kumparan
30 Jan 2018 17:08 WIB

Finstagram, Tren Akun Palsu yang Populer di Kalangan Remaja Indonesia

Ilustrasi akun palsu (Foto: Youtube)
Dari beberapa media sosial yang ada, Instagram jadi salah satu platform yang terkenal di dunia, termasuk Indonesia. Berkat semua kemudahan dan fitur yang ditawarkan, enggak salah kalau media sosial ini mampu menarik jutaan pengguna dari seluruh dunia, yang rata-rata masih berusia remaja.
ADVERTISEMENT
Dulu, sejak pertama kali diluncurkan, Instagram jadi media sosial yang dikhususkan sebagai tempat untuk berbagi foto oleh para penggunanya. Namun, seiring berjalannya waktu, media sosial yang didirikan oleh Kevin Systrom ini mulai berkembang dengan menawarkan fitur video sampai ‘Instagram Story’, bahkan dijadikan alat untuk mengumbar gaya hidup sekaligus ‘pencitraan’.
Instagram. (Foto: Wokandapix via Pixabay)
Bahkan, enggak jarang feed Instagram diibaratkan seperti lampiran Curriculum Vitae (CV) yang berisi portofolio terbaik dari hidup seseorang. Setidaknya, itu menurut Meryam Zahida.
“Di Instagram, lebih gampang untuk menyusun portofolio untuk kerjaan tertentu. Enggak jarang gue juga ada tawaran kerja dari sana,” ujar freelance fashion stylist asal Jakarta.
Senada dengan yang dikatakan Mery, Ardhian Wisnu Pratama, fotografer resmi dari Saint Loco, menambahkan bahwa Instagram memang dijadikan sebagai bahan promosi untuk jasa yang ditawarkan.
ADVERTISEMENT
“Bisa dibilang, sih, iya (menjadikan Instagram sebagai CV). Secara enggak langsung gue emang bikin feed tentang foto panggung,” lanjut cowok pemilik akun Instagram @aanmumu.
Loading Instagram...
Namun rupanya, kerapian yang ditunjukkan lewat feed Instagram bertema ini membuat para penggunanya menetapkan standar yang harus dipenuhi saat hendak menggunggah foto atau video. Bahkan, untuk mengunggah satu foto saja, para pengguna harus melewati berbagai tahapan hingga akhirnya layak untuk diunggah ke akun Instagram pribadinya.
Nah, tekanan ini kemudian menyebabkan munculnya fenomena ‘Finstagram’. Dikutip dari Refinery29, Finstagram merupakan singkatan dari Fake Instagram (Instagram palsu), tempat para pengguna mengunggah foto dan video secara intim tanpa perlu khawatir dicap ‘nyampah’ oleh pengguna lain.
Gampangnya, di akun ini, kamu bisa mengesampingkan sederet aturan yang berlaku di akun pribadi. Kamu bisa posting apa saja sesuka hati, tanpa perlu takut merusak feed dan image yang sudah kamu bangun selama ini.
ADVERTISEMENT
“Gue biasanya kepoin mantan atau posting ‘sampah’ harian. Di akun utama, gue pengin punya feed yang bagus. Nah di akun ini (Finsta), cuma buat asal posting sesuka hati,” ujar Fatih, salah satu siswa SMA Negeri di Jakarta.
Sejak kapan fenomena ini muncul?
Ilustrasi akun palsu (Foto: Dok. quora)
Di luar negeri, tren ini mulai ramai sejak 2015 lalu di kalangan Generasi Z. Kebanyakan dari mereka memandang media sosial sebagai beban yang harus dikelola dengan ketat. Nah, hadirnya, Finstagram menjadi sebuah wadah bagi mereka untuk membagikan kehidupan pribadi tanpa takut mendapat komentar buruk dari pengguna lain.
Silih Agung Wasesa, praktisi Public Relations, mengatakan bahwa fenomena akun palsu ini sebenarnya sudah lama terjadi di Indonesia.
"Dari zaman Facebook sudah ada akun palsu seperti ini. Pas Twitter booming juga sama, mulai muncul akun-akun palsu. Dan sekarang, akun-akun palsu mulai ramai di Instagram," katanya saat dihubungi kumparan (kumparan.com), Selasa (30/1).
ADVERTISEMENT
Fatih enggak sendirian. Clara, siswi di salah satu SMK Negeri di Jakarta, mengatakan bahwa dia memiliki akun palsu sebagai galeri foto yang bersifat online, seperti iCloud pada Apple.
"Aku, sih, membuat akun palsu ini buat upload foto-foto pribadi biar memori smartphone enggak penuh. Terus paling buat share quotes atau kepoin orang. Aku ada dua akun palsu, satu buat share foto dan kegiatan, satu lagi untuk penyamaran," imbuhnya.
Silih menambahkan bahwa kepemilikan lebih dari satu akun ini biasanya untuk urusan personal penggunanya. Dia menambahkan bahwa fenomena ini punya kaitan yang lekat dengan pencitraan. Menurutnya, dalam dunia psikologi, fenomena ini bisa disebut katarsis.
"Biasanya, mereka buat akun itu untuk stalking, bisa mantan atau juga gebetan. Ada juga yang menggunakan akun palsu untuk menggoda cewek, mereka enggak mau ketahuan, akhirnya mereka pakai akun yang lain. Mereka ingin tetap dilihat bagus, tapi mereka harus menyalurkan hal-hal konyol juga. Nah, caranya adalah dengan membuat akun palsu yang satu lagi," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Septian, salah satu siswa SMA swasta di Tangerang mengatakan bahwa enggak ada yang salah dengan fenomena tersebut. Menurutnya, selama masih dipakai sebagai sarana ‘lucu-lucuan’, hal itu masih masuk batas wajar.
“Tapi kalau udah dipakai buat nyebar aib orang, atau dipakai buat bully, itu sama sekali enggak lucu,” tutup Septian.
Yap, seperti yang dikatakan Septian, enggak ada yang salah dari fenomena Finstagram. Namun, kalau penggunaan akun ini sudah melenceng dari ide awal pembuatannya, seperti digunakan untuk menyebar aib orang, hal itu enggak cuma akan merugikan si korban, tapi juga diri kamu sebagai orang yang pertama kali menyebarkannya. Sebab, ada beberapa konsekuensi yang harus kamu hadapi dari perbuatan ini. Berani?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·