kumparan
18 Jun 2018 17:34 WIB

Evie Effendie: Saya Tak Minta Gelar Ustaz

Evie Effendie. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Ada banyak kelakar dalam dakwah Evie Effendie. Ada pula pengalaman hidup pahit yang pernah dilalui ustaz asal Sunda kelahiran 1976 itu. Pada keduanya terdapat ironi, sebab masa lalu kelamlah yang menjadi ‘dapur’ bagi terciptanya humor-humor sarat renungan hidup dari sang ‘juru masak’.
ADVERTISEMENT
Yang pasti, Evie yang dulu bukanlah yang sekarang. Bila saat ini ia menjelma pendakwah, dahulu ia anggota geng motor. Kelakuan berandalnya bahkan sempat membuat dia mendekam di penjara--awal keseriusannya memperdalam ilmu agama yang menjadi titik balik dalam hidupnya.
Rajin mengaji di tahanan membuat hati Evie tergerak. Ia memutuskan untuk bertobat, berhijrah, hingga bertransformasi menjadi pribadi berbeda--yang membuatnya jadi inspirasi bocah-bocah badung lain yang merasa “Wah, kok ceritanya gue banget!”
Berikut petikan perbincangan singkat kumparan dengan ustaz penggemar off-road yang memicu adrenalin itu, di selatan Jakarta, Kamis (7/6).
Anda termasuk dai yang banyak membahas soal hijrah.
Saya memahami hijrah sederhana saja: pindah. Secara bahasa artinya itu pindah. Dari gelap ke terang, dari negatif ke positif, dari yang nggak jelas ke yang lebih pasti dan jelas.
ADVERTISEMENT
Dengan hijrah, hidup jadi terarah. Mendapat pahala ketika kita melakukan (hijrah) dengan tulus. Dan penentunya adalah niat.
Hijrah jangan karena materi, perempuan, kedudukan, jabatan, harta, pangkat, apapun. Hijrah karena Allah. Biar nggak lelah, harus lillah (untuk Allah).

Hijrah adalah ketika dulu banyak buat dosa, berubah jadi lebih taat pada Allah, tobat, belajar sungguh-sungguh, ngaji, berbakti pada orang tua, mengamalkan ilmu, menjaga lisan.

- Sonia Ristanti, istri imam muda Muzammil Hasballah

Hijrah adalah pindah ke arah yang lebih menenangkan.
Pemuda beriktikaf di masjid di Bandung. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Kenapa banyak orang hijrah?
Lelah. Dan lelah nggak kenal usia. Saya meliha fenomena akhir zaman, sehingga anak muda yang justru mengingatkan orang tua.
Bukan masalah nggak punya uang, nggak punya pekerjaan, tapi ini masalah hati yang tidak terisi.
ADVERTISEMENT
Maka nutrisi hati adalah hijrah. Pindah ke hal-hal yang lebih menenangkan jiwa.

Tegang lawannya tenang, sempit lawannya sempat, pemicu-pemacu, kendala-kendali, frustasi-prestasi. Nutrisi hati ialah hijrah.

- Evie Effendie

Bukan karena hijrah itu sekarang jadi tren yang dicari anak muda?
Justru yang lebih ditekankan untuk berhijrah itu yang tua. Masa udah tua jadi tua-tua keladi--makin tua makin jadi.
Anak muda aja hijrah, selebritis aja banyak yang hijrah, masa aki-aki nggak mau hijrah? Nanti nyesel sendiri. Kuota usia tinggal berapa giga lagi? Sementara gerakan monoton--stay on the track dalam kenegatifan dan kekhilafan.
Video
Dakwah zaman now apakah harus gaul?
Saya mesantren nggak pernah beres, kuliah nggak pernah tamat, sekolah nggak pernah jelas. Tapi Islam meliputi semua kalangan, rahmatan lil ‘alamin. Jadi, saya harus jadi diri saya, tidak mesti jadi orang lain.
ADVERTISEMENT
Sederhananya: mengilhami tanpa harus menghakimi, mengajak tanpa harus mengejek, merangkul tanpa harus memukul, membina tanpa harus menghina, mencintai tanpa harus mencaci, walaupun mendaki tolong jangan mendengki.
(Dakwah) pakai bahasa kami aja, karena yang dihadapi orang-orang yang satu pengalaman, satu latar belakang, satu masa lalu.
Bahasanya kekinian, kerohanian. Jangan kekunoan, nanti (pesan dakwah) tidak sampai (audiens) kepada yang dimaksud.
Imam-imam muda Pemuda Hijrah. (Foto: Instagram/@bahanan93)
Menurut Anda, apa beda ustaz dengan dai?
Ustaz itu guru. Saya nggak menggurui. Kalau saya sekarang dinyatakan sebagai ustaz, saya nggak pernah wisuda, nggak pernah dapat gelar formal. Itu mah hadiah aja kali dari masyarakat. Semoga jadi doa yang positif.
Jadi perbedaan ustaz dengan dai: ustaz adalah guru, dai adalah penyampai.
ADVERTISEMENT
Saya lebih tepat (disebut) dai--pengajak.

Mengilhami tanpa harus menghakimi, mengajak tanpa harus mengejek, merangkul tanpa harus memukul, membina tanpa harus menghina, mencintai tanpa harus mencaci.

- Evie Effendie

Kalau bukan ustaz, Anda kira-kira jadi apa?
Oh, saya nggak mau jadi ustaz. Kemarin sempet ada netizen (tanya), masa pelawak jadi ustaz, masa artis jadi ustaz, masa penari jadi ustaz.
Saya nggak minta gelar ustaz. Saya nggak pernah mau jadi ustaz. Saya pengennya jadi orang bener aja yang bermanfaat bagi yang lain.
Saya berterima kasih dapat hidayah. Kalau nggak, saya mungkin masih tetap di geng motor, tetap dalam kejahiliahan saya, tetap dalam masa penat pekat dengan maksiat-maksiat saya.
Alhamdulillah dapat hidayah.
Evie Effendie. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
------------------------
ADVERTISEMENT
Ikuti jejak Pemuda Mencari Surga di Liputan Khusus kumparan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan