kumparan
18 Mei 2019 11:02 WIB

Oleh-oleh Bikin Repot

Turis asing sedang berbelanja oleh-oleh di Pasar Ubud, Bali. Foto: Helinsa Rasputri/kumparan
“Yang penting oleh-oleh, ya, elo enggak usah balik juga enggak apa-apa!”
ADVERTISEMENT
Pastinya kamu familiar dengan kalimat di atas. Kalimat-kalimat ‘menjengkelkan’ ini muncul tiap kali kamu pamit untuk traveling atau saat media sosialmu menunjukkan dirimu tengah berlibur di suatu tempat.
Mulai dari yang sekadar basa-basi hingga yang benar-benar memohon dengan meminta barang secara spesifik. Cara penyampaiannya pun beragam, dari yang bernada gurauan hingga sarkasme.
Saking lekatnya citra oleh-oleh dengan perjalanan, jangan heran jika setiap daerah selalu berusaha memunculkan cirinya masing-masing. Sehingga terkadang, perjalananmu belum afdal rasanya jika tidak membawa oleh-oleh yang menjadi ciri khas tempat tersebut, setidaknya untuk dirimu sendiri.
Kain Tenun khas Labuan Bajo yang dijual di Pulau Komodo Foto: Helinsa Rasputri/kumparan
Mau tidak mau, suka tidak suka, oleh-oleh seakan menjelma jadi syarat tak tertulis suatu perjalanan. Tidak hanya perjalanan liburan, permintaan membawa oleh-oleh juga kerap disampaikan pada teman yang melakukan perjalanan dinas atau tetangga yang mudik ke kampung halaman. Alhasil, tidak membawa oleh-oleh bisa jadi akan menimbulkan konsekuensi sosial bagi yang melakukan perjalanan.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, kebiasaan meminta oleh-oleh dan sanksi sosial bagi mereka yang tidak mempedulikannya, membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Apalagi bagi traveler yang jalan dengan bujet ngepas, membeli tiket promo dengan penuh perjuangan, dan sebisa mungkin meminimalisasi jajan saat berada di destinasi tujuan.
Pro Kontra Oleh-Oleh
Pedangan oleh-oleh di pasar Ubud siap melayani pembeli dengan ramah. Foto: Shutterstock
kumparan membuat sebuah voting kecil-kecilan, menggunakan fitur yang terdapat dalam aplikasi Instagram tentang ‘kewajiban’ membawa oleh-oleh sepulang traveling. Hasilnya dari 250 responden, 60 persen di antaranya menolak untuk membawakan oleh-oleh.
Selain merepotkan, ada beberapa di antara responden yang mengatakan bahwa membawa oleh-oleh menjadi salah satu bentuk pemborosan anggaran. Padahal uangnya bisa ditabung untuk perjalanan berikutnya. Sedangkan 40 responden lainnya, yang setuju membawa oleh-oleh sepulang perjalanan, biasanya memang sudah terbiasa atau terkadang sungkan pada teman.
Sarung Bali, salah satu oleh-oleh yang dapat dijumpai di pasar Ubud, Bali. Foto: Shutterstock
Jessica Stephanie, misalnya, memilih menyembunyikan ´keberadaannya´ ketika traveling, semata-mata agar ia tidak dimintai atau dititipi oleh-oleh. Sangat berbeda dengan traveler milenial yang kebanyakan mengabadikan tiap proses traveling-nya lewat sosial media.
ADVERTISEMENT
“Jujur, gue anaknya paling malas repot, apalagi dititipin oleh-oleh atau jastip. Makanya kalau jalan-jalan, pasti update-nya pas sudah pulang,” alasannya saat melakukan voting lewat aplikasi Instagram (13/5).
Oleh-oleh berbentuk miniatur burung hantu di Pasar Ubud, Bali. Foto: Helinsa Rasputri/kumparan
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mellytia Ayukristi Endriani, mahasiswa pascasarjana di Universitas Diponegoro, Semarang. Ia sering mengemban misi budaya untuk menari di negara-negara asing. Melly awalnya sering membawa oleh-oleh. Seiring waktu, ia menyadari, barang yang dibawakan kerap tak dipakai.
Eman (sayang) banget! Apalagi kalau di sana (negara asing) enggak bisa nyobain macam-macam karena uang yang terbatas dan cuma buat oleh-oleh. Jadi egois aja sekarang, gila, aku aja pergi enggak dapat uang saku, masa mesti kasih oleh-oleh juga?” ungkapnya geram saat dihubungi lewat aplikasi pesan WhatsApp pada Rabu (15/5).
Ilustrasi wisatawan sedang memilih oleh-oleh. Foto: Shutterstock
Lain pula dengan Ruth Helga. Wanita yang bekerja sebagai reporter di salah satu stasiun televisi swasta itu kerap membawa oleh-oleh sepulang liburan, mudik, atau liputan luar kota. Tak perlu banyak-banyak, cukup untuk timnya saja.
ADVERTISEMENT
“Karena aku (orangnya) enggak enakan. Soalnya mereka kerja buat aku juga, tapi enggak bisa ikut makan di kota itu, jadi kubawakan kudapan,” katanya saat dihubungi via WhatsApp oleh kumparan.
Setali tiga uang dengan Helga, Aldio Mahadika juga menuturkan hal yang sama. Ia biasanya membawa oleh-oleh sebagai wujud terima kasih pada rekan kerjanya.
“Karena udah dikasih izin cuti, terus kerjaannya juga dibantuin, apalagi kalau yang cuti cuma aku doang dan jangka waktunya lumayan lama,” jelasnya saat ditemui kumparan pada Sabtu (11/5) di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.
Apa Sih Oleh-Oleh?
Kata oleh-oleh sudah pasti bukan barang baru bagi masyarakat Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, oleh-oleh diartikan sebagai sesuatu yang dibawa dari bepergian; buah tangan.
ADVERTISEMENT
Menurut Lugina Setyawati, Senior Researcher & Lecturer Universitas Indonesia, oleh-oleh hampir mirip dengan suvenir. Kata suvenir berasal dari bahasa Prancis, yaitu Souvenir yang memiliki beberapa arti, di antaranya adalah hadiah kecil sepulang wisata, memori dan kenang-kenangan.
Lugina Setyawati, Senior Researcher & Lecturer Universitas Indonesia. Foto: Helinsa Rasputri/kumparan
“Jadi intinya, dalam sosiologi, suvenir itu adalah produk, objek, material yang menyambungkan antara pembeli, penjual, tempat, space, sehingga saya merasa ikatan memori saya dengan tempat itu tidak hilang, semacam pembuktian bahwa saya pernah ke sana,” papar Lugina saat ditemui di kantornya di Universitas Indonesia pada Senin (13/5).
Selain suvenir, masih ada banyak lagi sebutan yang kerap disematkan pada oleh-oleh, di antaranya buah tangan, tanda mata, cenderamata. Namun, Sejarawan sekaligus founder Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali berpendapat tidak ada istilah yang benar-benar tepat dan cocok untuk menggambarkan oleh-oleh.
ADVERTISEMENT
“Oleh itu dalam bahasa Inggris, kan, 'by'. Kata oleh-oleh itu pengulangan, berarti bukan untuk dirinya sendiri tapi dari orang lain. Jadi, barang yang saya punya adalah oleh-oleh dari dia (orang lain), yang dia beli dan bawakan untuk kita, begitu maksudnya. Kalau yang kita beli untuk diri kita sendiri, tidak bisa disebut oleh-oleh,” tutur Asep Kambali, Senin (13/5).
Pasar Ubud, salah satu pasar tradisional yang menjual beragam oleh-oleh khas Bali. Foto: Shutterstock
Dari penuturan Asep, suatu barang hanya dapat dikatakan oleh-oleh jika diberikan oleh orang lain. Tanda mata atau cenderamata berarti sesuatu yang telah dilihat oleh mata dan diberitahukan pada orang lain lewat perwujudan barang. Sedangkan, kenang-kenangan yang dibeli untuk konsumsi pribadi, lebih tepat dijuluki sebagai buah tangan.
“Kalau istri saya beliin kaos terus saya pakai, itu namanya suvenir, memang oleh-oleh, tapi bukan kenang-kenangan, karena ada masa habis atau rusaknya,” tambahnya lagi.
Ilustrasi Oleh-oleh. Foto: Shutter Stock
Oleh-oleh, menurut Triyono Lukmantoro, Dosen Sosiologi Komunikasi di Universitas Diponegoro, dapat memiliki arti yang berbeda, tergantung pada pemberinya. Bisa merupakan suatu bentuk ketulusan berbagi yang dilakukan orang-orang sehabis bepergian. Di lain sisi, bisa pula memiliki arti terselubung sebagai tindakan pamer.
ADVERTISEMENT
“Simpelnya seperti itu. Untuk menunjukkan bahwa dia memang secara material mampu, dan juga mampu pergi ke tempat wisata tertentu,” ungkap pria berambut gondrong tersebut. “Jadi, ini adalah sebagai suatu bentuk saya berbagi, tapi secara terselubung bisa jadi untuk pamer.’’
Prof. Dr. Agus Aris Munandar, Ahli Sejarah Kuno dan Arkeologi Indonesia. Foto: Helinsa Rasputri/kumparan
Ada tiga makna yang terkandung dalam oleh-oleh menurut Prof. Dr. Agus Aris Munandar, Ahli Sejarah Kuno dan Arkeologi Indonesia. Pertama, sebagai bentuk penghormatan pada orang yang akan menerima pemberian. Makna kedua yakni ungkapan sayang pada orang yang akan diberi oleh-oleh.
Makna ketiga adalah bukti dari perjalanan. Tanda bahwa ketika seseorang pergi ke Denpasar, mereka akan membawa barang tertentu yang dapat mengingatkan mereka pada kota itu. Namun makna ketiga ini sebenarnya berlaku apabila oleh-oleh dibeli untuk konsumsi sendiri. Bagi Prof Agus, oleh-oleh tidak selamanya diberikan pada orang lain, tetapi juga bisa disimpan untuk koleksi sendiri.
ADVERTISEMENT
Konsep Pemberian
Berbicara tentang oleh-oleh, berarti bercerita tentang yang memberi dan yang diberi. Prof Agus mengatakan bahwa ada konsep pemberian yang perlu dipahami sebelum kita meminta atau memberi oleh-oleh untuk orang lain.
“Oleh-oleh itu, konsep atasnya, yang paling atas itu adalah konsep pemberian, ya. Jika digambarkan dalam sebuah bagan, maka dalam konsep pemberian terdapat dua sisi, yaitu yang berkaitan dengan sisi kekuatan religius dan yang satunya dari sisi sosial,” jelasnya.
Konsep Pemberian dalam Masyarakat menurut Prof. Dr. Agus Aris Munandar (Ahli Sejarah Kuno dan Arkeologi Indonesia) Foto: Nunki Lasmaria Pangaribuan/kumparan
Pemberian paling tinggi dari sisi religius adalah dana atau hadiah untuk kegiatan keagamaan. Misalnya, dana atau pemberian kepada dewa dan akan diupayakan bagaimanapun caranya. Bentuknya beragam seperti arca emas, kayu cendana, atau emas yang akan ditaruh di candi.
ADVERTISEMENT
Tingkatan kedua yang lebih rendah dari dana religi adalah sumbangan untuk upacara. Baik di masa lalu maupun di masa kini, orang-orang biasanya akan berbondong-bondong menyumbang untuk acara-acara keagamaan atau ibadah tertentu, terutama jelang hari-hari besar keagamaan.
Level ketiga adalah sedekah yang dilakukan secara sukarela tanpa mengharapkan apa-apa selain pahala atau amal baik. Dan tingkatan yang terakhir adalah hadiah. Diberikan secara cuma-cuma pada orang lain, tanpa diminta, tanpa mengharapkan imbalan, tanpa ekspektasi tertentu.
Piring porselen aneka motif dan warna biasanya dijadikan untuk pajangan dinding. Foto: Shutterstock
Di sisi sosial, tingkatan tertinggi berada pada pemberian berupa upeti, biasanya diberikan kepada raja, yang pada masa lalu dianggap sama agung dan sederajat dengan dewa. Sehingga mestinya akan mendapatkan barang-barang yang bagus, unik atau bahkan aneh sebagai tanda persembahan.
ADVERTISEMENT
“Misalnya membawa persembahan pada raja Majapahit, Hayam Wuruk, dia mempersembahkan yang aneh-aneh seperti burung kasuari, dan lain-lain. pokoknya upeti untuk raja. Enggak banyak-banyak sih, cuma yang paling bagus, sebagai tanda persembahan,” jelas Prof. Agus.
Tingkatan kedua yang lebih rendah dari upeti adalah potlatch. Potlatch merupakan pengembangan dari barter yang dilakukan dari suku bangsa ke bangsa lainnya, sebagai aktivitas tukar-menukar sebelum hadirnya uang. Oleh sebab itu, Potlatch dapat diartikan sebagai bentuk pemberian yang mengharapkan sesuatu.
Salah satu oleh-oleh dari Jawa Barat, wayang golek. Foto: Shutterstock
Bentuk timbal baliknya bisa berupa barang atau jasa sesuai dengan kesepakatan. Sehingga dalam potlatch ada kewajiban untuk memberi, dan ada kewajiban menerima dengan janji untuk membayar kembali.
Jika salah satu pihak ingkar, maka potlatch dianggap batal. Semula potlatch dilakukan suku bangsa di Pasifik. Di Indonesia, kita mengenalnya sebagai gotong-royong, saling membantu atau tolong-menolong.
ADVERTISEMENT
“Saya membantu kamu bikin rumah, nanti kalau saya bikin rumah, kamu juga bantu saya, ya. Nah itu tuh potlatch yang baik,” jelasnya.
Gelang dengan aneka bentuk dan warna kerap dipilih wisatawan sebagai oleh-oleh. Foto: shutterstock
Tingkatan yang lebih rendah dari potlatch adalah reward dan award, yaitu penghargaan. Baik apresiasi karena jasa maupun prestasi dalam sebuah kejuaraan.
Jenjang akhir yang paling rendah dari konsep pemberian di sisi sosial adalah oleh-oleh. Ia berdiri sejajar dengan hadiah. Diberikan tanpa permintaan, tanpa paksaan, tanpa ekspektasi lebih.
“Tapi kalau kita memberikan oleh-oleh, waktu saya ke Bali, dan kemudian saya berharap, nanti kalau elu ke mana, gue minta ya, itu sudah potlatch, dia tak lagi oleh-oleh,” kata pria berkacamata itu.
Story mengenai oleh-oleh bikin repot bisa disimak di konten spesial kumparan: Oleh-oleh bikin repot.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan