kumparan
16 Sep 2019 8:54 WIB

Metamorfosa Bisnis Agen Perjalanan Wisata

Menyiapkan traveling Foto: Shutter Stocks
Bisnis agen perjalanan wisata atau travel agent telah mengalami metamorfosa. Tak hanya model bisnis, tapi bentuk pelayanan yang ditawarkan dan diminta juga mengalami perubahan signifikan seiring perkembangan peradaban masyarakat.
ADVERTISEMENT
Ketua DPD Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) DKI Jakarta, Hasiyanna S. Ashadi mengisahkan, selama dua hingga tiga dekade terakhir, model perjalanan tamu telah bergeser. Dulu, wisatawan masih suka melakukan perjalanan dalam kelompok-kelompok besar. Satu grup perjalanannya bisa berisi puluhan hingga ratusan orang.
Saat wisatawan seolah hanya mengandalkan tour operator untuk mengatur jadwal dan kegiatan perjalanan mereka. Hasiyanna menyatakan pada masa itu agen perjalanan berada di puncak kejayaannya.
Ketua DPD ASITA DKI Jakarta Hasiyanna S. Ashadi. Foto: Selfy Momongan/kumparan
“Tour operator dulu barangkali menikmati zaman saat satu macam tur bisa dua sampai tiga grup jalan sama-sama. Sekarang udah enggak ada. Jarang,” ungkap Hasiyanna di Museum Bank Indonesia, beberapa waktu lalu.
Hasiyanna mengatakan, dulu saat musim ramai, satu paket tur bisa dipesan oleh tiga hingga empat grup besar. Waktu jalannya pun hampir bersamaan. Laris manis, padat merayap.
ADVERTISEMENT
Apalagi, kala itu, pengguna jasa tour operator cenderung bersikap tahu beres. Mereka selalu pesan paket lengkap. Tinggal duduk di bus, kereta atau pesawat, dan semuanya sudah diatur oleh tour operator.
Namun, seiring berjalannya waktu, masa kejayaan tersebut pelan-pelan berubah. Grup yang tadinya beranggotakan puluhan hingga ratusan orang, kini jumlahnya mulai menyusut.
“Grupnya mengecil, lalu mulai banyak permintaan khusus. Tour operator pun banyak melakukan learning,” kenang Hasiyanna. Lalu, apa yang membuat bisnis tour operator berubah drastis?
Menyiapkan traveling Foto: Shutter Stocks
Menurut Hasiyanna metamorfosa bisnis tour operator dipelopori oleh kemajuan teknologi informasi dan internet. Tak bisa dipungkiri, adanya internet memudahkan orang untuk melakukan apapun. Termasuk merencanakan hingga melakukan perjalanan mereka.
Apalagi kini muncul online travel agent (OTA). Orang bisa memesan sendiri mulai dari tiket pesawat, hotel menginap hingga tiket atraksi di destinasi wisata tujuan.
ADVERTISEMENT
“Sekarang dengan kemajuan teknologi informasi digitalisasi orang bisa jalan sendiri-sendiri. Hampir enggak ada lagi grup-grup yang jalan dalam jumlah besar. Yang kita layani sekarang grup tanggung, sekitar delapan sampai 12 orang,” ujar Hasiyanna.
Pun akhirnya tetap ada kelompok masyarakat yang mengandalkan tour operator, bentuk layanan yang mereka butuhkan juga berubah. Permintaan yang muncul kini makin beragam. Paket tur lengkap yang disediakan tour operator, sering dirombak karena harus menyesuaikan keinginan konsumen.
Satu paket tur yang awalnya disiapkan untuk empat hari, tiba-tiba bisa saja berubah menjadi tiga hari karena permintaan konsumen. Atau dalam paket tur seharusnya terdapat jadwal untuk jalan-jalan ke pantai. Namun ternyata jadwal tersebut dihapus karena konsumen tak berminat berkunjung ke sana.
ADVERTISEMENT
Tak jarang pula, konsumen ingin memasukkan destinasi yang tidak ada sama sekali dalam paket tur. Sebab kini dengan semakin berkembangnya media sosial, muncul fenomena ‘destinasi wisata yang Instagramable’. Fenomena inipun berhasil membuat wisatawan jadi latah, ingin pula berkunjung ke tempat yang viral.
“Sekarang tamu dengan banyaknya pengetahuan yang sudah dia terima, dia enggak mau disodori paket yang biasa-biasa aja. Tour operator harus bisa menerima itu dan mengaturnya. Karena kalau tidak, dia cari ke travel agent lain yang bisa memenuhi permintaannya,” ujarnya.
Ilustrasi Ibu Hamil Merencanakan Traveling Foto: Shutter Stock
Meski demikian, seviral apapun destinasi wisata yang instragramable itu, wisatawan kadang masih ragu. Banyak detail-detail kebutuhan yang tidak bisa terjawab hanya melalui info yang bersliweran di media sosial. Apa benar destinasi itu secantik yang ada di Instagram? Apa benar di sana terdapat atraksi ini-itu?
ADVERTISEMENT
Di sinilah letak kekuatan tour operator. Menurut Hasiyanna, sebagai pihak yang berkecimpung dalam dunia pariwisata, tour operator punya informasi yang lengkap mengenai suatu destinasi wisata. Maka tak berlebihan jika tour operator juga disebut sebagai konsultan perjalanan. Ujung-ujungnya, wisatawan kembali lagi mengandalkan tour operator.
Dengan serangkaian metamorfosa tersebut, Hasiyanna masih optimistis bahwa tour operator merupakan bisnis yang tetap berkelanjutan. Dengan syarat, setiap tour operator mau melakukan perubahan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.
“Membutuhkan kejelian dalam merangkai perjalanan. Kemudian kreatifitas. Lalu juga menguasai destinasi baru. Kita nyebutnya kemana, dia nyebutnya ke tempat lain. Itu travel agent harus bisa menyesuaikan,” tutupnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan