kumparan
18 Mei 2019 12:28 WIB

Ragam Oleh-oleh Buruan Traveler

Ilustrasi Oleh-oleh. Foto: Shutter Stock
“Mana oleh-olehnya?”
Mungkin kata-kata itu sudah tak asing di telinga. Sehabis berkelana, entah ke mana dan untuk kepentingannya apa, todongan buah tangan selalu terlontar dari mulut orang sekitar.
ADVERTISEMENT
Oleh-oleh pun tak melulu soal makanan khas, gantungan kunci, atau magnet kulkas. Namun, bisa juga berupa foto dan kenangan.
Lugina Setyawati Setiono, Senior Researcher & Lecturer dari Universitas Indonesia, menuturkan bila kata suvenir berasal dari bahasa Prancis yang berarti mengingat. Jadi, secara luas oleh-oleh bisa berupa ingatan.
“Ingatan ketika saya pergi juga bisa jadi suvenir. Misalnya saya kemarin ada tamu dari Belanda, saya bagikan foto dia melalui WhatsApp waktu dia lagi ceramah. Buat dia it's a good souvenir. Jadi, souvenir enggka mesti selalu dalam bentuk barang (ada juga dari) objek terlihat yang membangun ikatan, memori dengan tempat yang pernah didatangi,” kata Lugina saat ditemui kumparan pada Senin (15/5).
Ilustrasi Oleh-oleh. Foto: Shutter Stock
Sementara di dalam Sosiologi, Lugina menuturkan bila suvenir merupakan produk, objek, material yang menyambungkan antara pembeli, penjual, tempat, dan space. Sehingga, ikatan memori dengan tempat yang pernah didatangi tidak hilang atau dengan kata lain sebagai pembuktian bahwa pernah ke sana.
ADVERTISEMENT
Lantas, bagaimanakah pandangan beberapa pemilik toko yang memproduksi sekaligus menjual oleh-oleh perihal tradisi tak tertulis ini?
Gusti Ngurah Anom alias Ajik Krisna, tokoh di balik suksesnya outlet Krisna di Bali, mengatakan ‘tradisi’ buah tangan muncul dari kultur ketimuran Indonesia yang mempunyai karakter ramah tamah. Sifat tersebut ditandai dengan memberikan cendera mata kepada orang-orang dekat.
Ajik Krisna, Pemilik Toko Oleh-oleh Krisna di Bali. Foto: Dok. pribadi Aji Krisna
Ada perbedaan soal pilihan cendera mata dari wisatawan lokal dan mancanegara di gerai Ajik. Pengunjung dari Eropa, Asia, dan Australia, kerap memburu barang berupa kain, kaus, hingga camilan khas Bali.
Sementara itu, turis lokal biasanya lebih senang membeli baju, kaus, gantungan kunci, dan camilan. Mereka juga tak jarang memburu aroma terapi, lulur, dan kain motif khas Bali.
ADVERTISEMENT
“Oleh-oleh paling banyak diincar itu baju dan kaos yang bertuliskan BALI. Kemudian camilan khas Bali, seperti pie susu, pia, kacang matahari, kopi dan sebagainya,” tutur Ajik, saat diwawancarai kumparan melalui aplikasi WhatsApp.
Bila turis asing banyak yang membeli oleh-oleh di outlet Krisna, beda cerita dengan toko oleh-oleh yang menjual khas Lombok, Lombok Exotic. Menurut sang pemilik, Haryono Aviputra, turis asing justru kurang berminat membeli buah tangan, berbeda dengan turis lokal yang kerap memborong cendera mata untuk sanak keluarga, bahkan tetangga.
“Pengunjung kebanyakan tamu dari Indonesia, oleh-oleh yang mereka cari kebanyakan t-shirt,” ujar Haryono, melalui sambungan telepon, Kamis (16/05)
Toko Oleh-oleh Exotic Lombok, Nusa Tenggara Barat. Foto: Dok. Exotic Lombok
Outlet yang dirintis sejak 2011 silam itu menjual aneka produk khas Lombok. Mulai dari t-shirt, aksesoris, kaus, hingga kain dengan beragam kualitas dan harga.
ADVERTISEMENT
Ada pula Mohamad Ardiansyah, pemilik Betawi Online. Pria kelahiran 1991 ini membuka dua outlet dan juga mengandalkan website untuk menjual buah tangan khas Jakarta meski dirinya sebenarnya ia tidak tahu asal muasal tradisi oleh-oleh.
Saat diwawancara oleh kumparan, Kamis (16/05), dirinya menuturkan bila miniatur ondel-ondel jadi barang paling laku.
“Turis lokal biasanya mengincar camilan dan aksesoris kecil berupa gantungan kunci atau miniatur monas yang menjadi ikon Jakarta. Turis asing juga tidak jauh berbeda,” paparnya.
Gerai Betawi Online. Foto: Mohammad Ardiansyah
Lebih lanjut, menurut Ardiansyah, umumnya turis lokal mengincar dan tertarik pada minuman, camilan atau suvenir yang dijual di tokonya dengan harga terjangkau.
“Pelanggan saya lebih ke anak-anak yang suka sama ondel-ondel. Nah, kalau bicara oleh-oleh Jakarta hampir jarang sekali yang cari,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
Ardiansyah menuturkan untuk pengunjung lokal biasanya berasal dari Jawa Barat, Medan, dan Padang. Sementara dari luar negeri, ada tamu dari Jepang, Amerika dan Australia.
Sementara, beberapa traveler memilih membawa oleh-oleh untuk keluarga serta teman sekantor ketimbang dirinya sendiri. Seperti Hesti Widianingtyas yang tak mempedulikan soal suvenir. Ia lebih mengutamakan waktu, serta momen berharga untuk mengeksplorasi tempat yang dikunjunginya.
Gerai Betawi Online. Foto: Mohammad Ardiansyah
“Kalau buat diri sendiri enggak (beli oleh-oleh), karena gue enggak begitu suka beli suvenir dan lebih penting momen pas di sana, foto-foto, cerita dengan orang lokal dan nyobain langsung makanannya,” terang Hesti.
Meski begitu, ia tetap akan membelikan buah tangan untuk keluarga di rumah dan teman kantor. Biasaya Hesti membawakan makanan khas atau magnet kulkas.
ADVERTISEMENT
Hampir sama dengan Hesti, Junot (bukan nama sebenarnya) juga memprioritaskan membeli makan khas dan baju untuk keluarganya terlebih dulu. Bila ada uang lebih, barulah Junot membeli gelang atau gantungan kunci untuk dirinya sendiri.
“Orang tua sih yang wajib dibeliin karena biar mereka ngerasain juga senengnya kita walaupun enggak bisa ikut pergi minimal dapet oleh-olehnya biar tahu (walau) kita senang, tapi masih ingat sama mereka,” ungkapnya saat ditemui kumparan, Rabu (15/05).
Kain tenun menjadi salah satu oleh-oleh khas Lombok, NTB. Foto: Aria Sankhyaadi/kumparan
Senada dengan Junot, Shika pun juga lebih memilih membawakan kerabat kantor dan keluarga camilan atau makanan khas. Sementara untuk dirinya sendiri, ia justru tak membelikan apapun sebagai tanda pengingat.
“Nah ini jarang, karena pada akhirnya cendera mata itu buat pajangan doang, karena biasanya kurang fungsional. Gua beli kain tenun buatan orang Baduy Dalam enggak pernah kepake tuh, enggak ada occasion soalnya,” katanya.
ADVERTISEMENT
Tak hanya itu, kumparan juga melakukan survei kecil-kecilan melalui Instagram terkait oleh-oleh yang biasanya dibeli. Dari 30 responden yang masuk, 19 di antaranya memilih untuk membawa makanan khas, 2 responden membawa magnet kulkas, 3 orang memilih gantungan kunci, dilanjutkan dengan 2 orang memilih postcard, kemudian 2 responden lainnya memilih membawa kerajinan khas, dan 1 orang yang selalu membawa minuman tradisional.
Nah, kalau kamu bisanya membawa oleh-oleh apa?
Story mengenai oleh-oleh bikin repot bisa disimak di konten spesial kumparan: Oleh-oleh bikin repot.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan