Pencarian populer

Ceburkan Anak ke Kotoran Sapi, Tradisi Unik Para Orang Tua di India

Ilustrasi ibu dan anak India. (Foto: Wikimedia Commons)

India memang punya beragam warisan tradisi dan budaya yang unik. Lihat saja tradisi bakar diri para janda yang dikenal sebagai Sati, tradisi penebusan dosa, Thaipusam atau tradisi lempar bayi dari atas balkon. Berbagai tujuan mulia menjadi alasan dilakukannya tradisi turun-temurun ini.

Selain ketiga tradisi di atas, India masih punya tradisi lain yang mencengangkan, yaitu tradisi menceburkan anak ke kotoran sapi.

Iya, kotoran sapi. Jika selama ini kita menganggap kotoran hewan adalah salah satu sumber penyakit, sepertinya penduduk desa Betul di Madhya Pradesh tidak sepakat dengan hal ini.

Ilustrasi kotoran sapi. (Foto: Wikimedia Commons)

Pasalnya, penduduk di desa ini sudah melaksanakan tradisi menceburkan anak ke kotoran sapi selama berabad-abad. Untuk melakukan tradisi ini, kurang lebih selama seminggu saat persiapan menuju perayaan Diwali, para penduduknya mengumpulkan kotoran kurang lebih dari 600 sapi dan dikumpulkan dalam satu tempat.

Tradisi Diwali (Foto: Flickr/Martin Haobam)

Diwali sendiri adalah festival terbesar dalam kepercayaan Hindu yang dilangsungkan pada tanggal 2 November di Madhya Pradesh. Sehari setelah Diwali digelar, para orang tua akan berkumpul di tempat kotoran sapi dikumpulkan sambil membawa anak-anak mereka.

Ilustrasi mengumpulkan kotoran sapi. (Foto: Wikimedia Commons)

Sebelum tradisi 'unik' ini dilakukan, para wanita yng hadir akan memanjatkan doa yang dikenal sebagai Gowardhan Pooja. Setelah itu, para orang tua akan mulai menceburkan anak mereka ke tumpukan kotoran sapi yang telah dihias dengan bunga-bunga pemujaan berwarna jingga.

Ilustrasi anak India (Foto: Flickr/Paromita)

Sebenarnya anak-anak yang diceburkan harus berusia minimal setahun, tetapi terkadang orang tua tidak peduli dan tetap menceburkan bayi kecil mereka.

Anak-anak diceburkan berkali-kali dan tidak diperkenankan menggunakan alas kaki hingga tubuh mereka terbalut kotoran. Orang tuanya bahkan tidak peduli dengan sikap menolak anak-anak mereka, meski mereka menangis, meronta, atau menendang-nendang.

Para orang tua percaya bahwa kotoran sapi adalah sesuatu yang murni dan dapat membuat anak mereka sehat, kuat, serta memiliki keberuntungan yang baik. Dilansir Mirror, Dr. Mangilal Rathore, seorang dokter umum di Pooja Hospital di Desa Betul menyatakan bahwa tradisi ini sebenarnya tidak baik untuk kesehatan si anak.

"Saya tidak akan mengkritiknya, tetapi pada saat yang sama saya juga tidak dapat menyarankan praktik ini. Karena praktik ini bisa saja sangat berbahaya bagi anak-anak, terutama bagi mereka yang punya luka di area terbuka," ujar Mangilal.

"Bakteri pada kotoran sapi juga bisa membahayakan kulit anak yang sensitif," tambahnya.

Ilustrasi sapi India (Foto: Wikimedia Commons)

Sapi memang merupakan hewan yang suci dalam budaya dan agama Hindu. Hal ini dikarenakan sosok sapi dianggap sama seperti seorang ibu, karena sama-sama menyusui anak-anaknya. Para pendeta agama Hindu di India bahkan yakin bahwa kotoran dan urin sapi bisa mengobati penyakit.

Bukan cuma itu, karena sucinya sapi di India, penduduk masa India kuno menggunakan kotoran dan kencing sapi sebagai desinfektan untuk membersihkan rumah, serta dijadikan pupuk untuk tanaman. Kepercayaan ini pula yang menyebabkan konsumsi sapi dilarang keras di India, sehingga sapi dilarang untuk disembelih.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: