kumparan
27 Mar 2018 9:03 WIB

Mengunjungi Rumah Tinggi, Pusat Tenun Pekanbaru yang Bernilai Sejarah

Rumah tenun (Foto: Helinsa Rasputri/kumparan)
Sebuah rumah kayu berwarna coklat berdiri tegak di Kampung Bandar, Senapelan tidak jauh dari Sungai Siak. Terdengar suara kayu beradu dari rumah itu dan dari jendelanya yang terbuka terlihat helaian kain dan benang berjejer rapi. Rumah tersebut berisi enam unit alat tenun tradisional atau yang lebih dikenal sebagai Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
Rumah tenun (Foto: Helinsa Rasputri/kumparan)
Rumah ini adalah Rumah Tenun atau biasanya dikenal sebagai Rumah Tinggi, sebuah rumah yang menjadi sentra tenun Siak di Kota Pekanbaru. Di rumah ini, para ibu dan remaja putri membuat kain tenun Melayu. Bagi kamu pecinta kain bermotif tradisional, kamu wajib mengunjungi rumah ini.
ADVERTISEMENT
Pasalnya di rumah yang menjadi binaan Bank Indonesia ini, kamu dapat menemukan berbagai macam kain tenun Siak dalam berbagai warna dan corak. Selain itu kamu juga dapat melihat secara langsung bagaimana kain tenun Siak dibuat.
Rumah tenun (Foto: Helinsa Rasputri/kumparan)
Ruhaya (44) salah satu penduduk Kampung Bandar yang sudah tujuh tahun menekuni pekerjaan ini, mengatakan belajar menenun tenun Siak tidak butuh waktu yang lama.
''Menenun ini enggak sulit, asalkan sudah tahu caranya. Dulu ada pelatihan satu bulan buat belajar caranya, setelah itu tinggal memahirkannya saja. Memahirkannya butuh waktu setahun,'' tuturnya ketika ditemui oleh kumparanTravel beberapa waktu lalu di Rumah Tinggi.
Rumah Tenun, Pekanbaru (Foto: Helinsa Rasputri/kumparan)
Kain tenun bermotif benang emas ini dibuat dengan berbagai corak, corak dasarnya adalah Siku Keluang, Siku Awan, Pucuk Rebung, Tampuk Manggis, Itik Pulang Petang, dan Lebah Bergayut. Benang emas yang digunakan untuk membuat kain tenun ini berasal dari benang emas sutra yang diimpor langsung dari Singapura.
ADVERTISEMENT
Ruhaya menyebut meski menggunakan motif untuk panduan membuat corak, dia merasakan masih ada corak tersulit untuk ditenun yakni Siku Keluang.
"Motifnya padat, jadi harus konsentrasi dan teliti," ujarnya.
Rumah tenun (Foto: Helinsa Rasputri/kumparan)
Warna kain tenun Siak pada dasarnya adalah merah, kuning, hijau, dan untuk para raja biasanya menggunakan warna kuning dan hitam. Tetapi, di zaman dulu, penggunaan kain tenun ini harus disesuaikan dengan warnanya, dan tidak sembarangan, setiap warna memiliki makna yang berbeda dalam budaya Melayu.
Misalnya warna kuning yang berarti kesucian dan kekuasaan, hitam yang berarti pengabdian dan keperkasaan, putih juga dapat diartikan sebagai lambang kesucian dan juga sebagai tanda berkabung, merah berarti keberanian, hijau berarti kesuburan dan keramahan, emas yang artinya kemegahan, dan biru yang diartikan sebagai kekuasaan atas lautan.
Tenun Siak, Tenun Melayu Pekanbaru (Foto: Helinsa Rasputri/kumparan)
Kain tenun Siak umumnya berukuran dua meter dengan lebar 115 sentimeter. Proses pembuatan kain ini umumnya berkisar tujuh sampai sepuluh hari per kainnya. Ruhaya sendiri biasa bekerja mulai pukul sembilan pagi hingga lima sore.
ADVERTISEMENT
Untuk mendapatkan kain tenun khas Pekanbaru ini, kamu mesti merogoh kocek sekitar Rp 600 ribu sampai Rp 1 juta per kainnya sesuai dengan tingkat kesulitan motifnya. Menurut penuturan Ruhaya, sepasang kain tenun Siak dapat dihargai mulai dari Rp 1,6 juta. Kain ini terdiri dari selendang, kain tenun untuk wanita dan kain tenun untuk pria.
Rumah tenun (Foto: Helinsa Rasputri/kumparan)
Kegiatan menenun yang saat ini menjadi bagian dari budaya penduduk Pekanbaru di Kampung Bandar berawal dari keinginan Sultan Terengganu yang ingin memberikan kesibukan yang bermanfaat bagi para anak gadis Melayu di Pekanbaru.
Ia ingin agar gadis Melayu bisa menghasilkan hal yang bermanfaat dan bernilai ekonomis, sehingga Sultan Terengganu mengundang seorang ahli tenun langsung dari Terengganu.
Tenun Siak (Foto: Helinsa Rasputri/kumparan)
Diperkirakan berdiri pada tahun 1887, rumah ini awalnya adalah rumah seorang tauke getah ternama di masanya yang bernama H. Yahya.
ADVERTISEMENT
Rumah ini memiliki banyak kisah sejarah, seperti menjadi dapur umum dan gudang logistik pada masa penumpasan pemberontakan PRRI di Sumatera Bagian Tengah hingga menjadi rumah tinggal menantu H. Yahya yaitu KH. Muhammad Syech, imam besar Masjid Raya Pekanbaru yang juga pernah menjabat sebagai kadhi (hakim perkara) Sultan Siak pada masa pemerintahan Sultan Syarif Qasim.
Rumah Tenun, Pekanbaru (Foto: Helinsa Rasputri/kumparan)
Rumah Tenun atau Rumah Tinggi ini juga terletak tidak jauh dari Kota Pekanbaru, hanya sekitar 15-20 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor.
Bagaimana, tertarik untuk mengunjunginya? Siapkan waktu, dana, dan rencanakan liburanmu ke tempat ini ya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan