Pencarian populer

Inspiring Hijaber: Stand Up Comedian Sakdiyah Ma’ruf

Sakdiyah Ma'ruf. Foto: Dok. Sakdiyah Ma'ruf

Sakdiyah Ma'ruf mencuat sebagai sosok komika yang tidak biasa. Sebagai perempuan peranakan Arab yang tumbuh dan besar di tanah Jawa, ia vokal dalam mengangkat isu konservatisme agama hingga isu diskriminasi terhadap perempuan yang dibalut dalam guyonan.

Melalui aksi Stand Up Comedy atau lawakan tunggal-nya, ia dikenal sebagai komika perempuan hijab pertama di Indonesia yang lahir dari kompetisi SUC di stasiun televisi nasional. Dengan apik ia menyalurkan berbagai kegelisahannya terhadap masalah sosial di sekitarnya melalui medium komedi yang bisa menggelitik tanpa menggurui, dan bisa keras serta tegas tapi tidak agresif.

Bagi perempuan yang akrab disapa Diyah ini, komedi adalah semesta yang tepat baginya untuk bersuara.

Beberapa waktu lalu kumparan berkesempatan berbincang dengan Sakdiyah Ma’ruf. Di tengah kesibukannya bekerja, kami berbicara mengenai bagaimana ia berproses dan konsisten bergerak di dunia yang ia geluti saat ini.

Diyah mulai dikenal publik pada tahun 2011, saat mengikuti kompetisi Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV. Bisa diceritakan bagaimana awal proses karier sebagai komika dan apa yang membuat Diyah tertarik menyelami dunia komedi?

Jika berbicara soal komedi, hal tersebut bukanlah sesuatu yang asing bagi saya. Karena sebenarnya komedi telah menjadi bagian dari tradisi keluarga. Sejak kecil saya sudah terpapar dengan dunia komedi, dengan nonton Srimulat, Ludruk, dan Warkop. Dan untuk menonton 'Warkop' sendiri, sudah menjadi semacam tradisi keluarga untuk pergi ke bioskop, jadi bukan hanya nonton tayang ulang di televisi. Selain 'Warkop' kami juga menonton komedi berkualitas Indonesia lainnya seperti 'Ramadan dan Ramona'. Kemudian orang tua saya, terutama abah saya dengan bangga memperkenalkan komedian keturunan Arab legendaris, Amak Baldjun.

Jadi it have been always in my subsconscious kali ya , bahwa comedy is a huge part of my life dan mengenal Stand Up Comedy (SUC) juga sangat dini waktu sekolah dasar. Saat itu saya nonton 'Full House', 'Roseanne', 'Seinfeld' dan tanpa menyadari bahwa bintang-bintang sitkom itu adalah para stand up comedian.

Suatu hari saya menemukan DVD Robin Williams, saya sudah lama mengagumi dia sebagai aktor film. Tapi pada saat menonton tampilannya sebagai stand up comedian, ia terasa lebih spesial. Ketika nonton itu rasanya my whole life like flushing on my eyes. And everything so make sense gitu, oh wow saya seperti jatuh cinta pada kesenian SUC, karena dapat menjadi satu medium untuk menyampaikan suatu aspirasi dan merefleksikan kondisi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara dengan cara penyampaian yang tidak biasa pada saat itu.

Karena kalau ditilik kebelakang, sudah banyak hal yang saya coba untuk menyampaikan aspirasi, mulai dari student activism, saat mulai kuliah di tahun 1999 yang kental dengan nuansa pasca reformasi dan awal-awal demokrasi yang lebih terbuka. Waktu saya ikut demonstrasi setiap hari, pernah bergabung dengan koran kampus juga di fakultas, organisasi mahasiswa luar dan dalam kampus, bikin kelompok studi, bikin seminar, telah banyak hal yang sudah saya lakukan untuk berbicara soal aspirasi. Tapi tidak ada yang sedemikian membekas dalam diri saya sebagai metode komunikasi yang paling efektif selain komedi.

Sakdiyah Ma'ruf, stand up comedian Foto: Saphira Shaleha Barseliana/kumparan

Diyah dikenal sebagai komika yang kerap mengangkat isu cukup kontroversial yang biasanya dihindari komika lain. Melalui humor, Diyah membahas soal ekstrimisme Islam hingga diskriminasi terhadap perempuan. Apa yang membuat Diyah tertarik mengangkat isu tersebut dan mengapa hal tersebut menjadi penting?

Bagi saya kedua isu itu bukanlah hal yang baru, karena sudah banyak akademisi dan aktivis yang membicarakannya. Tapi saya kira penting untuk tetap dibicarakan dengan medium (komedi) yang mudah-mudahan bisa merangkul banyak orang, karena bisa menggelitik tanpa menggurui, bisa keras dan tegas tapi tidak agresif.

Dan bagi saya kedua isu tersebut adalah hal yang sangat personal dan telah menjadi bagian dari kehidupan saya, bagaimana saya tumbuh dan dibesarkan di lingkungan keluarga atau komunitas yang menormalisasi adanya kekerasan dalam rumah tangga.

Misalnya (pemikiran) agama memperbolehkan kok untuk memukul perempuan, dengan catatan kalau seorang perempuan dianggap tidak patuh. Seorang perempuan jika telah dinasehati beberapa kali tidak patuh juga, diganjar dengan pukulan menjadi hal yang biasa. Sehingga kekerasan yang terjadi pada perempuan menjadi hal yang wajar karena ada justifikasi agama di baliknya. Itu yang saya saksikan sehari-hari sejak kecil, baik di keluarga sendiri (sayangnya) juga di lingkungan sekitar saya.

Selain itu isu yang akrab dengan saya juga bicara soal menjaga kehormatan dan harga diri perempuan atau menjaga nama baik keluarga sama dengan anak perempuan tidak boleh sekolah. Padahal sebenarnya tidak seperti itu kan, dan yang menggelisahkan lagi, saat saya keluar dari komunitas saya, dan masuk bangku kuliah, saya mendapati lho kok situasinya sama bahkan lebih buruk daripada yang saya temukan di lingkungan keluarga (di Pekalongan) terdekat dan komunitas saya berasal.

Sebagai contoh, saat ini di kampus-kampus di Indonesia banyak sekali poster-poster seminar nikah muda. Ya saya tidak ada kepentingan apapun untuk menentang orang untuk menikah muda. Tetapi kalau itu digembar-gemborkan sebagai tameng untuk menjaga diri, sebagai satu-satunya cara guna menghindari zinah seperti narasi yang berkembang saat ini, saya kira saya tidak bisa menerima itu. Apalagi itu dibungkus dengan nilai agama, yang mengatakan nikah muda adalah perintah agama.

Ya memang menikah adalah perintah agama, tapi kalau belum mapan secara intelektual, emosi dan nafkah, sebaiknya kita berpuasa, bukan lantas melanggengkan nikah muda sebagai solusinya. -Sakdiyah Ma'ruf

Nah secara sederhana kenapa saya mengangkat isu kehidupan beragama dan perempuan? karena hal tersebut jelas saling terkait. Pengalaman perempuan saat ini terutama di Indonesia tidak lepas dari interpretasi kita terhadap agama dan itu berdampak langsung pada perempuan.

Sakdiyah Ma'ruf, stand up comedian Foto: Saphira Shaleha Barseliana/kumparan

Bagaimana proses kreatif Diyah sehingga bisa dengan apiknya mengangkat isu yang cukup serius ini menjadi sebuah guyonan?

Proses kreatif biasanya berasal dari inventaris isu-isu yang ingin diangkat, jadi baca berita banyak-banyak, kemudian banyak diskusi, bertemu orang. Selain proses penulisan, untuk menulis komedi joke set saya terbiasa untuk mencatat hasil-hasil obrolan.

Saya juga menyelipkan beberapa jokes yang akan dibawa ke panggung sebagai percakapan sehari-hari, untuk melihat responnya aja gimana. Dan soal observasi, kita harus sangat jeli melihat lingkungan sekitar. Kita harus bisa melakukan pendekatan kontekstual dan relatable yang bisa jadi bridging untuk mendialogkan isu ‘sensitif’ tadi dan menarik orang untuk membicarakannya.

Bagaimana partisipasi perempuan di dunia Stand Up Comedy?

Gap sangat besar dan sangat terasa, misalnya pada bulan Maret lalu saat saya berpartisipasi di sebuah festival Stand Up Comedy di Kuningan City, ada lebih dari 60 penampil, namun hanya ada 5 perempuan. Artinya jumlah komedian perempuan bahkan tidak sampai 10 persen.

Jumlah komika perempuan sedikit menurut saya karena ruang aman dan nyaman untuk berkomedi kurang bagi perempuan. Contohnya begini, saya mengikuti akun-akun SUC di media sosial, dan setiap mereka posting open mic, saya lihat di feed Twitter acara baru mulai jam 11 malam atau 9 malam diawali dengan nongkrong atau kumpul-kumpul dulu. Dari segi waktunya saja tidak ramah perempuan. Ya sebenarnya perempuan pulang malam itu boleh-boleh saja, tapi masyarakat yang tidak membolehkannya. Artinya kita masih hidup di lingkungan yg tidak aman bagi perempuan untuk keluar malam.

Jadi proporsi perempuan di dunia SUC itu jomplang sekali, kemudian hampir tidak ada save place buat perempuan, diperkeruh lagi dengan adanya budaya boyish club. Jadi ada komedi ala boys yang membicarakan soal tubuh perempuan, bicara soal kelamin dll. Ada budaya minum alkohol juga yang jadi bagian dari pergaulan yang semakin meminggirkan perempuan. Jadi perempuan harus lumayan berjibaku sih kalau mau menembus ruang-ruang yang sudah dikuasai oleh para ‘boys’ itu.

Sakdiyah Ma'ruf. Foto: Dok. Sakdiyah Ma'ruf

Siapa sosok yang paling menginspirasi Diyah dalam menjalani profesi saat ini?

Saya jelas terpapar dengan para Stand up Comedian barat karena memang rujukan saya mereka. SUC sendiri kan rujukannya dari Amerika, Inggris dan Australia. Tapi kalau saya ditanya, jika besok adalah hari terakhir saya di dunia untuk bisa nonton komedi dan setelah itu tidak boleh nonton lagi seumur hidup, saya dengan tidak ragu menjawab saya harus nonton Srimulat. Impian saya memang ingin nonton Chris Rock secara live, Ellen DeGeneres juga atau bertemu dengan Marjane Satrapi. She's like one of my huge hero, karena kisah hidup masa kecilnya di Iran, sangat relate dengan saya. Terlebih lagi dengan gaya ceritanya yang sangat-sangat bagus.

Tapi saya akan tetap jawab Srimulat sebagai sosok inspirasi saya sebagai komika. Karena mereka yang begitu dekat di hati dan akrab dengan identitas saya yang dibesarkan di Jawa. Srimulat selalu membuat saya ingat dengan keluarga. Jadi ya, sangat berarti bagi saya.

Berprofesi sebagai komika perempuan di Indonesia bukanlah sesuatu hal yang umum. Bagaimana keluarga atau orang sekitar menyikapi ini? Apa bentuk support yang Diyah dapatkan?

Keluarga besar jika diungkapkan secara sederhana mereka silent disagreement, tidak terlalu mendukung. Kalau suami sendiri sangat mendukung, saya berhutang pada dukungan dan keyakinan suami kepada saya. Saya kira saya tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini kalau bukan rezeki dari Allah berupa suami saya.

Diyah juga berprofesi sebagai interpreter. Jika disuruh memilih, interpreter atau komika?

Kedua profesi ini sangat saya cintai, karena sama-sama berkaitan dengan komunikasi dan building bridges. Membuat orang-orang yang tadinya terpisah-pisah dengan pikirannya masing-masing jadi saling terkoneksi.

Jadi di sini saya connecting hearts. Saya bersyukur memiliki profesi yang bisa connects heart, bukan hanya menghubungkan orang tapi menghubungkan hati. Jadi jangan beri saya pilihan untuk memilih, karena saya sangat gembira menjalani keduanya secara beriringan.

Butuh kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa berbicara solo di depan audiens, apalagi untuk membuat audiens bisa tertawa. Pernah mengalami demam panggung? Bagaimana mengatasinya? Bisa berbagi tips menguasai panggung dan berbicara di depan publik?

Sebenarnya, seberapa sering pun saya tampil, saya tidak pernah merasa terbiasa karena audiencenya beda-beda. Kita tidak tahu respon mereka seperti apa dan kita tidak bisa dengan arogan mengatakan “ah ini joke bakal lucu”, terus kita meremehkan penonton dengan beranggapan joke yang kita yakini efeknya akan sama.

Soal demam panggung, saya mengatasinya dengan berdoa, tidak ada cara khusus. Dan sebelum naik panggung saya biasanya menghindari obrolan-obrolan atau candaan saat di backstage yang sering banyak hura-huranya. Meskipun saya berprofesi di dunia hiburan, itu bukan berarti hura-hura, karena Insya Allah yang saya sampaikan di panggung ada valuenya jadi tidak sia-sia. Kalau sia-sia, dosa lho.

Sakdiyah Ma'ruf, stand up comedian Foto: Saphira Shaleha Barseliana/kumparan

Apa ambisi terbesar Diyah dalam hidup?

Mungkin punya media company yang bisa bekerja dengan banyak perempuan, punya girls comedy club, menyelesaikan PhD juga. Tapi yang pasti saya juga ingin memberi kehidupan yang terbaik bagi anak perempuan saya dan sebanyak-banyaknya anak perempuan di luar sana.

Sebenarnya sederhana sih, dengan hanya keep doing what i’m doing saja. Karena saya berpikir, suatu hari nanti kalau ada anak yang menonton saya, kemudian terinspirasi menjadi komedian di masa depan dan mereka bisa berbagi lebih detail soal pengalaman mereka dan menginspirasi perempuan lainnya, menurut saya mission accomplished. Bagi saya makin banyak perempuan yang nyaman dengan dirinya dan menemukan suaranya itu pun sudah mission accomplished.

I’m not that ambitious, I wouldn’t mind kalau suatu hari nanti punya my own media company seperti Najwa Shihab, punya all female staff, it would be fantastic. Tapi secara umum ya saya ingin memberikan kehidupan yang terbaik bagi anak perempuan saya dan sebanyak-banyaknya anak perempuan.

Apa pesan atau tips yang Anda ingin bagikan kepada perempuan yang ingin memasuki dunia komedi?

Tidak mudah tapi layak untuk dicoba, why not?

Karena komedi itu sifatnya empowering, melalui komedi kita bisa berbicara, mengolok-olok diri sendiri, mengolok-olok berbagai persoalan, penderitaan, hingga kebahagiaan. Melalui komedi kita bisa menyampaikan aspirasi.

Selagi kita bisa menampilkan apa yang kita ingin sampaikan in a comedic manner itu akan membuat kita lebih berdaya. Dan in many ways komedi itu bisa menyembuhkan dan menjadi suatu katarsis atau membuat lega terhadap hal yang sedang kita rasakan.

Sakdiyah Ma'ruf. Foto: Dok. Sakdiyah Ma'ruf

Sebagai Stand Up Comedian Diyah telah meraih berbagai penghargaan termasuk didapuk sebagai salah satu 100 perempuan inspiratif dunia versi BBC (2018). Bagaimana perasaan Anda terhadap pencapaian tersebut?

Bagi saya itu adalah suatu tanggung jawab, bukan semata-mata suatu hal yang memang layak saya dapatkan.

Karena perlu diperhatikan konteks narasi global yang ada saat ini, khususnya antara muslim dan dunia barat. Saya harus waspada akan narasi dunia barat, apakah dengan adanya penghargaan tersebut merupakan bukti bahwa mereka sungguh-sungguh mengakui kapabilitas saya di dunia komedi atau memang memiliki maksud dan tujuan tertentu. Jangan sampai hanya sekadar untuk memiliki muslim role model yang bisa menjadi representasi dan berbicara atas nama mereka.

So we have to be very careful dengan global narrative, supaya apa yang kita lakukan bisa berkontribusi untuk kebaikan bersama dan tidak memperlebar jarak. Idealnya dengan makin banyak penghargaan, makin terbuka jalan lebar untuk saling berdialog.

Memiliki berbagai macam aktivitas, apakah masih memiliki waktu untuk diri sendiri atau me time?

Saya tidak pernah secara khusus memikirkan me time. Jadi gini, paradoks kehidupan modern itu akhirnya adalah ketika semua tersedia. Anyway ketika semua tersedia bagi kita, akses, fasilitas dan sebagainya, hidup kita terasa bukan semakin mudah, tapi semakin sulit. Karena ketika segala hal tersedia kita cenderung mempersulit diri. Misalnya dengan adanya anggapan, “Oiya saya ini sudah kebanyakan kerja ya, kapan me timenya? ”.

Me time is crazy konsep for me, every time is me time yang kita jalani setiap saat itu ya waktu kita sendiri (me time).

Apa next project yang sedang Diyah lakukan baik di karier maupun personal?

Solo show mudah-mudahan, bersama teman-teman dari Perempuan BerHak (wadah bagi komika perempuan Indonesia). Kemudian semoga di tahun 2020 nanti sudah punya proposal yang bagus untuk daftar PhD.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan