Pencarian populer

Menyusuri Kampung Ketandan Yogyakarta yang Dikira Shanghai

Gapura di kampung Ketandan, Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Kampung Ketandan akhir-akhir ini menjadi perbincangan warganet. Kampung yang letaknya di seputaran Jalan Malioboro itu atau tepatnya Kecamatan Gondomanan, kota Yogyakarta viral setelah gapura kampung itu diunggah salah satu akun media sosial di Instagram.

Keterangan foto dari akun penyedia jasa wisata tersebut menjelaskan bahwa gapura Kampung Ketandan itu berada di Shanghai, China. Faktanya gapura tersebut berada di sisi timur Jalan Malioboro. Gang masuk kampung dihimpit pertokoan yang berjejal di Jalan Malioboro.

Suasana di kampung Ketandan, Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Jumat (14/6), kumparan berkesempatan menyusuri Kampung Ketandan. Berada di area Jalan Malioboro, hiruk pikuk aktivitas dagang masih terasa.

Memasuki gapura, di samping kiri berjajar aneka penjual kuliner. Sementara di sebelah kanan ruang kosong banyak dijejali sepeda motor untuk parkir. Sisi kanan gang itu memang berbatasan langsung dengan salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Indonesia.

Rumah makan di kampung Ketandan, Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Berjalan lurus sejauh 50 meter, kita akan menemukan nuansa bangunan dengan banyak cat merah. Tak sedikit pula rumah-rumah yang dihiasi ornamen-ornamen khas budaya Tionghoa. Lampion-lampion juga tampak di beberapa rumah.

Tiba di suatu perempatan, sisi selatan berjajar belasan toko-toko emas dan perhiasan. Dari sejarahnya, toko-toko tersebut mulai berdiri di Ketandan sekitar tahun 1950-an.

Suasana di kampung Ketandan, Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Tan Poo Giok (74), tokoh masyarakat Ketandan dan salah seorang pemilik toko emas menjelasakan seiring berjalannya waktu toko-toko emas di Ketandan Kidul ini semakin banyak hingga jumlahnya belasan seperti sekarang.

“Tahun 50-an cuma berapa toko- toko, lalu berkembang seperti jalan Jetandan ini banyak toko mas,” ujar Pria yang sudah menekuni bisnis emas sekitar 60 tahunan itu.

Patung di kampung Ketandan, Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Meski tak lahir di Ketandan, namun Poo tumbuh besar di sini, tak heran rasa cinta kepada Ketandan begitu kuat. Dia juga baru mengetahui ketika kumparan menyampaikan bahwa gapura masuk Kampung Ketandan sedang ramai dibicarakan.

“Gerbang depan baru beberapa tahun dibangun. Pembangunannya gotong royong. Sebagai pertanda masuk kampung,” ujarnya.

Suasana pertokoan di kampung Ketandan, Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Dia mengaku senang ketika mendengar Kampung Ketandan mulai dibicarakan. Dia berharap kampungnya bisa memberi sumbangsih potensi wisata kepada kota Yogyakarta.

“Sekarang kan banyak yang dituju Malioboro. Kita mengharapkan itu (Ketandan) jadi tempat wisata,” ujarnya.

Poo menjelaskan selama ini belum banyak wisatawan yang mampir ke kampungnya. Paling, kampungnya ramai saat Imlek tiba. Di situ ada sejumlah kegiatan dan bazar.

Pedagang kaki lima di kampung Ketandan, Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

“Tahun baru Imlek kita memang dianjurkan Kampung Ketandan ada seperti bazar itu hanya pas momen Imlek saja. Itu banyak yang nonton. Yang jelas banyak dari berbagai daerah nonton,” ujarnya.

Dari pantauan kumparan, sejumlah wisatawan memang hanya tampak di gerbang Kampung Ketandan yang merupakan Jalan Malioboro. Rata-rata mereka mengaku tengah jalan-jalan di Malioboro dan mampir foto di depan gerbang.

Damar (32) salah seorang wisatawan mengatakan tak mengetahui bahwa Kampung Ketandan tengah viral. “Saya mampir karena ini unik jadi foto-foto. Nggak tahu juga kalau sedang viral saya juga belum pernah masuk (ke kampung),” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo mengatakan momen viralnya Kampung Ketandan bisa menjadi kesempatan untuk menggali potensi wisata di kampung tersebut. Namun, untuk itu dibutuhkan kesiapan khususnya atraksi dan sumber daya manusia.

Suasana pertokoan di kampung Ketandan, Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

“Tentu kami tidak sendirian untuk pelestarian juga di dinas kebudayaan bersama-sama. Pasti kalau sudah siap akan kami promosikan juga tapi yang sekarang ini memang belum digarap secara baik dari sisi arsitekturnya dari sisi penyediaan story telling-nya harus disiapkan dengan baik,” ujarnya.

Selain menambah atraksi di kampung itu, Singgih juga mempunyai ide agar pedagang bisa mengenakkan pakaian khas yang bisa menambah daya tarik wisatawan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.31