Pencarian populer

Menilik Sistem Cinta Satu Malam ala Suku Mosuo di China

Mosuo Foto: Flickr/MM

Selain Suku Minangkabau, sebuah suku yang mendiami kaki Gunung Himalaya, juga menganut sistem matriaki. Menghuni lembah Yunnan di barat daya China, suku ini menempatkan otoritas dari garis perempuan.

Adalah Suku Mosuo, satu-satunya 'kerajaan wanita' yang tinggal di tepi Danau Luga, China, dengan sistem matriakinya. Menurut laporan The Vintage News, garis keturunan ibu adalah kunci keluarga terbentuk.

Selain menganut matriaki, Suku Mosuo tidak menerapkan sistem perkawinan. Justru mereka menjalankan sistem Walking Marriage atau Axia.

Mosuo Foto: Flickr/IWGIA

Walking Marriage adalah pernikahan berjalan. Maksudnya, para perempuan Suku Mosuo bisa bebas memilih pasangan seksualnya, tanpa harus ada ikatan pernikahan.

Dalam pelaksanaannya sendiri ketika perempuan sudah dianggap dewasa secara seksual, mereka akan diberikan kamar pribadi. Selanjutnya perempuan Mosuo akan ‘mengundang’ pria yang disenangi untuk tidur bersama.

Tentu, perempuan Suku Mosuo bisa mengajak lelaki yang berbeda pada setiap kesempatan. Nantinya, laki-laki tersebut akan datang setelah senja dan pergi sebelum matahari terbit.

Ketika keduanya sedang melakukan hubungan badan, sang pria harus meletakkan topi di pegangan pintu kamar wanita. Hal ini sebagai tanda agar pria lain tidak masuk ke dalam kamar.

Mosuo Foto: Flickr/Yuyang Richard Lu

Saat dibesarkan, sang anak juga tidak dibesarkan oleh kedua orang tua secara bersama. Sang ibulah yang akan merawat anaknya dengan bantuan saudara kandungannya. Sementara sang ayah tidak ada tanggung jawab untuk memberi nafkah, tinggal bersama, dan mendidik anaknya.

Selain anak yang lahir dari ayah berbeda, sistem ini juga membuat sang anak tidak mengetahui siapa ayahnya.

Mosuo Foto: Flickr/Fred Bloggs

Beberapa sumber menyebutkan bahwa sistem ini terbentuk ketika para perempuan ditinggal suami yang berdagang di jalur sutera dari China ke India. Para istri merasa sakit hati karena ditinggal begitu lama dan akhirnya mereka memilih untuk walking marriage.

Sementara arkeolog berpendapat bahwa Axia merupakan salah satu peninggalan sejarah yang berasal dari kondisi pernikahan di zaman dulu. Kemungkinan pria Mosuo dulunya adalah pedagang yang beraktivitas di daerah yang jauh dan tidak dapat bersama dengan keluarga untuk waktu yang lama, sehingga membuat gambaran atas pernikahan di suku Mosuo menjadi hilang.

Meski sudah berlangsung, dalam tulisannya, Marie Claire menyebutkan bahwa beberapa wanita Mosuo dari generasi yang lebih muda juga mendambakan pernikahan dengan ikatan. Hidup bersama pasangan di bawah satu atap seperti pasangan pada umumnya.

Bagaimana menurutmu?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: