Pencarian populer

5 Fakta Menarik Tentang Rumah Adat Suku Sasak yang Jarang Diketahui

Suasana kampung Sasak, Dusun Sade, Lombok. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Saat mengunjungi Lombok, tentunya kamu sudah cukup mendengar tentang salah satu desa adat terkenal di sana yang masih terjaga hingga saat ini. Ya, ialah Desa Sade, desa tempat bermukimnya Suku Sasak yang merupakan suku asli masyarakat Lombok.

Kabarnya kebudayaan suku ini juga tercatat dalam Kitab Negara Kertagama karangan Mpu Nala dari Kerajaan Majapahit. Jika ingin menikmati wisata budaya di Lombok kamu harus berkunjung ke Desa Sade.

Karena tak hanya mengenal kehidupan masyarakat Suku Sasak, kamu juga bisa melihat bangunan-bangunan rumah adat suku Sasak yang sangat unik. Jika membicarakan tentang rumah adat Suku Sasak tersebut ada beberapa hal menarik di dalamnya. Apa saja? Yuk simak.

1. Memiliki tiga tipe bangunan

Suasana kampung Sasak, Dusun Sade, Lombok. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Rumah adat Sasak dibagi menjadi tiga tipe yaitu Bale Bonter, rumah yang dimiliki pejabat desa. Bale Kodong untuk warga yang baru menikah atau untuk para orang tua yang ingin menghabiskan masa tuanya. Sedangkan Bale Tani, adalah tempat tinggal bagi yang sudah berkeluarga.

Mengutip dari laman Pesona Indonesia, Bale Tani terbuat dari kayu dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan daun alang-alang kering. Bale Tani terbagi menjadi dua bagian yaitu Bale Dalam dan Bale Luar, ruangan Bale Dalam biasanya diperuntukkan untuk anggota keluarga wanita, yang sekaligus merangkap sebagai dapur. Sedangkan ruangan Bale Luar diperuntukkan anggota keluarga lainnya, dan juga berfungsi sebagai ruang tamu.

2. Lantainya terbuat dari campuran tanah liat dan kotoran kerbau

Penduduk di Kampung Suku Sasak Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/8). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Keunikan lainnya dari rumah adat Suku Sasak adalah, lantainya yang terbuat dari campuran tanah liat, kotoran kerbau, abu jerami, dan lainnya.

Penggunaan kotoran kerbau ini berfungsi untuk membersihkan lantai dari debu dan membuat lantai terasa halus dan lebih kuat.

Mereka percaya kotoran kerbau ini dapat mengusir serangga sekaligus menangkal serangan magis untuk penghuni rumah. Tradisi ini dilakukan setiap sekali dalam seminggu atau pada waktu-waktu tertentu seperti sebelum dimulainya upacara adat.

Lantai rumah juga digosok dengan kotoran kerbau kemudian dicampur dengan air. Setelah kering disapu dan digosok dengan batu. Namun, biarpun menggunakan kotoran kerbau nyatanya tidak ada bekas bau kotoran kerbau yang tercium sama sekali.

3. Rumah terbuat dari anyaman bambu

Suasana kampung Sasak, Dusun Sade, Lombok. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Keunikan lainnya adalah dinding rumah adat Suku Sasak dibuat dari anyaman bambu. Pada bagian dindingnya, Suku Sasak menggunakan anyaman bambu yang ringan namun juga kokoh terkena guncangan.

Sementara itu, atap rumah Suku Sasak biasanya berbentuk gunungan dan terbuat dari alang-alang. Dan bahan ini juga merupakan bahan yang ringan namun tetap tahan terhadap guncangan.

Oleh sebab itu, rumah adat Suku Sasak dipercaya mampu menahan guncangan gempa.

4. Rumah adat Suku Sasak tidak dibangun sembarangan

Suasana kampung Sasak, Dusun Sade, Lombok. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Selain dari struktur dan bahan bangunannya, Suku Sasak juga masih mempertahankan tradisi untuk melakukan pembangunan rumah pada hari yang dianggap baik.

Suku Sasak juga sangat selektif dalam menentukan lahan di mana rumah akan dibangun. Tempat-tempat yang dihindari seperti bekas perapian, bekas pembuangan sampah, dan juga bekas sumur. Hal ini dilakukan karena mereka percaya bahwa rumah-rumah yang dibangun di tempat tersebut akan bernasib kurang baik.

5. Bangunanya tidak mudah roboh dan rumah adat Suku Sasak juga nyaman

Suasana kampung Sasak, Dusun Sade, Lombok. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Selain bangunannya yang terbuat dari bahan-bahan yang ringan. Rumah adat suku sasak juga memiliki pondasi yang tidak mudah roboh.

Agar tahan terhadap guncangan, rumah adat Suku Sasak juga ditopang oleh balok penyangga dari bambu yang dikaitkan dengan sistem sambung pasak. Pintu masuk rumah adat ini juga unik, sengaja dibuat serendah mungkin sebagai simbol penghormatan kepada pemilik rumah.

Rumah adat Suku Sasak juga punya sirkulasi udara yang cukup baik sebab dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Hal ini akan membuat penghuninya tetap merasa sejuk meski berada di dalam rumah.

Bagaimana menurutmu?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53