kumparan
15 Sep 2019 21:30 WIB

Butiran Es Temani Pendaki Cilik Gapai Puncak Gunung Gede

Pendaki cilik Fayyadh Qaishar Syafiq saat menggapai Puncak Gunung Gede Foto: Dok. Jaka Lelana
Pendaki cilik asal Cipondoh, Tangerang, Fayyadh Qaishar Syafiq, kembali melakukan pendakian yang kedua kalinya di Gunung Gede, Desa Suka Tani, Cipanas, Bogor, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
Menurut sang ayahanda, Jaka Lelana, sebelumnya Fayyadh juga pernah melakukan pendakian di Gunung Gede pada bulan April lalu.
"Ini pendakian Fayyadh yang kedua kalinya ke Gunung Gede, setelah sebelumnya pernah mendaki ke Gunung Cikurai, Gunung Sumbing, Gunung Karang, Gunung Merbabu, Puncak Lalana, Puncak Kencana, dan Gunung Uludag di Turki," ujar Jaka saat dihubungi kumparan pada Minggu (15/9).
Embun di Gunung Gede Foto: Dok. Jaka Lelana
Pendakian kali ini disambut butiran es yang menghampar di sekitar Surya kencana, tempat para pendaki bermalam sebelum menuju puncak Gede.
"Minggu (15/9) pagi sekitar jam 17.30 WIB rencana akan mendaki ke puncak Gunung Gede, namun cuaca cukup ekstrem, ada butiran es yg banyak menempel di rumput, pasir dan tenda pendaki yang bermalam di Surya Kencana," imbuh Jaka.
ADVERTISEMENT
Jaka mengatakan, suhu berkisar 3 sampai 5 derajat Celsius pada pagi hari, sekitar pukul 05.30 WIB, membuat sejumlah pendaki, memilih waktu lebih siang, karena terkendala cuaca ekstrem.
Pendaki cilik Fayyadh Qaishar Syafiq saat menggapai Puncak Gunung Gede Foto: Dok. Jaka Lelana
Meski cuaca ekstrem, jelang peralihan musim, ribuan pendaki tetap memadati Surya Kencana untuk melakukan pendakian dan jelajah alam.
Sementara itu, anggota tim pendamping, yang menemani Fayyadh, bernama Reza Alfarizi, mengatakan bahwa pendakian kali ini cukup menguras energi, selain jumlah pendaki yang cukup banyak dan terdapat antrian di setiap posnya.
Kali ini pendakian dilakukan melalui jalur Putri, melalui pos pertama sampai pos lima kemudian dilanjutkan bermalam di Surya Kencana dan paginya menuju puncak Gede.
Cuaca yang sangat dingin juga membuat sejumlah pendaki memilih waktu lebih siang lagi agar bisa menuju puncak. Hal ini untuk menghindari cuaca yang sangat dingin.
ADVERTISEMENT
"Cuaca ekstrem, banyak yang memilih naik puncak Gede, di atas jam 06.00 WIB pagi, biasanya dari subuh sudah berangkat," kata Reza.
Pendaki cilik Fayyadh Qaishar Syafiq saat menggapai Puncak Gunung Gede Foto: Dok. Jaka Lelana
Meski demikian, pendaki cilik berusia 11 tahun tetap bersemangat menuntaskan puncak Gede dengan ketinggian 2.958 meter di atas permukaan laut (mdpl). Fayyadh pun berhasil mencapai puncak Gede pada Minggu (15/09) pagi pukul 07.45 WIB.
Dari puncak Gede, pendaki dapat melihat secara langsung gagahnya Gunung Pangrango dan ribuan tenda yang dibangun di Surya Kencana.
"Senang, meski cuaca ekstrem, setiap mendaki ada hal baru yang bisa ditemui, terutama soal cuaca," kata Fayyadh.
Fayyadh Qaishar Syafiq (kanan) dan temannya M. Sultan Algifary si pendaki cilik saat menggapai Puncak Gunung Gede Foto: Dok. Jaka Lelana
Ada yang berbeda dengan pendakian kali ini, Fayyadh tak hanya didampingi oleh sang ayah dan anggota tim pendampingnya. Tetapi, teman sebayanya yang bernama M. Sultan Algifary.
ADVERTISEMENT
"Saya ingin mengajak temannya agar mendapatkan pengalaman yang berbeda karena kebetulan temannya juga baru pertama kali naik gunung. Pelan-pelan juga ingin mengajak anak-anak supaya mencintai alam, melepas gadget atau gim," ujar Jaka.
Tak sampai di situ, sang Ayah pun mengungkapkan keinginan Fayyadh yang ingin mendaki gunung lainnya di Indonesia.
"Rencana Gunung Rinjani dan Gunung Raung. Pas liburan sekolah nunggu momentum libur panjang," pungkas Jaka.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan