Pencarian populer

Mengenal Perang Tipat, Tradisi Unik Masyarakat Adat Kapal, Bali

Perang Tipat di Desa Adat Kapal, Bali. (Foto: Youtube/@Cocet90)

Kamu pasti pernah mendengar larangan dari orang tua untuk tidak melempari makanan, karena dianggap tidak sopan. Tapi ada yang berbeda dengan penduduk Desa Adat Kapal di Badung, Bali.

Mereka melempari satu sama lain dengan makanan, atau lebih tepatnya dengan ketupat. Ya, kamu tidak salah baca, ketupat atau yang dikenal masyarakat Desa Adat Kapal sebagai tipat, digunakan sebagai 'senjata perang' dalam tradisi Siat Tipat atau yang dikenal pula dengan Tabuh Rah Pengangon.

Loading Instagram...

Dalam tradisi Siat Tipat, warga Desa Adat Kapal akan dibagi menjadi dua kelompok di bagian utara dan selatan. Kedua kelompok itu nantinya akan saling melempar ketupat dan kue bantal nasi satu sama lain, seperti sedang perang.

Karena itu juga Siat Tipat dijuluki sebagai Perang Ketupat atau Perang Tipat. Dilakukan di halaman pura, tradisi Perang Tipat kabarnya telah ada sejak 1970-an.

Loading Instagram...

Meski terlihat riuh dan anarkis, Perang Tipat sebenarnya adalah tradisi turun-temurun untuk mewujudkan rasa syukur masyarakat Desa Adat Kapal kepada Tuhan. Selain melibatkan ketupat, Perang Tipat juga menggunakan kue bantal nasi (lepet) atau ketupat yang terbuat dari beras ketan.

Penduduk Desa Adat Kapal meyakini bahwa kue bantal nasi merupakan simbol purusa atau laki-laki. Sedangkan tipat menyimbolkan unsur pradana atau perempuan.

Benturan yang terjadi di udara saat prosesi perang ketupat dipercaya penduduk setempat sebagai proses alam dari dua unsur berbeda yang menghasilkan kehidupan. Untuk mengikuti tradisi perang ketupat, setiap keluarga wajib membuat enam kue bantal dan enam tipat sebagai 'peralatan perang'.

Loading Instagram...

Tidak ada aturan baku yang mesti diikuti untuk melakukan tradisi Perang Tipat. Seluruh peserta bebas melemparkan ketupat ke arah mana pun, dan pada siapa saja yang berada di kubu lawan. Namun, biasanya para peserta pria yang mengikuti Perang Tipat tidak akan menggunakan baju atasan, dan lebih memilih bertelanjang dada.

Sebelum tradisi Perang Tipat dimulai, penduduk Desa Adat Kapal akan bersembahyang terlebih dahulu bersama keluarga di pura setempat. Ibadah tersebut akan dipandu oleh pemuka agama yang bertugas.

Setelah sembahyang bersama, pemuka agama akan memercikkan air suci pada warga. Sehingga nantinya Perang Tipat akan berlangsung dengan lancar tanpa hambatan.

Loading Instagram...

Selama kurang lebih 30 menit, para warga akan mengekspresikan rasa syukur mereka dengan saling melempari satu sama lain dengan tipat dan kue bantalnya. Mereka percaya bahwa dengan melakuan Perang Tipat, kesejahteraan akan hadir menyertai mereka dan keluarga.

Nantinya setelah Perang Tipat berakhir, warga Desa Adat Kapal akan mengumpulkan ketupat yang tersisa untuk dimakan bersama dengan keluarga. Sehingga bisa memberikan keberuntungan di masa mendatang.

Menarik, ya. Jika kamu beruntung, kamu bisa menikmati serunya tradisi Perang Tipat saat berada di Bali. Berminat?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Selasa,21/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22