Pencarian populer

5 Cara Melepas Kenangan Buruk Bersama Mantan

Ilustrasi mantan pacar. Foto: Isaac Cabezas/Unsplash

"People come and go but memories stay forever,"

Pernah dengar kutipan tersebut? Yap, nampaknya kalimat tersebut ada benarnya. Orang-orang, --baik teman, keluarga, bahkan mantan pacar-- bisa hadir dan hilang begitu saja dari hidup kita dan meninggalkan memori.

Sialnya, memori tersebut enggak selamanya indah atau baik untuk dikenang. Semakin kamu berusaha melupakan, justru semakin sulit.

Perlahan tapi pasti, kenangan buruk tersebut nantinya juga enggak akan berpengaruh apa-apa lagi kok, buatmu. Kamu mungkin akan bersikap biasa saja bahkan menertawakannya sebagai sebuah kebodohan yang pernah dilakukan.

Namun jika kamu masih sulit untuk melepas kenangan buruk tersebut, berikut ada lima caranya seperti penuturan dari Denise Wade, seorang peneliti sekaligus pakar hubungan dilansir Your Tango.

1. Tuliskan pengalamanmu

Ini mungkin akan terdengar aneh pada awalnya. Namun saat kamu mengingat rasa sakit hati atau memori yang buruk soal mantan, kamu bisa meluapkannya dalam sebuah tulisan.

Jika kamu enggak terbiasa dengan menulis, kamu bisa membicarakan soal itu dan merekamnya untuk didengarkan sendiri. Hal ini membantu untuk melepaskan emosi yang mengganjal dalam diri kamu.

2. Tuliskan hal positif yang kamu dapat

Seburuk-buruknya kisah kamu dengan mantan, pasti masih ada hal baik yang bisa kamu peroleh. Hal baik tersebut berimbas agar kamu jadi lebih aware atau dewasa dalam menyikapi masalah.

Sehingga ke depannya kamu enggak akan mengalami hal serupa karena kamu jadi lebih peka. Mantanmu bukan lagi jadi tipemu.

3. Rangkul emosimu

Setelah putus, kamu akan mengalami beberapa fase dan emosi yang enggak stabil. Itu wajar, kok!

Kemarahan, rasa sakit, insecure, bahkan hingga takut kejadian serupa terulang mungkin akan kamu alami.

Biarkan dirimu menangis. Lepaskan amarah, sumpah, benci atau apa pun yang perlu dilakukan untuk melepaskan kenangan buruk.

4. Jujur pada diri sendiri

Bersikap terbuka dan jujur ​​pada diri sendiri penting agar kamu enggak terus terjebak dalam fase denial (penyangkalan). Ini akan mempermudah proses kamu dalam menerima semuanya.

5. Berhenti menganggap dirimu sebagai korban

Ini bukan soal siapa yang kalah dan siapa yang menang. Tapi biasanya, ketika seseorang putus dengan cara yang enggak baik, akan selalu ada yang dicap 'si jahat' dan 'si korban'.

Nah, orang yang menjadi 'korban' ini adalah yang paling merasa rugi. Nyatanya, meskipun kamu adalah pihak yang paling disakiti atau tersakiti, terus menerus 'mengasihani' diri justru malah akan memperburuk keadaan.

Tindakan manipulatif ini hanya membuat kamu merada enggak berdaya. Jadi, berhentilah mengasihani diri sendiri dan menganggap dirimu adalah korban.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Sabtu,25/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23