Pencarian populer

4 Jenis Kebaya dan Pakemnya Menurut Desainer Musa Widyatmodjo

Fashion Show busana rancangan Anne Avantie di Jakarta Fashion Week 2019. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Kebaya merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang tak ternilai harganya. Busana ini telah dikenakan oleh perempuan Indonesia sudah sejak lama. Tak heran bila berbagai pihak berusaha melestarikan kebaya.
ADVERTISEMENT
Salah satunya adalah Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia yang sejak tahun 2014 telah menggagas gerakan Selasa Berkebaya. Misi mereka agar kebaya tidak hanya dikenakan pada acara khusus saja, tetapi bisa dipakai sehari-hari juga.
Menteri Susi Pudjiastuti pada Anne Avantie Foto: Garin Gustavian/kumparan
Pilihan untuk memakai kebaya pun beragam. Saat ini, ada berbagai macam model kebaya yang bisa menjadi pilihan kita.
Tapi sebenarnya, apa saja jenis kebaya Indonesia dan bagaimana pakem atau pedoman bentuk dan padanannya?
Berikut penjelasan desainer Musa Widyatmodjo pada diskusi ‘Indonesia Berkebaya’ di Museum Nasional, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Kebaya Kartini
Padukan tidak dengan sarung tapi dengan kain panjang! Demikian resep budaya kebaya Kartini menurut Musa.
Seperti namanya, kebaya ini terinspirasi oleh Raden Adjeng Kartini. Ia selalu mengenakan kebaya dengan bagian depan yang tertutup dan tidak menunjukkan kemben.
ADVERTISEMENT
Kebaya Noni
Anne Avantie Fashion Show Foto: Garin Gustavian/kumparan
Kebaya Noni terisnpirasi dari noni-noni Belanda. Jika di Eropa mereka memakai gaun putih, di Indonesia mereka memakai kebaya putih. Alasannya? Memakai gaun di Indonesia yang memiliki iklim tropis sangat tidak praktis! Melihat banyak perempuan Indonesia yang mengenakan kebaya, mereka pun ikut memakainya dengan mengaplikasikan ciri khas mereka.
“Kebaya noni aslinya bukan dibordir tapi direnda, dan semua selalu berwarna putih. Bawahnya memakai kain sarung,” jelas Musa.
Kebaya Nyonya atau Ncim
Kebaya Ncim Foto: Shutterstock
Memiliki karakter warna yang cerah pada bordirannya adalah ciri dari kebaya Nyonya atau Ncim. Biasanya kebaya ini dipadukan dengan kain pagi sore, sebuah kain yang memiliki dua motif di satu sisi.
“Yang warna-warni sering terlihat dipakai nyonya-nyonya Tionghoa,” kata Musa. Warna cerah sendiri pun terpengaruh dari budaya Tionghoa.
ADVERTISEMENT
Kebaya Kutu Baru
Kebaya ini merupakan kebaya klasik khas Indonesia yang harus dipadukan dengan kain panjang. Kebaya ini menunjukkan bagian tengah yang memiliki gaya seperti kemben. Menurut Musa, kebaya ini memiliki pakem yang jelas namun paling sering dimodifikasi.
Lantas, bagaimana pakem memakai kebaya menurut Musa?
Fashion Show busana rancangan Anne Avantie di Jakarta Fashion Week 2019. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Menurut Musa, menggunakan kebaya harus mengikuti pakem baik itu pada acara pernikahan, upacara adat, kenegaraan, atau pun acara-acara yang bersifat resmi. Boleh saja memakai kebaya yang dimodifikasi dan dipadupadankan dengan aksesori lain, namun tidak melakukannya dalam kegiatan resmi kenegaraan.
Musa memberi contoh saat Ibu Negara Iriana Widodo mengenakan kebaya dan sneakers. Menurut Musa itu tidak salah karena 'hanya' dipakai menghadiri pemaparan visi sang suami sebagai Presiden RI terpilih untuk periode kedua pemerintahannya.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, peran ibu negara sangat penting dalam mempromosikan kebaya sebagai produk nasional.
Anne Avantie Fashion Show Foto: Garin Gustavian/kumparan
Musa juga sempat memberikan contoh Jackie Kennedy yang memakai topi saat pelantikan John F. Kennedy pada 1961.
'“Saat pelantikan suaminya menjadi presiden ia memakai topi. Saat itu perempuan Amerika Serikat sudah tidak peduli dengan topi, ketika itu topi kembali menjadi tren dan dipakai semua perempuan,” jelasnya.
Meski kebaya bisa dipadu padankan dengan berbagai macam kain, Musa tetap menerapkan batas. Ia tidak menyarankan mengenakan kebaya dengan celana jeans. “Itu tidak bisa dikatakan berkebaya tetapi hanya bergaya. Jadi kita harus mengedukasi bahwa kebaya itu diserasikan dengan kain,” tuturnya.
Ia berharap agar edukasi mengenai kebaya bisa dilakukan secara menyeluruh ke semua lapisan masyarakat. “Kita tidak perlu menunggu UNESCO mengakuinya, yang terpenting adalah kita berjuang untuk melestarikannya,” ucap Musa.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80