kumparan
29 Jun 2018 17:37 WIB

Dunia Gemerlap Malam: Cerita Pelajar SMA Mengenal Clubbing

Ilustrasi clubbing (Foto: Free-Photos)
Ungkapan klasik mengenai keras dan sulitnya tinggal di kota besar sepertinya tidak hanya relevan bagi mereka yang mencoba mencari penghidupan, tetapi juga bagi para pelajar SMA yang mencoba menjadi bagian dari sebuah ekosistem masyarakat di dalamnya.
ADVERTISEMENT
Kesulitan yang dimaksud tentu bukan merujuk kepada sulitnya menemukan teman. Namun, cepatnya perputaran informasi dan tren di perkotaan, justru membuat mereka kelimpungan sendiri untuk memilih gaya hidup. Batasan usia bahkan tak lagi menjadi sesuatu yang diindahkan.
Hiburan malam adalah salah satu contohnya. Kegiatan yang pada umumnya identik sebagai opsi terbatas bagi mereka yang sudah cukup umur, nampaknya tak lagi memegang peran yang semestinya. Cukup dengan melakukan beberapa trik, clubbing siap menjadi milik semua usia.
Sama seperti yang dikatakan Marvin (nama samaran) kepada kumparan pada Kamis (28/6) sore. Pelajar asal salah satu SMA negeri di kota Bandung ini mengaku suka dengan suasana saat berada di dalam club. Baginya, itulah cara yang ampuh untuk "kabur sesaat dari realita".
Ilustrasi bar (Foto: RondellMelling)
"Saya sendiri sudah tahu mana tempat yang butuh KTP dan mana yang enggak. Kalau mau ke tempat yang butuh KTP biasanya saya ngajak teman yang sudah punya, jadi saya bisa ikut masuk," tutur siswa yang sudah menjajal dunia gemerlap malam sejak kelas 9 itu.
ADVERTISEMENT
Meski tak rutin setiap minggu, Marvin setidaknya tetap mengagendakan untuk pergi clubbing dua kali dalam sebulan. Soal awal atau akhir pekan, baginya sama saja. Marvin punya trik lain untuk mengakali supaya kewajiban yang ia miliki sebagai pelajar tak terlewatkan, yakni dengan tidak tidur sama sekali.
Di beberapa kesempatan, menurutnya, ia bahkan terpaksa harus menginap di dalam mobil di area sekolah, agar bisa tetap on-time masuk kelas dan tak kena amarah orang tua.
"Pernah waktu itu lagi ada acara di weekdays sama teman-teman...karena takut kesiangan, akhirnya kami milih untuk enggak tidur dan nunggu masuk sekolah di mobil depan sekolah," lanjutnya.
Cukup berbeda dengan Marvin, Ina (nama samaran, 16) siswa SMA asal Jakarta Timur ini justru terkesan sudah tak lagi acuh akan pendidikannya. Baginya, pergi clubbing maupun tidak, pendidikannya tetap saja "berantakan".
ADVERTISEMENT
"Nilai gue memang selalu rendah dan orang tua juga enggak terlalu mempedulikan nilai," lanjutnya.
Ina memanfaatkan kegiatan clubbing sebagai sarana untuk berkenalan dengan teman dan mencari suasana baru. Menurutnya, ia biasa melakukan itu semua saat perasaan hatinya sedang kacau atau sedang mengalami masalah, tentunya tanpa terlepas dari minuman beralkohol.
"Gue minta izin ke orang tua dengan 'cerdik'. Contohnya, bertepatan dengan bulan puasa kemarin, gue minta izin buat pergi ke pesantren kilat. Padahal di tengah acara pesantren kilat, gue kabur dan clubbing bareng teman-teman," tutur Ina.
Cara masuk ke dalam club itu sendiri sudah bukan lagi menjadi persoalan bagi Ina. Jika bukan dengan cara menyogok pihak club untuk bisa masuk tanpa KTP, ia pun biasanya meminjam KTP temannya yang dirasa berwajah mirip dengannya.
ADVERTISEMENT
Pilihan hiburan memang sulit untuk dibatasi. Meski bahkan telah dikekang oleh aturan hukum, tetap saja selalu ada cara untuk melangkahi aturan tersebut. Akhirnya, semua itu kembali lagi ke diri masing-masing, dengan usia yang sudah mulai beranjak dewasa, kita seharusnya sudah bisa memilih mana yang menjadi prioritas. Reporter: Fanisa Maghfira/ SPEAR SMAN 10 BEKASI & Dzaki Aribawa/ SPEAR SMAN 8 Jakarta
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·