kumparan
20 Sep 2019 18:02 WIB

4 Stereotip Anak Jurusan Perikanan dan Kelautan

Ilustrasi laut. Foto: Pixabay
Di beberapa universitas, jurusan Perikanan dan Kelautan dikenal dengan singkatan BDP atau Budi Daya Perikanan dan Perairan. Kamu akan mempelajari segala hal tentang budi daya kelautan, jenis-jenis ikan, rumput laut, hewan laut, dan lain-lain.
ADVERTISEMENT
Namun, ada saja gurauan orang tentang jurusan ini. Sebagian mahasiswa jurusan Perikanan sampai dikira ingin bekerja sebagai nelayan. Padahal, ada beberapa alumni jurusan Perikanan ini yang sukses di bidang industri perikanan, kok.
Lalu, apa saja, ya gurauan yang mereka dapatkan ketika menjadi mahasiswa jurusan Perikanan? Yuk, simak cerita di bawah ini.
  1. Nelayan
Kerap kali mahasiswa jurusan Perikanan dan Kelautan dijumpai dengan pertanyaan “mau jadi nelayan, ya?”. Hal tersebut sudah menjadi hal yang lumrah bagi mereka.
Menurut salah satu mahasiswa jurusan Budi Daya Perikanan dari Institut Pertanian Bogor, Syifa, dia enggak menganggap stereotip tersebut sebagai hal yang serius, karena pasti ada saja gurauan dari teman-teman dekatnya. Tapi, enggak selalu berlayar dan mencari ikan, ya.
ADVERTISEMENT
“Memang, sih, kita sering berlayar tapi karena mata kuliah tertentu, kok. Bukan berarti kita bakal tangkap ikan saja, tapi lebih ke proses bagaimana memproduksi ikan dan memeriksa kesehatannya. Lebih kesitu, jadi bukan berarti kita anak perikanan terus kegiatannya berlayar dan tangkap ikan doang,” jelas Syifa.
  1. Lulus nanti jadi anak buahnya ibu Susi Pudjiastuti, dong?
Menteri KKP, Susi Pudjiastuti di acara Digitalisasi UMKM Kelautan dan Perikanan. Foto: Dok. KKP
Karena jurusan Perikanan dan Kelautan lebih sering main ke laut, maka enggak heran kalau mereka kerap kali diduga sebagai asisten atau anak buahnya ibu Susi Pudjiastuti, yang merupakan Menteri Kelautan dan Perikanan yang dijuluki sebagai ratu lautan.
“Suka dibilang, ‘udah lulus pasti kerjanya jadi asisten bu Susi, ya' sebenarnya Alhamdulillah kalau ada yang bilang gitu. Tapi prospek kerja perikanan itu bukan cuma di Kementerian Kelautan dan Perikanan saja, kok. Kita juga bisa bekerja jadi pembudidaya ikan, pengawasan pelabuhan, bahkan yang kerja di bank juga ada dan memang bisa,” ujar Wanda, mahasiswa jurusan Perikanan dan Perairan, Insititut Pertanian Bogor.
ADVERTISEMENT
  1. Pengusaha ikan
Pedagang ikan di Pasar Rebo, Jakarta Selatan. Foto: Elsa Olivia Touran/kumparan
Salah satu prospek pekerjaan dari jurusan ini adalah menjadi pengusaha di industri perikanan. Lalu, salah satu mahasiswa jurusan Perikanan ini, sering mendapat gurauan “lulus nanti jadi penjual ikan.”
“Rumahku kan dekat pasar dan memang rata-rata penjual ikan. Sering ditanya ‘jurusan apa?’ ‘perikanan’ ‘ walah, mau jadi tukang ikan asin, ya?’ itu pertanyaan dan jawaban yang suka didengar,” ceritanya pada kumparan.
Tapi, itu hanya ungkapan, kok. Berbeda dengan Agung, menurutnya enggak semua lulusan Perikanan akan menjadi penjual atau pengusaha ikan.
“Ada juga kok dari kami yang di bagian pengawasan mutu ikan di setiap pasar. Memberi dedikasi kepada nelayan agar tetap di koridornya, penghubung transaksi ekspor impor ikan. Mungkin, karena judul sekolahnya perikanan jadi, masyarakat umum di luar mindset-nya langsung kepada penjual ikan atau nelayan,” tambah Agung, yang juga seorang mahasiswa jurusan Perikanan.
ADVERTISEMENT
  1. Enggak melek fashion
Dekil, baju enggak ganti-ganti dan jarang mandi juga sering dialamatkan untuk mahasiswa jurusan Perikanan dan Kelautan. Meski mereka enggak terlalu mempermasalahkan itu, tapi sebenarnya anak Perikanan dan Kelautan juga update soal fashion, kok.
“Masalah fashion pun kami tahu, karena enggak selalu berada di lapangan dan memiliki pengetahuan tentang itu (fashion). Kalau di lapangan, kami menyesuaikan pakaian yang dikenakan, masa iya mau pakai kebaya ke laut, kan enggak mungkin. Nah, kalau enggak bertugas, kami juga suka mengenakan pakaian yang katanya fashionable itu,” jelas, Lulu Hilma, mahasiswa Perikanan, Institut Pertanian Bogor.
Jadi, bukan berarti anak perikanan enggak tau fashion, tapi mereka hanya menyesuaikan pakaian yang cocok antara bertugas dengan pakaian kesehariannya.
ADVERTISEMENT
Penulis: Aulania Silviananda
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan