kumparan
16 Feb 2018 13:34 WIB

Imlek ‘Zaman Now’ di China: Angpau Online dan Traveling

Suasana kuil saat perayaan Imlek (Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan)
Tahun Baru Imlek atau Spring Festival di China jatuh hari ini, Jumat (16/2). Tahun Baru Imlek di China ini mirip dengan tradisi mudik Lebaran di Indonesia. Warga China di daerah rantau memilih pulang ke kampung halaman untuk merayakan Spring Festival bersama keluarga besar. Mereka umumnya merayakan liburan Imlek selama 1 minggu.
ADVERTISEMENT
Saat liburan Imlek di China, warga lokal memiliki tradisi berupa makan bersama keluarga pada malam tahun baru, membagikan angpau (hongbao), membakar kembang api, menghias rumah, serta mengunjungi sanak keluarga dan sahabat.
Namun tradisi Imlek di China mulai berkembang dan berubah, salah satunya pemberian angpau. Umumnya, pemberian angpau yang menggunakan amplop berwarna merah dan berisi uang tunai diberikan kepada orang tua atau kakek kepada anak atau cucu yang belum bekerja, belum menikah atau masih bersekolah.
Kini, anak muda ‘zaman now’ di China berkirim angpao antar teman, rekan kerja dan bahkan pacar. Uniknya, pemberian angpau tak lagi berbentuk fisik, tetapi memakai aplikasi online nontunai yang disediakan oleh WeChat hingga Alipay.
WeChat dengan menu ‘Red Pocket’ bisa mengirimkan angpau ‘online’ berbasis nontunai dengan nominal unik, yakni dari RMB 0.01 sampai RMB 200 (RMB 1 = Rp 200). Kumparan (kumparan.com) sempat menerima angpau ‘online’ dengan nominal unik dari teman kelas di Xiamen University.
Aplikasi angpao online di We Chat (Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan)
Pengalaman berkirim angpau ‘online’ ini diceritakan oleh dua pelajar China, bernama Fang dan Huo kepada kumparan.
ADVERTISEMENT
Fang, mahasiswi pasca sarjana di Xiamen University, pada Tahun Baru Imlek kali ini menerima angpau fisik dari sang kakek. Namun, ia juga menerima dan mengirim ‘Red Pocket’ memakai aplikasi WeChat dari atau ke teman-temannya.
“Pengiriman angpau memakai WeChat lebih nyaman. Umumnya, pemberian angpau diberikan kepada orang tua ke anaknya, tapi sekarang makin banyak teman dan sahabat di China juga saling berkirim angpau memakai aplikasi WeChat,” ujar Fang dilaporkan kontributor kumparan di China Feby Dwi Sutianto, Jumat (16/2).
Hal serupa juga diceritakan oleh Huo, mahasiswi asal Provinsi Hebei. Huo yang kini telah berusia 22 tahun ini mengaku tak lagi menerima angpau fisik dari orang tuanya karena dianggap telah dewasa. Namun, ia justru menerima angpau ‘online’ dari aplikasi nontunai yang disediakan oleh WeChat dan Alipay. Angpau nontunai itu dikirim oleh sahabat dan sang pacar.
Angpao saat Imlek (Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan)
“Tentu aku sudah enggak menerima angpau dari orang tua. Tapi aku menerima Red Pocket memakai WeChat dan Alipay dari teman kelas, sahabat dan pacar,” ungkap Huo.
ADVERTISEMENT
Layanan angpao ‘online’ pertama kali diperkenalkan oleh WeChat, Tencent Group, pada tahun 2014. Semenjak itu, pengiriman Red Pocket berbasis aplikasi menjadi sangat popular di kalangan anak muda China. Tencent seperti dilaporkan China Daily, mencatat pengiriman angpao ‘online’ menyentuh angka 46 miliar unit pada musim Imlek tahun lalu atau di 2017.
Tempat wisata di China dipercantikan khusus Imlek (Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan)
Mudik ke Kampung Halaman hingga Traveling ke Luar Negeri
Bagi warga China yang telah berkeluarga dan bekerja, momen Spring Festival dimanfaatkan untuk pulang ke kampung halaman. Namun, generasi muda China saat ini ada juga yang memilih mengajak orang tua mereka untuk merayakan Imlek di luar negeri. Hal ini diceritakan Lin, pekerja China di Kota Xiamen, Provinsi Fujian.
“Kita biasanya merayakan Spring Festival bersama orang tua di kampung halaman. Namun beberapa tahun terakhir, generasi muda China memilih mengajak orang tuanya untuk merayakan Spring Festival di luar negeri,” ungkap Lin kepada kumparan.
Menu makanan khas Imlek di China (Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan)
Sementara Zhao dan Chen, memilih merayakan Imlek di kampung halamannya, China. Zhao, pegawai pemerintahan di Beijing, bercerita kepada kumparan bahwa ia memilih pulang ke kota kelahirannya, Liaoning, China.
ADVERTISEMENT
Sebagai pegawai pemerintahan, Zhao memperoleh jatah libur selama satu minggu. Masa liburan kali ini dipakainya untuk bertemu orang tua dan sang nenek.
“Momen Spring Festival adalah tradisi untuk berkumpul bersama keluarga, meskipun kita bekerja jauh dari kampung halaman. Kita harus balik. Tentunya, kita mengalami kesulitan mendapat tiket kereta dan bahkan harga tiket pesawat menjadi mahal,” kata wanita yang masih single ini kepada kumparan.
Sementara Chen, mengaku setiap tahunnya merayakan Imlek di daerah kelahiran sang suami di Kota Qufu, Provinsi Shandong. Wanita yang bekerja di Kota Xiamen ini, menambahkan bila tradisi Imlek dimanfaatkannya untuk berkumpul bersama keluarga besar. Selain itu, ia dan suami juga bisa menikmati hidangan khas China.
“Kita selalu makan bersama saat malam Tahun Baru Imlek. Kalau di China bagian selatan, kita biasa makan hot pot, sedangkan China bagian utara kita makan dumpling. Tahun ini, mertua ke Xiamen karena saya sedang hamil, tapi biasanya saya merayakan Spring Festival di kampung suami,” ungkap Chen.
Pelajar di Xiamen University makan bersama (Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan)
Lanjut Chen, hari berikutnya setelah makan bersama, tradisi di China ialah mengunjungi sanak saudara dan sahabat. Di saat kunjungan tersebut, ia yang telah bekerja dan menikah memberikan angpau kepada anak-anak.
ADVERTISEMENT
“Pada penanggalan China yakni tanggal 1 sampai 7, kita mengunjungi keluarga besar dan sahabat. Saat kunjungan itu, yang lebih tua memberikan angpau kepada anak-anak,” ujarnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·