kumparan
10 Jul 2018 17:10 WIB

4 Hal yang Harus Dipertimbangkan saat Memilih Karier atau Lanjut S2

Lulus kuliah, terus mau apa? (Foto: Thinkstocks)
Setelah kamu menyelesaikan kuliah sarjana, biasanya mulai ada pertimbangan, apakah kamu akan langsung melanjutkan studi ke jenjang S2 atau bekerja.
ADVERTISEMENT
Belum lagi jika kita berkumpul dengan sanak saudara dan keluarga besar, selalu ada saja pertanyaan yang melintas seperti “Sudah lulus?, Kerja di mana?, Mau lanjut S2 di mana?” atau “Kapan Nikah?”, seolah mereka semua harus banget tahu apa yang terjadi padamu ke depannya.
Dilansir Her Campus, konsultan karier dan penulis, Rick Gillis, dan Penasihat Pelayanan Karier Universitas Pace, Nicole Catalfamo, akan membantu kamu yang masih bingung untuk menentukan langkah yang akan kamu ambil setelah lulus sarjana. Berikut empat hal yang bisa kamu pertimbangkan.
1. Pertimbangkan bidang yang kamu geluti
Com- Kuliah, harus tahu mana yang cocok untukmu (Foto: Thinkstocks)
Rick Gillis, penulis "Job Search Optimized" yang juga bekerja di ranah entrepreneurship dan konsultan karier baru-baru ini memutuskan untuk memulai program master, meskipun dia mengatakan dia tidak perlu gelar master untuk memajukan kariernya.
ADVERTISEMENT
“Saya akan memulai program master ini karena saya ingin, saya bekerja untuk diri saya sendiri, padahal saya tidak benar-benar membutuhkannya (gelar master),” katanya.
Menurut Gillis, ada beberapa bidang yang tidak membutuhkan gelar master. Gillis sendiri menyebutkan bahwa gelar masternya akan melengkapi gelar bisnisnya. Kecuali bidang lain seperti kedokteran dan pendidikan untuk tenaga pengajar yang menurutnya membutuhkan gelar yang lebih tinggi.
Sedikit berbeda dengan pandangan Gillis, Nicole Catalfamo justru tetap menyarankan para sarjana untuk tetap mengambil gelar master tanpa menghiraukan apapun jurusannya saat kuliah sarjana.
Catalfamo menyarankan untuk mempertimbangkan dua hal sebelum lanjut kuliah master. Pertama adalah alasan kamu ingin melanjutkan ke jenjang master dan apa fokus yang akan kamu ambil untuk gelar master.
ADVERTISEMENT
“Saya biasanya memanfaatkan saran saya tergantung pada jawaban siswa dan bidang minat khusus mereka, karena tidak setiap pekerjaan atau bidang memerlukan gelar master,” ujarnya. Catalfamo menambahkan, bidang atau pekerjaan tertentu memang membutuhkan gelar master atau sekunder, termasuk hukum dan kedokteran. Bidang lain, seperti jurnalisme atau bisnis, bergantung pada situasinya.
Ketika mempertimbangkan untuk mengambil jenjang master, pikirkan juga di industri mana kamu akan bekerja nantinya. Ada baiknya kamu meminta saran pada senior yang bekerja di bidang yang ingin kamu tekuni sebelum membuat keputusan untuk lanjut kuliah.
2. Kondisi keuangan
Tabungan Emergency (Foto: Thinkstock)
Tidak bisa ditampik, keinginan untuk lanjut kuliah ke jenjang master juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kondisi keuangan jadi faktor utama yang menyulitkan siswa untuk melanjutkan kuliah jika bukan karena beasiswa atau dana yang masih disokong oleh orang tua. Maka, bekerja adalah satu-satunya pilihan yang dijalani.
ADVERTISEMENT
Jika kamu tetap bersikeras untuk melanjutkan kuliah, kamu mungkin bisa menyisihkan beberapa persen dari gaji untuk ditabung demi gelar master. Tapi, kamu juga harus sadar bahwa selalu saja ada ‘gangguan’ di tengah upayamu untuk menabung, maka dari itu kamu juga harus punya dana tidak terduga.
Cataflamo menyarankan para sarjana yang masih bimbang ini untuk berpikir apakah gelar master mereka nantinya akan memungkinkan mereka untuk menghasilkan lebih banyak uang dalam karier? Karena pada kenyataannya, tidak semua orang melanjutkan master demi kebutuhan pendidikan semata, tapi juga untuk mendongkrak kariernya.
3. Tujuan karier
Ilustrasi perempuan karier. (Foto: Thinkstock)
Kamu mungkin familiar dengan pertanyaan “Bagaimana kamu melihat diri sendiri dalam lima tahun?”. Yap, pertanyaan yang mungkin amat sering ditemui ketika kamu interview pekerjaan ini nyatanya dapat membantu kamu menentukan apa yang benar-benar kamu ingin capai. Termasuk apakah kamu harus lanjut kuliah untuk gelar master atau masuk ke dunia kerja.
ADVERTISEMENT
Gillis pernah berbicara dengan seorang perempuan dalam rangka penerbitan bukunya. Mereka membuat perhitungan matematika untuk menentukan jumlah jam yang akan dihabiskan perempuan tersebut untuk kuliah master dan membandingkannya dengan jam kerja reguler.
Dia mengorbankan sebagian waktu luangnya dan bertekad untuk memiliki karier yang lebih baik dengan jam tambahan. Hasilnya, dia mampu melampaui rekan sejawatnya di tempat kerja dan mendapatkan promosi untuk posisi baru yang lebih cepat.
Hal ini mungkin tidak berlaku bagi semua orang, tetapi ini menunjukkan bahwa kamu juga dapat mencapai target tertentu dalam karier tanpa gelar yang lebih tinggi. Pasalnya, tidak semua industri menghargai gelar master dengan cara yang sama. Masih banyak perusahaan yang lebih tertarik dengan pengalaman kerja dan skill yang kamu punya.
ADVERTISEMENT
4. Pertimbangkan waktu
Ilustrasi Waktu (Foto: Thinkstock)
Melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga waktu. Memang, bukannya tidak mungkin kamu melanjutkan kuliah master sambil bekerja pada waktu yang bersamaan, tapi melakukan dua hal secara bersamaan pasti membutuhkan fokus, komitmen dan disiplin waktu yang tinggi.
Seperti yang dilakukan Stephanie Trupel, seorang mahasiswa di Pace University, saat ini bekerja full time dan mengambil kelas part time untuk gelar sarjananya. Dia sedang mempertimbangkan untuk melakukan hal yang sama untuk gelar masternya di masa depan.
"Saya ingin mengambil cuti bekerja setelah sarjana dan mendapatkan lebih banyak pengalaman kerja sebelum lulus," katanya.
Jika kamu dapat melakukan dua hal ini bersamaan, kamu bisa saja mendapatkan yang terbaik dari keduanya. Pengalaman kerja sekaligus gelar yang lebih tinggi. Kenapa tidak?
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan