kumparan
10 Apr 2019 17:06 WIB

Kenali 4 Kriteria Bullying

Stop bullying. Foto: Dok. Freepik
Bullying, penindasan, atau perundungan merupkan perbuatan tidak terpuji yang marak terjadi enggak hanya di lingkungan sekolah.
ADVERTISEMENT
Salah satunya baru-baru ini, kasus pengeroyokan yang menimpa siswi SMP di Pontianak. Remaja berusia 14 tahun ini dianiaya oleh geng cewek SMA yang terdiri dari 8-12 orang.
Enggak cuma diancam, korban juga dipukuli sampai terluka cukup parah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Korban enggak hanya mengalami kekerasan verbal namun juga fisik seperti dijambak, ditampar, ditendang wajahnya, perutnya diinjak, bahkan kepalanya dibenturkan sampai berdarah di jalanan berbatu.
Netizen Indonesia ramai-ramai mengecam aksi bullying yang dilakukan geng cewek SMA Pontianak ini. Tindakan pelaku dinilai kelewatan dan enggak pantas dilakukan oleh remaja di bawah umur.
Tindak kekerasan atau bullying, biasanya dilakukan untuk mengintimidasi orang lain. Bullying dilakukan berulang-ulang untuk menguasai korbannya.
Ilustrasi keisengan anak SMA. Foto: Dok. Last Day Production
Namun, penting untuk diketahui bahwa enggak semua kekerasan atau intimidasi bisa dikategorikan bullying. Menurut penuturan psikolog anak dan remaja, Hanlie Muliani, sebuah tindakan baru bisa disebut bullying kalau sudah memenuhi empat kriteria berikut ini. Apa saja?
ADVERTISEMENT
1. Tindakan agresif
Tindakan bullying kerap mengandung unsur kekerasan fisik. Pada cowok, umumnya tindakan bullying lebih mengarah pada fisik seperti menendang, menonjok, atau mengerjai korban. Sedangkan cewek lebih ke arah membentak, melabrak di depan umum, menjambak, bahkan menampar. Bisa juga menyiramkan minuman atau makanan untuk mengotori pakaian korban.
"Cara cewek cowok mengekspresikan kekasaran secara verbal berbeda. Cowok cenderung menggunakan umpatan kasar, sedangkan cewek melakukan labeling yang menjatuhkan harkat korbannya," terang penulis buku 'Why Children Bully?' ini kepada kumparan lewat sambungan telepon, Rabu (10/4).
Ilustrasi bully di kalangan pelajar yang tidak pantas ditiru. Foto: Dok. Last Day Production.
2. Adanya intimidasi psikis
Seperti menatap sinis kepada korban, membanting pintu serta sengaja bisik-bisik di depan korban. Intinya, pelaku bakal melakukan hal-hal yang bikin korbannya enggak nyaman.
ADVERTISEMENT
3. Sanksi sosial
Jika memungkinkan, pelaku bullying biasanya berusaha menyingkirkan atau mengucilkan korbannya dari pergaulan. Biasanya dengan menyebarkan isu negatif atau menghasut orang agar enggak menyukai si korban.
"Biasanya hasut-menghasut dilakukan cewek. Kalau cowok biasanya mem-bully dengan mempermalukan anak yang dianggap culun atau berbeda dari mereka," terang Hanlie.
"Ada yg namanya unbalance strength, pelaku banyak, sedangkan korban cuma sendiri. Atau antar senior-junior, enggak seimbang," sambungnya.
Ilustrasi bully di kalangan pelajar yang tidak pantas ditiru. Foto: Dok. Last Day Production.
4. Pengulangan
Ini merupakan aspek terpenting. Sebuah tindak kekerasan baru tergolong dalam kategori bullying kalau dilakukan secara berulang.
"Enggak cuma sekali, namun sering dari pelaku yang sama. Kalau cuma sekali belum bisa dikategorikan sebagai bullying," pungkas Hanlie.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·