Pencarian populer

Psikolog: Fenomena ‘Netizen Julid’ Ada karena Mereka Kurang Kerjaan

Media sosial (Foto: Thinkstock)

Perkembangan teknologi dan informasi tak selamanya memberikan manfaat positif. Alih-alih mengagungkan kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat, para penghuni media sosial atau yang biasanya disebut netizen, dengan bebasnya melontarkan komentar-komentar miring bernada cemooh. Tak jarang, semua cemoohan itu berujung di meja peradilan.

Bukannya takut dengan UU ITE, banyak netizen justru makin berani untuk menghujat bahkan menghakimi artis lewat kolom komentar. Anggapan-anggapan yang mengatakan ‘maha benar netizen dengan segala komennya’ hingga 'omongan netizen lebih pedas daripada omongan mertua' sepertinya mampu mencerminkan fenomena netizen Indonesia zaman sekarang.

Biasanya, untuk melancarkan aksi tersebut netizen akan berlindung di balik ‘akun-akun bodong’. Akun tak jelas identitasnya memang seringkali menimbulkan keresahan dalam kolom komentar, mulai dari spam jualan, komentar hujatan, hingga akun yang mengatasnamakan orang lain.

"Gue benci banget sama orang-orang yang nge-bully pake akun bodong. Kalau lo 'jantan' bully pake akun sendiri kali," ujar cowok yang akrab dipanggil Andre, salah satu cowok yang kerap mendapat tindakan bully di media sosial.

Tanpa ragu, Andre juga menceritakan pengalamannya saat di-bully di Instagram perihal ukuran badannya.

"Padahal, kan, yang nge-bully belum tentu body-nya kayak Ronaldo," tambahnya.

Dikutip dari Parent Info, fenomena seperti ini lazim disebut dengan online shaming. Situs tersebut juga mendefinisikan online shaming sebagai kejadian di mana seseorang disasar dan diserang oleh pengguna lain di media sosial. Meski enggak hanya melibatkan banyak pengguna, online shaming juga kerap terjadi dengan lingkup yang kecil.

Ilustrasi Bully (Foto: Pixabay)

Menurut Psikolog Anak, Anna Surti Ariani, ada beberapa alasan kenapa netizen 'rela' mengeluarkan waktu, tenaga, dan kuotanya untuk sekadar mengirimkan cibiran mengenai kehidupan orang lain.

"Ada yang kurang kerjaan, ada juga yang lagi lari dari masalahnya sendiri sehingga dia melimpahkan semua masalahnya dengan mem-bully orang lain. Ada juga yang enggak percaya diri, sehingga untuk membuktikan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain dia akan ‘menginjak’ kehidupan orang lain," katanya saat dihubungi kumparan (kumparan.com), Selasa (24/4).

Namun, Anna juga enggak menutup kemungkinan kalau fenomena ini muncul dari mereka-mereka yang sangat sulit melihat hal-hal berbau positif, sehingga apa pun yang dia lihat pasti akan ia komentari.

Komentar-komentar individual bernada cemooh ini tak jarang dicapai untuk keuntungan dan kesenangan tertentu.

"Seperti ingin mencapai perasaan yang lebih baik, terus kadang-kadang dia juga lagi cari teman. Karena dengan sama-sama melakukan tindakan bully, dia akan 'dianggap' dalam kelompok tersebut," pungkasnya.

Lebih lanjut, Anna menambahkan bahwa salah satu cara yang bisa kita lakukan jika mengalami kejadian seperti itu adalah dengan mencari teman.

"Teman di sini adalah teman yang senasib dan pernah mengalami hal yang serupa. Kamu butuh orang yang bisa diajak curhat terkait masalah ini," tutup Anna menegaskan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: