Pencarian populer

Coworking Space sebagai Preferensi Tempat Bekerja Milenial

CO&CO Public Space (Foto: Dok. CO&CO)

Bekerja menyendiri di ruangan sepi mungkin sudah tidak lagi menjadi pilihan pertama bagi sebagian besar generasi milenial. Keinginan untuk selalu dapat terhubung dengan informasi maupun peluang baru, membuat mereka mencari alternatif baru untuk tetap bisa memenuhi tanggung jawab pekerjaan, tanpa harus kehilangan kesempatan untuk dapat berkolaborasi bersama yang lainnya.

Dalam konteks demikian, konsep ruang kerja bersama atau yang populer dengan sebutan coworking space, mulai dipandang sebagai alternatif baru. Gaya ruangan yang pada umumnya minim sekat, ditambah dengan konsep serta berbagai fasilitas kerja yang menarik, sulit untuk tidak menjadikan coworking space sebagai tempat untuk produktif yang ideal bagi generasi milenial.

Dikutip dari Forbes, salah satu faktor pendorong maraknya bermunculan coworking space adalah karena mulai banyaknya generasi milenial yang berkecimpung di dunia profesional. Keputusan para milenial menjadi wirausahawan dan membangun startup, mulai membentuk tren tentang preferensi milenial dalam bekerja.

Milenial tidak lagi memaknai kerja sebagai sesuatu yang kaku dan menitikberatkan pada keunggulan individu. Kolaborasi menjadi kunci. Itulah mengapa banyak coworking space hadir mengusung konsep yang lebih fleksibel, terbuka, dan mempraktikkan etos kolaborasi.

Salah satunya seperti CO&CO, coworking space yang terletak di Bandung ini mengusung konsep “Community and Collaboration” yang menurut Andi Saptari, CEO dan Founder CO&CO, sudah dianggap seperti nilai yang melekat pada DNA mereka.

CO&CO Workshare (Foto: Dok. CO&CO)

CO&CO yang telah empat tahun berdiri, menjadi wadah bagi para pelaku industri kreatif dan berharap dapat mendukung terciptanya kesinergisan satu sama lain di antara mereka.

“Kami percaya dengan coworking space, komunitas di dalamnya dapat terbentuk dan berjejaring, sehingga membangun hubungan yang kuat, dengan harapan dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian Indonesia,” ujar Andi.

Selaras dengan CO&CO, sebuah coworking space yang terletak di Mega Bekasi Hypermall, EConnection Space, juga memiliki kultur yang kental akan kolaborasi, fleksibilitas dan keterbukaan yang diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi baru.

Econnection yang merupakan coworking space/Creative Hub pertama di Bekasi ini, tidak hanya menjadi wadah bagi para startup saja tapi juga terbuka bagi mahasiswa dan komunitas yang punya visi misi positif.

“Selain menjadi wadah bagi para startup, Econnection juga ditujukan untuk para pekerja dan talenta di industri kreatif, teknologi, entrepreneurship, mahasiswa dan juga komunitas yang memiliki visi misi serta pengaruh yang membangun bagi masyarakat, khususnya anak muda,” jelas Anita, pendiri Omah Belajar yang juga bagian dari Econnection Space.

Cocok untuk milenial dengan dana terbatas

Di sisi lain, kehadiran coworking space dinilai cocok bagi para milenial yang hanya memiliki dana terbatas namun tetap butuh relasi dengan pelaku bisnis atau industri kreatif lainnya. Maka dari itu, CO&CO menawarkan biaya sewa dengan budget yang cukup terjangkau demi kelancaran operasional.

Untuk biaya all day pass, CO&CO mematok tarif mulai dari Rp 50 - 100 ribu, sementara untuk member bulanan (Flex 5 dan Flex 10) berkisar dari Rp 300 – 500 ribu, terakhir, untuk resident membership dikenai biaya Rp 950 ribu.

Loading Instagram...

Pemberlakuan biaya yang berbeda, disesuaikan dengan kebutuhan dan kesanggupan para pelaku industri di dalam coworking space menjadi salah satu bukti fleksibilitas dan bersifat tidak mengikat.

Ekosistem di dalamnya, juga mendobrak stigma kantoran yang selama ini terkesan konvensional.

Meski biaya sewa terbilang murah, namun fasilitas yang ditawarkan oleh coworking space ini tidak kalah dengan kantor pada umumnya. Baik CO&CO dan Econnection Space, keduanya bahkan sama-sama memiliki ruang kerja bersama yang luas tanpa sekat, meeting room, event space, hingga virtual office service.

Dari banyaknya ruang dan luasnya coworking space, berbagai macam pula industri atau perusahaan yang tergabung di dalamnya. CO&CO mencatat, ada banyak perusahaan yang terdapat di sana, mulai dari perusahaan fintech, desain, hingga konsultan.

Loading Instagram...

Tak jauh berbeda dengan CO&CO, Econnection juga menaungi beberapa perusahaan di dalamnya.

“Sudah ada beberapa perusahaan yang bergabung di Econnection, di antaranya perusahaan travel, majalah online, tax, dan retail,” papar Anita.

Industri dan perusahaan yang variatif tersebut nyatanya memang mayoritas dikelola oleh milenial. Econnection mencatat, range usia pelaku yang tergabung di dalamnya mulai dari 23-40 tahun. Selisih 17 tahun.

Sedangkan CO&CO punya selisih jarak usia yang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 tahun saja.

“Menurut data semenjak kami mulai dari tahun 2014 di kota Bandung, rata – rata umur dari konsumen kami adalah 25 – 35 tahun dengan profesi sebagai, entrepreneur muda, teleworker, mahasiswa, professional dan social activist,” ungkap Andi.

Selain kultur coworking space yang fleksibel dan menawarkan biaya sewa yang murah, kehidupan yang majemuk serta dinamis di dalamnya, menjadi alasan mengapa milenial tertarik untuk bekerja di coworking space. Bahkan Small Business Labs memprediksi, akan ada lebih dari 26 ribu coworking space yang menampung 3,6 juta orang di dalamnya pada 2020 nanti.

Apakah kamu termasuk salah satu yang tertarik untuk bekerja di coworking space?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23