kumparan
20 Sep 2019 9:04 WIB

Terdampak Karhutla, Bagaimana Nasib Orang Utan di TN Tanjung Puting?

Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang terdampak Karhutla Foto: Dok. Balai TN Tanjung Puting
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di berbagai titik di Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran ini sontak menimbulkan kabut beracun yang menyebar hingga ke Singapura dan Semenanjung Malaysia.
ADVERTISEMENT
Akibatnya, kesehatan masyarakat mulai terganggu. Tak hanya itu, karhutla juga mengancam keberadaan satwa liar, seperti orang utan yang berhabitat asli di Kalimantan dan Sumatera.
Petugas di Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang terdampak Karhutla Foto: Dok. Balai TN Tanjung Puting
Dikutip dari Strait Times, Kamis (19/9) The Borneo orang utan Survival Foundation mengatakan kabut asap akibat karhutla berdampak pada ratusan orang utan yang kini dalam perawatan di pusat penyelamatan dan tempat perlindungan satwa liar.
“Asap tebal tidak hanya membahayakan kesehatan staf kami tetapi juga mempengaruhi 355 orang utan yang saat ini kami rawat,” ujar The Borneo Orangutan Survival Foundation. “Sebanyak 37 orang utan muda diduga tertular infeksi pernapasan ringan,” tambahnya.
Sementara itu, kebakaran hutan juga melanda Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Hingga Selasa (17/9) lalu, sekitar 760 hektar kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang terbakar telah berhasil ditangani.
Orang Utan di Taman Nasional Tanjung Puting Foto: Shutter Stock
Kejadian kebakaran tersebut sudah menyebar di tujuh resort pada tiga Seksi Pengelolaan Taman Nasional, yaitu SPTN I Pembuang Hulu, SPTN II Kuala Pembuang, dan SPTN III Tanjung Harapan.
ADVERTISEMENT
Padahal, taman nasional ini juga merupakan habitat asli bagi orang utan. Meski demikian, pihak Balai TN Tanjung Putih mengonfirmasi bahwa hingga kini tidak ditemukan orang utan yang tewas karena karhutla.
“Tidak ada sampai saat ini,” ujar Humas Balai TNTP, Efan Ekananda, kepada kumparan, Kamis (19/9).
Petugas di Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang terdampak Karhutla Foto: Dok. Balai TN Tanjung Puting
Sebelumnya, Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Puting juga menyatakan hal senada. Pihaknya tidak menemukan adanya satwa liar yang terdampak. Besar kemungkinan satwa-satwa tersebut telah menjauh dari titik-titik kebakaran.
“Sementara ini Alhamdulillah belum ditemukan kehidupan liar yang terkena dampak kebakaran. Kemungkinan satwa secara insting berpindah mencari daerah yang lebih aman, jauh dari titik api dan dekat sumber air dan pakan,” ujarnya.
Petugas di Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang terdampak Karhutla Foto: Dok. Balai TN Tanjung Puting
Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature, habitat alami orang utan menyusut secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir. Populasi orang utan di Kalimantan telah merosot dari sekitar 288.500 pada tahun 1973 menjadi sekitar 100.000 saat ini.
ADVERTISEMENT
Asap beracun yang disebabkan oleh kebakaran hutan merupakan masalah tahunan bagi Indonesia. Hal ini diduga disebabkan adanya pembakaran oleh oknum-oknum tertentu untuk membuka lahan baru. Tahun ini kondisi karhutla semakin diperburuk karena cuaca yang sangat kering.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan