Pencarian populer

Torehan Nilai Kehidupan di Rumah Adat Mollo, Nusa Tenggara Timur

Rumah bulat masyarakat adat Mollo (Foto: Instagram/@bertinakbar)

Setiap suku di Indonesia memiliki rumah adat dengan ciri khas dan karakteristiknya masing-masing. Rumah adat dibangun bukan hanya menjadi tempat untuk berpulang bagi anggota keluarga, tetapi juga untuk berlindung dari sengatan sinar matahari, hujan, dan binatang buas.

Begitu juga dengan masyarakat adat Mollo yang tinggal di Kota Soe, Kabupaten Timur Tengah Selatan. Bagi mereka, rumah bukan sekadar bangunan belaka. Tapi menjadi tempat dari mana marga berasal, kekayaan atau ekonomi, dan tempat pertama kali anggota keluarga mendapat pengetahuan. Sehingga masyarakat Mollo menganggap bahwa rumah memiliki roh dan arti penting dalam kehidupan.

Hal ini lantas menjadikan masyarakat adat Mollo akan selalu ingat dengan rumah, meski kemana pun ia pergi. Karena mereka mendapat pengetahuan awal dari orangtua saat berada di rumah.

Rumah bulat masyarakat adat Mollo (Foto: @bandanaku)

Dekat dan sangat memuja alam, rumah adat penduduk Mollo dibuat dengan menggunakan bahan-bahan alami. Rumah bulat (sebutan untuk rumah adat Mollo) memiliki atap dari ilalang yang telah dikeringkan. Sedangkan untuk tiang dan dinding bangunannya dibuat dari kayu.

Memiliki bentuk mirip Honai, rumah adat dari Papua, rumah bulat didesain berbentuk membulat dengan atap yang agak mengerucut.

Tak sembarang dibuat, lewat bentuknya, rumah bulat bercerita tentang kesetaraan dalam keluarga dan nilai-nilai kehidupan. Aleta Baund, seorang aktivis lingkungan dari Mollo menceritakan arti dari setiap sisi rumah bulat.

Dalam acara bertajuk Walacea Public Talks (11/10), ia menuturkan bahwa rumah bulat mampu mencerminkan kesetaraan dan kerja sama dalam keluarga.

''Berbicara tentang hubungan masyarakat adat dengan rumah, di dalam rumah ada empat tiang penyangga. Masing-masing tiang menjadi simbol ayah, ibu, anak laki-laki dan perempuan.

Rumah bulat masyarakat adat Mollo (Foto: Wikimedia Commons)

Sehingga perannya sama, sama-sama menopang atap agar rumah dapat berdiri tegak, jadi tidak ada pengecualian. Tiang penopang itu juga menjadi pertanda bahwa rumah bisa menjadi tempat tinggal bagi pria dan wanita," katanya pada kumparanTRAVEL saat ditemui di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat.

Menurut penuturan wanita yang lebih akrab disapa sebagai Mama Aleta itu, rumah bulat akan menjadi tempat anak-anak laki tinggal bersama dengan keluarganya setelah mereka menikah. Sedangkan anak-anak perempuan akan keluar dari rumah mengikuti pria yang mempersuntingnya.

"Rumah bulat dibangun oleh para pria dari masyarakat Mollo. Sejak masih remaja, mereka diajarkan untuk membangun rumah sendiri sebagai tempat bernaung bagi keluarganya kelak ketika ia menikah," cerita Mama Aleta.

Dari penuturan Mama Aleta, rumah bulat nantinya akan diturunkan pada salah satu anak laki-laki dalam keluarga, sehingga menjadi warisan turun-temurun masyarakat adat Mollo.

Aleta Baund (Mama Aleta), Aktivis dari Timur Tengah Selatan (Foto: Helinsa Rasputri/kumparan)

Hanya memiliki satu pintu dan atap berbentuk bulat, rumah adat milik masyarakat adat Mollo itu secara simbolik mengajarkan kamu untuk memahami bahwa hanya ada satu keputusan dalam keluarga. Keputusan tersebut datang hanya dari satu pintu, sifatnya bulat, dan tidak dapat diganggu gugat.

Tinggi pintunya yang hanya berukuran sepertiga manusia dewasa mengartikan bahwa tamu yang datang harus tunduk pada tuan rumah, nenek moyang, dan tentunya Tuhan.

Selain itu, rumah bulat juga tidak memiliki sekat untuk pembagian rumah. Dalam satu ruangan, kamu bisa melihat lemari, tempat tidur, ruang tamu, dapur, dan hasil bumi disimpan dengan begitu apik.

Keberadaan tungku api di dalam rumah bulat seakan menjadi cara masyarakat adat Mollo memelihara kebersamaan sekaligus menghangatkan tubuh dari terpaan cuaca dingin.

Dari kebiasaan masyarakat adat yang masih mendiami rumah bulat, kamu dapat melihat bagaimana anggota keluarga memahami peran mereka dan nilai mereka dalam keluarga. Sehingga tidak akan terjadi kesenjangan atau fenomena menomorduakan wanita dalam keluarga maupun masyarakat.

Wah, Indonesia benar-benar kaya, ya. Setiap aspek budayanya mulai dari tarian, ritual, hingga rumah adat memiliki filosofinya masing-masing. Itu tadi kisah dari masyarakat adat Mollo di NTT, bagaimana dengan budayamu?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57