Pencarian populer

Tim eSports Cewek: Menghapus Stigma Game Hanya untuk Cowok

Indah Permatasari atau 'Einsme', anggota tim eSports NXA Ladies. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Mouse dan keyboard adalah perangkat yang setiap malam dipegang oleh Angela. Berbekal makanan dan minuman ringan, dia memainkan game kesukaan: Dota 2. Mata dan pikiran fokus pada monitor untuk mengejar rating, yang dalam Dota 2 disebut dengan Matchmaking Rating (MMR). Jika lagi asyik, dia baru tidur jam 4 subuh, padahal dia harus ke kantor di pagi harinya. Main game dulu. Tidur belakangan.

Waktu luang di kantor pun dimanfaatkan Angela untuk bermain game. Profesi utamanya adalah konsultan humas di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

"Aku sendiri kalau main game memang serius banget... Seru. Asyik. Kaya punya dunia sendiri," katanya.

Angela merupakan salah satu player dari tim eSports NXA Ladies, yang seluruhnya anggotanya adalah perempuan. Sudah lama dia ingin bergabung dengan tim eSports ini, karena Angela mengidolakan Monica Carolina alias Nixia, yang pada 2011 lalu mendirikan NXA Ladies.

Nama Nixia mulai populer di tahun 2009 ketika mulai menjuarai sejumlah turnamen. Kini Nixia dikenal sebagai gamer yang fokus pada jenis game first person shooter (FPS).

Angela 'Akina' dari tim NXA Ladies. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Pada tahun 2018, Nixia membentuk divisi baru untuk PUBG (PlayerUnknown's Battlegrounds) Mobile, sebuah game yang sedang populer. Angela mendaftar sebagai salah satu kandidat player di tim tersebut. Berbagai tes dia jalani agar bisa bergabung dengan NXA Ladies dan bisa lebih dekat dengan Nixia, sang idola. Tesnya mulai dari bermain PUBG sampai wawancara.

Beruntung, Angela diterima dalam divisi PUBG Mobile di NXA Ladies. Di sini Angela memulai karier sebagai gamer profesional dengan nickname "Akina."

44 persen gamer di Indonesia adalah perempuan

NXA Ladies saat ini hanya terdiri dari satu divisi untuk game PUBG Mobile. Tim ini sempat gonta-ganti personel. Divisinya sering dirombak, seiring tren game yang sedang populer.

Selain NXA Ladies, ada satu tim lagi yang bisa dibilang sebagai pionir tim eSports perempuan di Indonesia, yaitu Female Fighters yang didirikan oleh Ridha Audrey pada 2010. Sempat non aktif beberapa kali, tim Female Fighters bangkit kembali pada 2017 dengan identitas baru. Mereka melakukan rebranding menjadi FF Gaming.

(kiri-kanan) Einsme, Ketty, Akina player dari tim eSports NXA Ladies. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Keberadaan gamer cewek ternyata sangat banyak di Indonesia. Jumlahnya tidak terpaut jauh dibandingkan dengan laki-laki. Lembaga riset industri game Newzoo, mencatat populasi gamer di Indonesia memang masih didominasi kaum laki-laki sebanyak 56 persen, dan perempuan sebesar 44 persen.

Fakta ini diperkuat dengan banyaknya kehadiran tim eSports yang diisi perempuan. Sejumlah nama yang tersohor adalah EVOS Galaxy Sades, Belletron, Louvre Angels, sampai Cening Ayu yang berbasis di Bali.

Kompetisi eSports khusus perempuan juga makin banyak, seperti PBLC (Point Blank Ladies Championship) yang rutin digelar setiap tahun. Di luar kompetisi khusus perempuan, maka tim-tim eSports perempuan ini akan bergabung dalam turnamen campuran yang bisa mempertemukan mereka dengan tim laki-laki.

Tim FF Gaming mengaku sering berpartisipasi dalam turnamen CS:GO yang tidak melarang perempuan untuk berpartisipasi. Salah satu anggota divisi CS:GO dari FF Gaming, Victoria 'Blizzter' Irwin, mengungkapkan timnya sering ikut turnamen CS:GO baik lokal maupun internasional yang mempertemukan mereka dengan tim laki-laki.

Dina, Victoria, Clarisa, dan Steffi dari tim eSports FF Gaming. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)

Blizzter yakin kemampuan gamer perempuan tidak kalah dengan laki-laki dan ini menjadi salah satu alasan FF Gaming rajin ikut turnamen CS:GO yang banyak diikuti laki-laki.

Kepercayaan diri tampil di turnamen harus diasah pada saat latihan dan membangun kekompakkan tim. Biasanya, latihan makin gencar dilakukan ketika sudah mendekati hari diselenggarakannya turnamen. Sebagai tim profesional, tentu saja tim-tim ini akan berlatih keras agar mampu melakukan usaha semaksimal mungkin saat turnamen berlangsung.

"Di sini kita lebih menunjukkan bahwa sebagai perempuan juga pantas bermain di game, kita bakal unjuk skill kita enggak kalah di bawah rata-rata dan bisa seimbang dengan cowok," tegas Blizzter, saat dijumpai kumparan di markas FF Gaming di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Sumber pendapatan di industri game

Meningkatnya industri eSports global telah meyakinkan sejumlah pihak untuk berinvestasi lebih di sana. Perusahaan lokal seperti Tokopedia dan GOJEK, belakangan ini gencar menjadi sponsor tim eSports. Belum lagi brand smartphone, laptop, hardware, dan operator telekomunikasi, yang ikut mendorong industri eSports.

Dukungan dari berbagai pihak untuk ekosistem eSports membuat industri ini terus bergerak maju. Para gamer profesional makin sejahtera. Tim eSports tumbuh subur.

Manajemen NXA Ladies dan FF Gaming memberikan gaji bulanan untuk para pemain. Bonus lain bisa didapatkan para player --sebutan untuk para pemain game di tim-- jika mereka memenangkan sebuah turnamen eSports.

Pendapatan yang tidak kalah besar bisa datang dari endorsement, juga live streaming di platform tertentu, yang biasanya dikejar oleh gamer individu. Dana segar yang berada di balik itu semua memicu banyak gamer perempuan untuk mencoba jadi kreator konten di YouTube, Facebook Gaming, Twitch, sampai Nimo TV, dan mampu meraup penghasilan besar dari sana. .

Infografik: Sumber pendapatan para gamer profesional. (Foto: Putri Sarah Arifira)

Pendiri FF Gaming, Ridha Audrey, atau yang biasa dikenal dengan Audrey FF, menjadi salah satu gamer Indonesia terpopuler di YouTube. Akun Audrey FF di YouTube sudah memiliki subscriber sekitar 514 ribu.

Namun, fenomena maraknya gamer perempuan yang senang melakukan live streaming dianggap bisa menjadi penghambat untuk menjadi pemain profesional. Itu pun kalau mereka ingin menjadi pro-player dan rajin mengikuti turnamen. Karena, saat ini banyak gamer perempuan yang lebih memilih menjadi kreator konten ketimbang menjadi pemain profesional.

Nixia, pendiri NXA Ladies, adalah satu satu gamer yang memilih jadi kreator konten. Gamer yang sudah berkarier di industri game lokal selama 10 tahun ini mengaku sudah jarang ikut turnamen karena lebih fokus mengurus manajemen NXA Ladies. Atau, jika ikut bermain di turnamen, Nixia memilih duduk di bangku cadangan divisi PUBG Mobile.

"Sekarang 'kan sebagai founder jadi aku lebih me-manage jam latihan mereka atau sponsorship mereka. Kayak gitu. Kalau pilihan antara gamer profesional atau content creator, aku masih lebih pilih content creator," ujarnya.

Monica Carolina atau dikenal sebagai Nixia, salah satu gamer perempuan yang paling dikenal oleh publik saat bermain game di ruangan pribadinya. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)

Perjuangan Nixia menghidupi NXA Ladies mendapat dukungan dari sejumlah merek yang jadi sponsor. Ada tiga brand yang kini mensponsori Nixia dan NXA Ladies, yaitu produk kartu grafis komputer Nvidia, produk aksesori gaming Corsair, dan produk laptop gaming MSI. Dana dari para sponsor ini sudah cukup untuk menyambung hidup dan biaya operasional untuk tim NXA Ladies.

Perempuan berusia 28 tahun ini mengaku penghasilan pribadinya saat ini berkisar ratusan ribu dolar AS yang ia dapat per tiga bulan. Namun, pengakuan Nixia ketika diwawancara kumparan pada Oktober 2017, jumlah pendapatan pribadinya mencapai 8.000 sampai 10.000 dolar AS per tiga bulan.

FF Gaming memilih untuk tidak mengungkap berapa penghasilan yang didapat oleh manajemen dan para anggotanya. General Manager FF Gaming, Clarissa "Clarri" Abigailclie, menegaskan pendapatan yang diraih anggota FF Gaming saat ini sudah sangat mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka setiap bulan. Anggota FF Gaming tidak hanya mendapat penghasilan dari gaji bulanan, tapi juga dari live streaming dan hadiah turnamen.

Sejumlah sponsor yang kini mendukung operasional FF Gaming adalah platform live streaming game Nimo TV, kemudian ada produsen laptop dan monitor Asus ROG, serta produsen hardware komputer Cooler Master.

"Penghasilan kalau sponsor itu mereka ada gaji bulanan. Dan gaji bulanannya itu juga di luar dari gaji streaming. Mereka streaming itu dibayar, ada fee-nya, dari platform. Kalau misalnya dari platform streaming mengontrak kita, itu ada harga yang harus dibayar sama sponsor kalau anak-anak aku akan streaming," jelas Clarissa "Clarri" yang kini jadi manajer FF Gaming.

Profesi baru dalam industri eSports

Ada beberapa profesi lain yang sebenarnya bisa digeluti oleh gamer profesioanl. Selain menjadi pemain, kreator konten, streamer, sampai manajer, para gamer profesional ini juga bisa membangun kariernya sebagai shoutcaset atau caster, yang menjadi komentator pertandingan eSports. Keberadaan turnamen eSports yang semakin banyak jelas membutuhkan para komentator pertandingan untuk menghibur para penonton dan penggemar.

Tim kumparan berkesempatan bertemu dengan salah satu caster yang sedang naik daun di dunia eSports Indonesia, yakni Monica Mariska atau biasa dikenal dengan Momo Chan.

Perempuan yang juga pernah bergabung di tim NXA Ladies itu saat ini sering tampil sebagai caster di berbagai pertandingan eSports di Indonesia. Baru-baru ini Momo Chan tampil sebagai komentator di pertandingan MPL (Mobile Legends: Bang Bang Professional League) Indonesia Season 3. Apa yang dilakukan Momo Chan sebagai caster sama seperti komentator pertandingan sepak bola atau olahraga lainnya. Momo Chan harus mengomentari jalannya pertandingan dan memberikan informasi yang dibutuhkan publik dengan tepat dan menggugah emosi.

Monica Mariska memakai nama Momo Chan di industri eSports Indonesia. Momo dikenal sebagai gamer sekaligus caster. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)

Tentu saja untuk menjadi caster tidak mudah karena harus memiliki wawasan luas tentang game yang dipertandingkan dan juga pemain-pemainnya. Jadi, bukan asal bicara, memberikan komentar tentang pertandingan.

Momo Chan memberikan bocoran tentang berapa uang yang ia dapat dari aktivitasnya di dunia game. Bukan cuma satu digit, kini pendapatan yang diraih Momo Chan sudah mencapai dua digit!

"Sampai Rp 50 jutaan tiap bulan," ungkap Momo Chan, tentang kisaran penghasilannya yang didapat dari game.

Perlu dicatat bahwa pendapatan itu diraih Momo Chan bukan hanya dari aktivitasnya menjadi caster, tapi juga dari organisasi pencari bakat eSports, Mineski Talent, lalu dari sponsor sebagai brand ambassador Asus ROG, dan juga dikontrak oleh Facebook untuk live streaming bermain game.

Angka yang dihasilkannya mungkin akan membuatmu menelan ludah. Tetapi bagi mereka yang ingin serius masuk ke industri game, ini bisa jadi penyemangat.

Industri eSports di dunia, termasuk Indonesia, diyakini akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sangat mungkin pertumbuhannya signifikan. Turnamen akan semakin banyak, hadiahnya makin besar, dan tim-timnya juga akan semakin ramai lagi ke depannya.

Player dari tim eSports NXA Ladies saat bermain game. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Pertumbuhan atlet eSports perempuan juga bisa terus meningkat. Kita telah melihat tim eSports besar yang sudah membentuk divisi khusus perempuan seperti EVOS yang punya Galaxy Sades di divisi Point Blank, kemudian Belletron yang merupakan divisi perempuan dari Bigetron, serta Louvre Angels, divisi perempuan Mobile Legends dari tim Louvre.

Sebagai salah satu sosok gamer perempuan berpengalaman di Indonesia, Nixia berharap di masa depan bakal makin banyak terjaring pemain-pemain Indonesia yang berprestasi dan bisa mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, apalagi dengan telah diakuinya eSports sebagai cabang olahraga dalam turnamen olahraga besar.

Setelah diuji coba di Asian Games 2018 lalu, eSports dipastikan bakal menjadi salah satu cabang olahraga yang memperebutkan medali di SEA Games 2019 mendatang.

"Semoga makin banyak peluang-peluang profesi di dunia gaming yang bisa dikerjakan sama gamer-gamer Indonesia. 'Kan ini dari sisi profesi kreatif nih, jadi orang tua tuh enggak selalu menganggap negatif terus dari sisi game. Karena di dunia gaming itu enggak cuma ambil negatif dari dalam game-nya saja. Banyak yang bisa kita dapat. Semoga ke depannya makin banyak orang tua orang tua di Indonesia yang terbuka kalau game bisa jadi profesi," harap Nixia.

Perjuangan para gamer cewek ini telah memecah stigma industri game yang tak hanya diperuntukkan pada kaum laki-laki. Di luar sana banyak perempuan yang sukses membangun kerajaan bisnis game untuk dirinya sendiri dan tim.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60