kumparan
4 Sep 2019 12:10 WIB

Inspirasi Womanpreneur: Dewi Kauw, Founder Skin Dewi

Dewi Kauw. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Ladies, inspirasi berbisnis bisa datang dari mana saja. Terkadang, kondisi yang kurang mengenakkan juga bisa menjadi awal untuk memulai usaha dan berbagi dengan sesama.
ADVERTISEMENT
Seperti yang dialami oleh Dewi Kauw (37 tahun), founder lini kecantikan lokal Skin Dewi. Saat ini, Dewi dikenal sebagai seorang pengusaha kecantikan sekaligus formulator skin care yang kerap menginspirasi orang melalui workshop-nya.
Namun, pada awalnya, Dewi memulai bisnis karena salah satu anaknya, Chloe, menderita atopic dermatitis atau eksim. "It’s a blessing in disguise. Dari sini saya jadi belajar banyak hal. Ternyata, masalah kulit bukan sekadar 'ya sudah pakai produk apa'," tutur Dewi dalam wawancara eksklusif bersama kumparanWOMAN.
Komitmen untuk dapat menyembuhkan anaknya, ditambah inspirasi yang datang saat berkunjung ke luar negeri, membawa Dewi Kauw mendalami dunia natural remedies berbahan organik. Lulusan University of Washington ini kemudian belajar meracik produknya sendiri dan akhirnya menemukan rasa percaya diri untuk memulai bisnis kecantikan pada 2015.
ADVERTISEMENT
Namun, Dewi Kauw tidak langsung menjual menjual skin care. Ibu dari tiga anak ini justru memulai bisnisnya lewat workshop dan memberikan pengetahuan kepada klien. Ini sejalan dengan passion-nya, yaitu keinginan membantu orang untuk mencari solusi atas permasalahan mereka. Dalam hal ini ia lakukan melalui kesehatan kulit.
Lalu, bagaimana persisnya cara Dewi Kauw mengembangkan brand Skin Dewi? Bagaimana pula caranya membagi waktu untuk beraktivitas sebagai seorang entrepreneur, istri, sekaligus ibu bagi anak-anaknya? Simak jawabannya dalam perbincangan rubrik Inspirasi Womanpreneur berikut:
Anda mengatakan bahwa awalnya mempelajari formulasi organik untuk diri sendiri. Apa titik balik yang membuat Anda yakin untuk menciptakan brand?
I think, at that time banyak orang yang jadi request. Mungkin karena saya sering posting produk yang sedang dibuat, kemudian orang-orang jadi mengungkapkan kalau mereka atau kenalannya juga punya masalah kulit yang sama. Dari situ, saya merasa, sepertinya ini harus diseriusin. Itu sekitar tahun 2015.
ADVERTISEMENT
Sebagai seorang lulusan teknik kimia apa yang Anda lakukan untuk memahami industri kecantikan ini? Apakah Anda mengambil training khusus?
Formula Botanica, itu yang utama. Mereka sekarang sudah terakreditasi, bisa dibilang sepertinya merupakan sekolah formulasi skin care terbesar di dunia. (Sekolah ini) ada di UK.
Selain itu, saya ambil pendidikan yang spesifik. Misalkan, essential oils. Saya belajar dari Robert Tisserand. Ia adalah pakar essential oils dalam research, dan sampai sekarang, dia masih bisa disebut paling hebatnya. Jadi, saya ambil kelas-kelasnya dia.
Dewi Kauw. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Saat ini Skin Dewi sudah berusia empat tahun, apakah Anda masih terjun penuh dalam mengurusnya?
Saya masih mengurus semuanya. Kalau untuk membuat produk, sekarang sudah ada pabrik third party. Karena, kan, butuh fasilitas untuk mass production dan ada izin khususnya juga. Jadi, enggak bisa sembarangan bikin produk.
ADVERTISEMENT
Tapi, kalau dari segi pembuatan produk baru atau apa, saya masih terlibat banget. Karena semua formulasi masih dari saya. Manajemennya juga semua saya yang urus, mulai dari hiring sampai operasional. Saat ini, karyawan Skin Dewi berjumlah 11-12 orang.
Anda sempat mengatakan bahwa Skin Dewi adalah wadah untuk memenuhi tujuan hidup. Bisa jelaskan mengenai hal ini?
Life purpose saya adalah untuk menjadi cahaya terang yang bisa memberikan berkah kepada semua orang di dunia. Skin Dewi adalah salah satu wadah untuk mencapai hal tersebut.
Ini menjadi cara bagi saya untuk bisa menyentuh lebih banyak orang. Sebab, untuk merawat kulit, ada banyak faktor-faktor yang harus diperhatikan. Di antaranya, seperti pola hidup dan pola pikir. Kalau ada yang salah dengan hal-hal ini, semuanya akan muncul di kulit.
ADVERTISEMENT
Jadi, melalui Skin Dewi, kami berharap bisa membantu customer menemukan solusi atas masalah mereka.
Dewi Kauw dalam workshop Acne Freedom di Keraton at The Plaza, Jakarta, Jumat (16/8). Foto: Masajeng Rahmiasri/kumparan
Persaingan bisnis kecantikan sekarang sangat keras. Bagaimana cara Skin Dewi untuk stay relevant?
Kalau menurut saya, apapun yang kita berikan untuk orang, asalkan itu memberi jawaban atau solusi atas permasalahan mereka, itu pasti relevan. Makanya, semua produk yang saya bikin, pasti saya lihat dulu, ada kebutuhannya atau enggak.
Juga, saya enggak mau mengikuti tren. Saya tidak percaya dengan itu. Karena, tren itu akan berubah terus, capek mengikutinya. I'm sure orang punya teori yang berbeda. Tapi, kalau buat saya, bisnis ini kan untuk memenuhi purpose dan passion. Jadi, saya enggak mau melakukan sesuatu yang tidak saya percayai.
ADVERTISEMENT
Apa yang membedakan Skin Dewi dengan produk skin care lokal lain?
Fokus kita adalah di customer, bukan di produk. Customer butuhnya apa dan bagaimana kita bisa membantu memberi solusinya.
Skin Dewi sekarang sedang berfokus ke jerawat. Kenapa jerawat dan apakah akan ada fokus di hal lain?
I don't know why, tapi somehow orang yang jerawatan itu datang ke kita terus. Sebelum aku punya produk resmi, yang request dibikinin produk itu orang jerawatan. Somehow dari sana, yang datang lagi itu orang jerawatan. Dan kebanyakan, mereka bukan yang jerawatnya sedikit, tapi yang lumayan kronis. Mungkin mereka sudah sekian tahun jerawatan dan mencoba segala macam produk. Jadi, mungkin sebenarnya dia udah desperate kali, ya? Kemudian datang satu lagi produk kecantikan (Skin Dewi). Ya, sudah deh dicoba. Mungkin seperti itu, saya enggak tahu.
ADVERTISEMENT
Tapi somehow, awalnya banyak banget orang-orang seperti ini yang datang ke kita. That's why. Bukannya aku yang memilih jerawat, tapi jerawat yang memilih kita.
Skin Dewi Foto: Gina Yustika Dimara/kumparan
Sekarang Skin Dewi punya produk apa saja dan bisa diakses di mana?
Saat ini, produk yang sudah launching sebenarnya baru enam. Cleansing milk ada dua varian, hazelnut sama raspberry. Lalu kita ada dua varian untuk pelembap, yang satu untuk kulit berminyak yaitu temulawak, dan yang buat kulit kering adalah ginkgo. Serum cuma satu, Helichrysum Vitamin C, sama satu lagi soothing gel untuk kulit yang kemerahan, sensitif.
Nah, sekarang kita lagi mau launching empat produk baru. Selanjutnya masih di dalam tahap-tahap proses.
Untuk ketersediaan saat ini ada di situs Skin Dewi. Kita juga ada di beberapa platform e-commerce dan toko lain, dan di Keraton Spa, Hotel Keraton at The Plaza.
ADVERTISEMENT
Loading Instagram...
Anda adalah seseorang yang sangat family oriented. Bagaimana cara membagi waktu menjadi seorang istri, pengusaha, juga ibu untuk anak-anak?
Awalnya, saya sangat kesulitan. Apalagi, pas awal memulai bisnis dan belum ada hasil. Saat itu, suami menyalahkan karena saya terlalu sibuk dengan bisnis atau tidak mengurus anak.
Jadi, saya sempat stres banget. Bagaimana cara membagi waktunya? Saat saya sama anak, saya guilty mikirin kerjaan. Begitu saya bekerja, saya merasa bersalah, aduh si anak nggak ditemenin.
Akhirnya, pada 2018, saya ikut seminar pengembangan diri, UPW (Unleash Power Within) milik Tony Robbins di Singapura. Dari sana, hal-hal baru membaik.
Saat mengikuti acara itu bersama suami, kami sempat bertengkar hebat. Saya mengatakan, saya merasa dia seperti tidak mau saya maju. Saya juga menjelaskan kalau saya merasa disalahkan olehnya.
ADVERTISEMENT
Kemudian, saya memintanya untuk bergantian mengurus anak. Saya juga meminta dia memberikan moral support dan jangan membuat saya tambah down.
Suami saya kaget mendengar keluhan saya, tapi dia merasa ini ada benarnya. Dia juga bilang bahwa dia bukannya tidak mau mendukung saya. Dari situ, saya merasa plong. Akhirnya terasa bahwa ada yang mendukung saya. Itu biggest challenge pertama.
Challenge lainnya adalah mengenai mindfulness (memusatkan perhatian pada satu hal saja). Itu juga sempat terasa sulit, sampai akhirnya saya merasa kalau memang mau mengerjakan A ya fokusnya di A saja. Di saat mengerjakan B ya sudah B. Jangan pikirkan A lagi. Itu sangat, sangat membantu.
Kunci lainnya adalah memberikan memaksimalkan keberadaan orang lain. Karena, kalau semuanya harus kita yang kerjain sendiri, ya pasti enggak akan bisa.
ADVERTISEMENT
Loading Instagram...
Banyak perempuan yang mengalami dilema antara bekerja dan mengurus rumah tangga. Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini?
Menurut saya, setiap orang punya tujuan hidup yang berbeda. Kalau memang tujuan hidupnya adalah untuk jadi ibu rumah tangga yang baik, go for it. Yang penting, dia harus merasa bahwa kehidupannya bermakna.
Tapi, kalau ternyata dia diberi tujuan yang lebih besar dari Tuhan, ya dia harus bisa menerima itu juga. Walaupun mungkin artinya dia harus kerja, keluar dari rumah, atau berbisnis. Ya, dia harus lakukan. Karena, jangan sampai (Anda menyesal).
Ini sebenarnya ketakutan terbesar saya. Jangan sampai, di hari terakhir saya hidup, saya berpikir ‘seumur hidup sudah melakukan apa aja?’ dan jadi merasa punya banyak penyesalan. Hidup kita cuma sekali. Make full use of it.
ADVERTISEMENT
Lalu apakah Anda pernah berpikir untuk berhenti kerja dan mengurus keluarga saja?
Saat ini tidak. Tapi, yang akan saya lakukan adalah melakukan pelatihan, mencari orang yang hebat dan pintar, yang bisa mengurus (bisnis ini). Supaya saya lebih senggang dan jadi bisa menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Saya tidak berpikir untuk berhenti bekerja.
Dengan kesibukan mengurus bisnis, workshop, dan keluarga, masih ada waktu untuk diri sendiri? Apa yang Anda lakukan untuk me time?
Saya membuat me time dengan cara bangun lebih pagi, persisnya pada pukul 04.00. Kalau tidak begitu, saya merasa tidak akan pernah ada me time, karena anak-anak sudah bangun pukul 06.00. Dan kalau tidak ada me time, saya akan susah untuk mempraktikkan self love.
Dewi Kauw dalam workshop Acne Freedom di Keraton at The Plaza, Jakarta, Jumat (16/8). Foto: Masajeng Rahmiasri/kumparan
Bangun sepagi itu, apa yang Anda lakukan setelah bangun?
ADVERTISEMENT
Meditasi, kemudian breathing exercise. Karena, pernapasan bisa membantu detoks pemikiran dan toksin-toksin, juga membantu memberi energi. Setelahnya, saya juga melakukan journaling. Biasanya, saya memasukkan nilai-nilai dari buku ‘The Having: The Secret Art of Feeling and Growing Rich’ dalam sesi ini. Buku ini mengajarkan untuk mensyukuri berbagai hal, mulai dari yang kecil sekalipun.

Setelah journaling, saya berolahraga sedikit. Saya juga melatih diri untuk berbahagia. Karena, kebahagiaan itu seperti otot. Kalau tidak dilatih, lama-lama kita lupa.

Terakhir. Ada saran bagi perempuan muda yang juga ingin membuka bisnis seperti Anda?
Sarannya cuma satu. Ketahui alasan kenapa Anda ingin berbisnis. Dengan begitu, kita jadi punya suatu dasar. Karena, perjalanan ke depan akan semakin berat. Kalau merasa goyah, kembalilah ke alasan awal.
ADVERTISEMENT
Kemudian, saat dihadapkan dengan banyak pilihan, pilihlah yang sesuai dengan purpose kita. Itu akan sangat membantu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan