Pencarian populer

Geliat Dakwah Milenial: Sejuta Pemuda Jadi Jemaah

Dai muda dengan sejuta lebih pengikut. (Foto: Instagram/SHIFT @pemudahijrah)
Ramadhan jadi saksi. Betapa tak sedikit pemuda yang mencari berkat dan rahmat dalam dekapan Tuhan-nya. Mencari surga tak tunggu tua, mereka berbondong-bondong memenuhi masjid pada 10 malam terakhir Ramadhan demi bertemu Lailatul Qadar--malam yang lebih baik dari 1.000 bulan.
ADVERTISEMENT
Masjid Al Lathiif di Bandung Wetan, misalnya, tak pernah sepi pengunjung. Tanggal 27 Ramadhan, sekitar 4.000 orang datang beriktikaf, membuat masjid dua lantai itu tak mampu menampung mereka. Jemaah memenuhi penjuru masjid dan luber hingga ke ujung jalan.
Sementara Masjid Habiburrahman di Cicendo, Bandung, mendadak jadi tempat kamping. Bak pendaki gunung, para jemaah mendirikan 350 tenda serupa jamur warna-warni. Tenda-tenda itu memenuhi bagian dalam masjid sampai ke halaman. Betul-betul pemandangan iktikaf masa kini yang mencengangkan bagi orang yang tak biasa melihatnya.
Yang lebih mengejutkan, peserta iktikaf tak hanya berasal dari Bandung dan sekitarnya, tapi juga daerah-daerah luar Jawa seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Tak heran panitia kewalahan menampung mereka. Pelataran masjid saja sudah penuh sesak.
ADVERTISEMENT
Video
Empat ribu orang yang berkumpul di Masjid Al Lathiif Bandung pada 25 Ramadhan. Mereka beribadah bersama para imam muda Pemuda Hijrah seperti Tengku Hanan Attaki yang juga pendiri gerakan itu, hafiz Salim Bahanan, dan Muzammil Hasballah penggagas Imam Muda Salman--beasiswa untuk imam muda pencinta Al-Quran yang inspiratif dan kekinian.
Nama yang disebut terakhir, Muzammil, sempat menghebohkan jagat maya pada 7 Juli 2017. Hari itu, imam muda bersuara merdu lulusan Arsitektur ITB tersebut menikahi perempuan bernama Sonia Ristanti Idris, membuat keduanya menjadi sorotan media sosial.
Muzammil-Sonia ialah contoh ideal pemuda-pemudi muslim masa kini. Pandai mengaji, penghafal Al-Quran, saleh, kalem, bijak, ganteng, cantik, romantis, modern, sukses, dan sederet poin plus lain yang membuat mereka jadi panutan generasi hijrah, termasuk 2,3 juta pengikut sang hafiz di Instagram.
ADVERTISEMENT
Sejak awal menikah, Muzammil tak sungkan mengumbar kemesraan di media sosial.
Welcome to my life, shalihah,” ujar Muzammil saat mengunggah foto dia dan Sonia yang berbalut gaun putih di Instagram pada hari pernikahan mereka.
Pernikahan Muzammil dan Sonia Ristanti (Foto: Instagram/@muzammilhb )
Pada kesempatan lain, April 2018, Muzammil mengunggah potret dia bersama Sonia di Masjid Nabawi, Madinah, disertai caption yang bikin ‘baper’ muda-mudi.
“Allah has perfect timing… never early, and never late. It takes a little patience and a lot of faith…”
“I don’t want to have the world’s attention. Yours is enough @soniaristanti.”
Muzammil dan Sonia Ristanti. (Foto: Instagram/@muzammilhb )
Lewat media sosial, Muzammil dan Sonia menebar dakwah. Sonia yang lulusan Teknik Geofisika Universitas Syiah Kuala Aceh itu, tak kalah rajin dari suaminya. Ia mahir mengupas perbedaan pandangan yang rawan perdebatan, dengan jernih.
ADVERTISEMENT
Penggunaan media sosial yang masif untuk berdakwah adalah keniscayaan bagi para dai generasi milenial itu. Ustaz Adi Hidayat, Evie Effendie, Hanan Attaki dan istrinya Haneen Akira, semua memiliki akun Instagram sebagai sarana komunikasi dengan pengikutnya. Jumlah pengikut mereka terhitung ratusan ribu hingga tiga jutaan.
Selain Instagram, dai-dai muda itu memiliki akun YouTube dengan ratusan ribu hingga jutaan pengikut. Akun mereka diisi ragam konten--teks, foto, terutama video--yang diproduksi secara serius.
Lihat saja unggahan video ceramah ‘One Minute Booster’ Hanan Attaki di akun YouTube Pemuda Hijrah yang dibuat dengan kualitas high definition, suara jernih, susunan kalimat sederhana dengan gaya bahasa kekinian, dan durasi hanya satu menit sehingga mudah dibagikan via Instagram yang membatasi waktu pemutaran video.
ADVERTISEMENT
Video
Kalimat-kalimat pada sejumlah video bahkan dirangkai berima, membuatnya makin renyah didengar dan lebih mudah melekat di ingatan.
Coba juga simak ceramah Evie Effendie dalam akun YouTube-nya yang disajikan dengan judul-judul nyeleneh seperti ‘AADC (Ada Allah Dalam Curhatku)’ atau ‘Dilan (Ngaji di Jalan)’. Ceramah-ceramah itu disisipi kelakar berbahasa Sunda--bahasa ibu sang ustaz yang kelahiran Bandung--sehingga jadi lebih asyik didengar dan tak membosankan ditonton sampai akhir.
Dengan gaya bahasa dan penampilan gaul khas milenial yang ditonton, like, comment, and share berulang kali di media sosial, dai-dai muda itu melejit populer. Tak sekadar mubalig, tapi juga macam selebritas.
Hanan Attaki, misalnya, sukes menjaring 3,3 juta pengikut di akun Instagram @hanan_attaki dan 134 ribu subscriber di akun YouTube Pemuda Hijrah; Evie Effendi memiliki 759 ribu pengikut di Instagram @evieeffendie dan 162 ribu subscriber di akun YouTube Evie Effendie Official; Muzammil Hasballah mengumpulkan 2,3 juta pengikut di Instagram @muzammilhb dan 340 ribu subscriber di akun YouTube-nya.
ADVERTISEMENT

Manfaatkan teknologi untuk kebaikan dan berdakwah.

- Evie Effendi

Lebih lanjut, popularitas dai muda di jagat maya kemudian dilirik stasiun televisi. Evie, sang dai Sunda, selain kebanjiran undangan berdakwah sepanjang Ramadhan (minimal tiga lokasi setiap hari), juga mengisi acara sahur di Trans7.
Imam-imam muda Pemuda Hijrah. (Foto: Instagram/@bahanan93)
Kecermatan dalam menggunakan dan memanfaatkan media sosial bukan faktor utama yang membuat dai-dai muda itu mempesona di mata generasi milenial. Dua hal lain tak kalah penting: konten dan konteks.
Konten, menurut penulis buku #GenerationMuslim Yuswohady, berupa materi ceramah ringan seputar kehidupan sehari-hari dengan deretan kegalauan khas anak muda. Semisal, urusan pertemanan, pacaran, cara berpakaian, berhijab, berhijrah, dan hal-hal lain yang aktual dan bisa langsung diterapkan sedikit demi sedikit.
Cara berdakwah dengan tema tertentu sesuai situasi terkini sesungguhnya sudah dimulai oleh Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dengan konsep ‘menjaga hati’ yang ia kedepankan.
ADVERTISEMENT

Tidak hanya aspek vertikal, tapi juga horizontal. Tidak hanya tekstual, tapi juga kontekstual.

- Yuswohady

“Ustaz Hanan ngebahas topik-topik keseharian, jadi nyambung banget dengan masalah yang biasa saya hadapi. Pembawaannya juga enak dan saya nggak merasa sedang dihakimi,” kata Aufa, salah satu pendengar setia Hanan.
Hanan Attaki. (Foto: Instagram/ @hanan_attaki )
Kesamaan ‘frekuensi’ antara dai-dai muda dengan target pendengarnya (anak muda), membuat mereka tahu betul keinginan dan kebutuhan dari orang-orang yang seumuran.
“Dia (dai muda) seperti menceramahi diri sendiri. Dia ngerti kebutuhan customer, maka semua natural dan menjadi lebih connect,” kata Yuswo kepada kumparan, Rabu (6/6).
Sementara soal konteks, lanjut Yuswo, ialah terkait cara penyampaian dakwah--yang menggunakan bahasa sederhana dan mudah diingat, serta menyisipkan idiom kebarat-baratan yang bagi sebagian orang identik dengan modernitas.
ADVERTISEMENT
“Barat itu sumber dari ‘cool’. Unsur keren itu ditambahkan di situ (ceramah), tapi tanpa menghilangkan aspek keislaman.”
Unsur keren itu makin memikat karena berpadu dengan setelan pakaian kasual kekinian, menegaskan identitas sang pendakwah yang ‘juga anak muda banget’--berada di lingkaran yang sama dengan orang-orang yang jadi target market-nya.
Pilihan busana itu cenderung berbeda dengan para kebanyakan mubalig dari generasi terdahulu yang umumnya mengenakan gamis dengan kafiyeh tersampir di pundak, dan sorban atau kopiah bertengger di kepala.
Coba lihat foto-foto Salim Bahanan di akun Instagram-nya yang kerap memamerkan ia bercelana jeans dan berjaket kulit keren gagah layaknya bintang sinetron, meski tak jarang pula ia mengunggah potret diri mengenakan setelan baju koko atau sorban.
Salim Bahanan dan Ibrohim Fadlannul (Foto: Instagram/@bahanan93/@abdurrahmanbages )
Soal kostum, Hanan Attaki dan Evie Effendie punya gaya khas berupa kupluk yang menempel di kepala mereka. Evie, bila tak tampil berkupluk, memilih berceramah--dengan dialek Sunda kental--menggunakan topi fedora macam pria-pria London.
ADVERTISEMENT
“Saya hanya menjadi diri saya, tidak mesti jadi orang lain,” kata Evie saat berbincang dengan kumparan, Kamis (7/6), di sela dakwahnya di Jakarta Selatan.
Ustaz muda yang gemar off-road itu pun mahir membuat singkatan-singkatan unik yang mudah diingat, semisal ‘kebut menuju Tuhan’ yang ia singkat menjadi ‘kebutuhan’, ‘menapak dan mengukur’ yang ia sebut ‘tafakur’ (merenung), dan ‘bawa perubahan’ yang ia pendekkan menjadi ‘baper’--pelintiran dari tafsir aslinya dalam bahasa gaul anak muda yang berarti ‘bawa perasaan’.
“Karena yang saya hadapi orang-orang satu pengalaman, satu latar belakang, satu masa lalu, jadi ya menggunakan bahasa kekinian, kerohanian, tapi (pesannya) sampai,” kata Evie yang pernah merasakan jadi pemuda bengal hingga mendekam di penjara.
Konten dan konteks narasi dakwah Evie, dengan status sebagai eks anak badung bahkan berandal, tak pelak berhasil memasuki spektrum gaya hidup kekinian. Ia pun dengan jeli mengubah pengalaman pahit dalam hidupnya menjadi peluang, dengan menuliskannya menjadi buku berjudul ‘Gapleh: Gaul tapi Soleh’.
ADVERTISEMENT
Dakwah Evie itu, misalnya, membuat Zulfikar lepas dari lembah hitam narkoba. Ia yang dulu mencandu psikotropika, tergugah setelah mendengar ceramah Evie.
“Evie juga pernah badung. Sekarang sudah nggak zaman gaul dengan ngobat. Sekarang gaul tapi soleh,” kata Zulfikar, merujuk pada judul buku Evie. Zul kini bekerja mandiri sebagai sopir taksi online.
Evie Effendie. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Para dai kekinian itu membuat agama berwajah ramah lebih mudah masuk ke hati kaum muda. “Agama jadi bagian hidup sehari-hari. Ia ada di ranah privat dan publik, tak terpisah jauh,” kata Lugina Setyawati Setiono, sosiolog Universitas Indonesia, Senin (11/6).
Itu sebabnya ia dengan cepat menyebar menjadi gaya hidup masa kini (tren). “Digerakkan oleh peer to peer communication menjadi mass.”
ADVERTISEMENT
Gaya hidup itu disebut Yuswohadi dengan istilah ‘new cool’--perpaduan gaya hidup keren yang kebarat-baratan, dengan Islam
Di sisi lain, new cool bisa memicu level narsistik yang tinggi. “Islam itu mencerminkan kealiman dan kebaikan, sementara Barat mencerminkan kekerenan. Digabungkan, maka menjadi sesuatu yang bernilai tinggi untuk kenarsisan,” ujar Yuswo.
“Hipotesisnya, dai yang bisa survive adalah dai yang tahu menggunakan teknologi, perangkat-perangkat yang dalam masyarakat digital bisa diberdayagunakan dan inovatif,” kata Lugina.
Pemuda beriktikaf di masjid di Bandung. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Pendekatan-pendekatan para ustaz gaul itu terbukti manjur. Banyak pemuda betul-betul melangkahkan kaki ke masjid, bukan sekadar mengunggah foto mengaji di jagat maya.
Komunitas Pemuda Hijrah yang dibesarkan Hanan Attaki lewat media sosial pun kerap berkumpul di Masjid Al Lathiif untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman.
ADVERTISEMENT
Secara keseluruhan, para dai muda yang menjamur di Bandung membuat pergaulan sebagian anak muda kota itu ikut berubah. Seperti apa? Simak terus rangkaian kisahnya di Liputan Khusus kumparan.
------------------------
Ikuti jejak Pemuda Mencari Surga di Liputan Khusus kumparan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80