Pencarian populer

Jamasan Pusaka, Tradisi Jawa Merawat Pusaka Peninggalan Nenek Moyang

Abdi dalem Kraton Yogyakarta membawa hidangan (Foto: Flickr/EA Media Syn)

Sebagai cara merawat serta menghargai peninggalan nenek moyang yang diturunkan kepada penerusnya, masyarakat Jawa umumnya melakukan tradisi jamasan pusaka.

Dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, jamasan pusaka merupakan tradisi mencuci benda-benda peninggalan nenek moyang. Benda-benda peninggalan yang dijuluki sebagai pusaka akan dibersihkan tepat pada malam 1 Suro menurut penanggalan kalender Jawa.

Pameran Keris di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) (Foto: Aria Pradana/kumparan)

Tanggal 1 Suro dipilih karena tanggal ini menjadi penanda tahun baru Islam. Selain itu, bulan Suro juga adalah bulan pertama dalam penanggalan Jawa yang diyakini sebagai bulan keramat, penuh larangan, dan pantangan.

Karenanya, masyarakat Jawa biasanya selalu menghindari bulan ini untuk melakukan kegiatan besar. Karena takut terkena tulah, seperti kesialan atau 'apes'.

Benda-benda peninggalan yang dibersihkan dalam ritual jamasan pusaka antara lain keris, tombak, kereta kencana, gamelan dan berbagai peralatan upacara. Masyarakat Jawa meyakini bahwa jamasan pusaka menjadi cara untuk menghargai secara penuh peninggalan nenek moyangnya.

Kereta kencana dalam museum di Yogyakarta (Foto: Flickr/Bryn Pinzgauer)

Nama tradisi jamasan pusaka berasal dari bahasa Jawa kromo inggil (tingkatan tertinggi dalam bahasa Jawa) 'Jamas' yang berarti cuci, membersihkan, atau mandi. Sedangkan kata 'Pusaka' menjadi sebutan bagi benda-benda yang dikeramatkan atau dipercaya memiliki kekuatan tertentu.

Misalnya saja gong, keris, tombak, kereta pusaka, dan berbagai benda lainnya. Sehingga jamasan pusaka dapat diartikan sebagai kegiatan mencuci, membersihkan, atau memandikan benda-benda keramat.

Tandu kraton (Foto: Flickr/Travis)

Dalam ritual jamasan pusaka, benda-benda peninggalan akan dicuci menggunakan warangan. Warangan adalah larutan kimia yang berasal dari perpaduan jeruk nipis dengan serbuk batu warang.

Masyarakat Jawa percaya bahwa dengan melakukan jamasan pusaka, mereka akan dihindarkan dari berbagai kesialan. Karena tradisi pencucian benda pusaka bertujuan untuk menghilangkan energi negatif atau pengaruh jahat yang coba melekat pada pusaka tersebut.

Abdi dalem di keraton Yogyakarta. (Foto: Aditia Nviansyah/kumparan)

Benda-benda pusaka peninggalan nenek moyang diyakini masyarakat Jawa berfungsi menjaga dan melindungi pemiliknya dari roh halus, kekuatan jahat dan energi negatif yang mendatangi sang empunya. Sehingga nantinya setelah dicuci, benda-benda pusaka dapat kembali melakukan 'tugasnya' dengan baik.

Drs. Murtjipto, seorang budayawan menuliskan dalam bukunya yang berjudul Fungsi dan Makna Siraman Pusaka Mangkunegaran di Selogiri Kabupaten Wonogiri (2004) bahwa jamasan pusaka bertujuan untuk mendapatkan keselamatan, perlindungan, dan ketentraman.

Karena bagi sebagian masyarakat Jawa, benda-benda pusaka peninggalan nenek moyang itu memiliki kekuatan magis yang akan mendatangkan berkah juga perlindungan jika dirawat dengan baik.

Prajurit kraton memasang sarung pada tombak (Foto: Flickr/Rokok Indonesia)

Apabila tidak dirawat, maka 'kekuatan' yang dimiliki benda pusaka akan pudar atau hilang. Dan nantinya benda pusaka akan berubah menjadi benda atau senjata biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun.

Selayaknya prosesi ritual atau upacara dalam sebuah tradisi, ada beberapa tahapan yang mesti dilakukan saat melaksanakan jamasan pusaka. Tahapan yang harus dilalui untuk melakukan jamasan pusaka yaitu,

1. Tahap pengambilan pusaka yang disimpan di tempat tertentu

2. Tahap tirakatan (bersemadi)

3. Tahap arak-arakan

4. Tahap pemandian atau jamasan pusaka.

Loading Instagram...

Jamasan pusaka tidak mesti dilakukan secara tertutup. Di Yogyakarta dan Solo misalnya, pihak keraton biasanya memberikan ruang bagi publik untuk melihat prosesi jamasan pusaka.

Bahkan tak jarang para penonton berebut mengambil air yang menetes pada pusaka yang dibasuh. Setelah dicuci, benda-benda pusaka tidak serta-merta disimpan ke dalam tempatnya seperti semula.

Prajurit Kraton Yogyakarta bersiap untuk Grebeg Maulid (Foto: Flickr/Rokok Indonesia)

Biasanya prosesi jamasan pusaka dilanjutkan lagi dengan melakukan kirab. Atau melakukan perjalanan secara berarakan atau beriringan bersama dengan warga setempat. Kirab menjadi simbol sugesti bahwa benda-benda pusaka yang dijamasi akan memberikan rakyat keberuntungan.

Dulunya, jamasan pusaka hanya dilakukan setiap satu tahun sekali pada hari Jumat pertama bulan Suro. Namun saat ini, jamasan pusakan dikemas untuk kegiatan pariwisata yang dilakukan bukan hanya di bulan Suro. Dengan alasan untuk menarik wisatawan, baik asing atau domestik.

Abdi dalem kraton bermain gamelan (Foto: Flickr/Travis)

Dari jamasan pusaka, kamu dapat menyaksikan berbagai nilai budaya Indonesia yang dapat diadaptasi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya kebersamaan, ketelitian, dan gotong royong.

Nilai-nilai tersebut terlihat dari adanya sikap anggota masyarakat untuk berkumpul dan saling membantu untuk menyiapkan ritual jamasan pusaka. Seberapa teliti mereka melakukan persiapan, baik pada masa pra, prosesi ritual, hingga pasca jamasan pusaka.

Abdi dalem di kediaman Sultan (Foto: Flickr/dany13)

Selain itu, kamu dapat melihat nilai religius yang terpancar melalui jamasan pusaka. Yaitu melalui panjatan doa dan harapan pada Tuhan yang meminta perlindungan, keselamatan, dan kesejahteraan dalam kehidupan yang dijalani.

Bagaimana dengan tradisi di daerahmu, adakah yang serupa? Silahkan tulis di kolom komentar, ya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23