah aplikasi pesan instan buatan perusahaan teknologi asal China Tencent. Selain menjadi platform untuk berinteraksi, WeChat juga dikembangkan dengan berbagai fitur lain, seperti media sosial, pembayaran digital, pemesanan transportasi online, pesan makanan, dan pembayaran tagihan.

Hal ini menjadi suatu yang sulit bagi Facebook karena perusahaan memang sudah dikenal karena isu kebocoran data pribadi pengguna oleh pihak ketiga. Sementara WeChat bisa sukses menjadi platform itu karena selalu menjaga privasi penggunanya.

WeChat memang tidak memiliki enkripsi end-to-end seperti WhatsApp dan dikritik tidak melindungi data pengguna. Namun, Tencent mengklaim bahwa WeChat tidak pernah memata-matai pengguna atau merekam percakapan. Agar lebih meyakinkan, pihak perusahaan bersedia mengikuti aturan dan permintaan hukum pemerintah China.

"Kami sangat memperhatikan keamanan data pengguna. Itu adalah hal yang paling kami utamakan. Secara hukum, tentu saja, perusahaan harus mengikuti aturan dan hukum di dalam negeri," ujar President Tencent Martin Lau Chi-ping.

Layanan WeChat yang mengalahkan WhatsApp di China. Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan

Kini, ketika Facebook mau melangkah untuk menjadi aplikasi super WeChat di China, Tencent sudah memiliki rencana yang begitu besar untuk WeChat ke depannya. Bahkan, kini Tencent dilaporkan tengah mengembangkan asisten pintar seperti Siri, bernama Xiaowei, untuk dioperasikan di layanan transportasi online yang terintegrasi dengan aplikasi WeChat.

Ada juga rencana untuk mengembangkan kecerdasan buatan yang memungkinkan pelaku usaha dan industri bisa melayani pelanggannya di WeChat.

WeChat juga sudah bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan pusat pelatihan di China. Kerja sama ini memungkinkan para siswa untuk melakukan pembelian makanan di kantin, mengecek nilai ujian dan fungsi-fungsi lainnya. Di Walmart, pengguna WeChat juga tidak perlu antre untuk membayar karena mereka tinggal pindai produk yang dibeli dan membayarnya di aplikasi.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: