kumparan
31 Jan 2018 14:47 WIB

Psikolog: Finstagram Muncul karena Proses Pencarian Jati Diri Remaja

Ilustrasi akun palsu (Foto: Youtube)
Jangan percaya sesuatu yang tampak begitu indah dari luar. Seenggaknya, ini yang harus diperhatikan saat membuka feed Instagram dan menemukan ragam foto indah yang dipamerkan oleh teman-teman kamu. Sebab, kamu enggak tahu seberapa ’asli’ mereka sampai kamu menemukan akun finstagramnya.
ADVERTISEMENT
Enggak boleh memajang foto secara rutin, mengatur cahaya, hingga angle foto yang mampu menuai banyak likes dan komentar ternyata menyimpan tekanan sosial tersendiri buat sebagian orang. Peraturan enggak tertulis ini enggak jarang membuat beberapa remaja harus mengubur dalam-dalam jati diri mereka yang sesungguhnya dan menampilkan apa yang orang inginkan; gaya keren dengan baju kekinian dan latar belakang foto yang indah.
Dampaknya? Finstagram. Iya, finstagram, akun kedua yang menampilkan sisi ‘nyata’ para penggunanya yang sedang banyak dibuat oleh para remaja akhir-akhir ini
Menanggapi hal ini, Elizabeth Santoso, salah seorang psikolog di Jakarta, mengatakan bahwa tren membuat finstagram belakangan ini merupakan indikasi dari adanya dua kepribadian.
“Bisa jadi (mereka punya dua kepribadian). Mereka mengalami tekanan sosial. Artinya di sini adalah di rumah, mereka dituntut oleh orang tua untuk menjadi anak yang baik. Padahal, dalam jiwa remaja mereka ingin memiliki baju seksi dan berpenampilan seksi, atau sebaliknya.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa enggak sedikit orang-orang yang akan tampil seksi di media sosial untuk mendapatkan banyak follower dan menjadi terkenal.
"Teman saya ada yang seperti itu, penampilan sehari-harinya serba tertutup, tapi saat memajang foto untuk Instagram, dia langsung tampil seksi,” katanya kepada kumparan (kumparan.com) pagi (31/1) ini.
Logo Instagram (Foto: Pixabay)
Selain itu, Elizabeth juga mengaitkan fenomena ini pada Teori Identity Diffusion. Menurutnya, para remaja saat ini masih berusaha mencari jati diri mereka yang sebenarnya. Apakah mereka ingin menjadi sosok terkenal dengan gaya cantik seperti yang mereka tampilkan di akun utama, atau bahkan menjadi sosok yang biasa saja, tanpa makeup, baju kekinian, atau jalan-jalan mewah.
“Kalau kita berbicara soal remaja, bisa jadi fenomena ini muncul karena kita tahu bahwa mereka masih dalam proses pencarian jati diri. Mereka masih bingung identitasnya itu yang mana, sehingga mereka bisa sampai membuat dua akun seperti sekarang,” katanya.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, dia juga menambahkan bahwa hal tersebut akan menimbulkan tekanan tersendiri pada remaja. Menurutnya, jika remaja membuat akun palsu untuk menjalani kehidupan sebagai dua orang yang berbeda, hal tersebut harus diwaspadai karena memiliki dampak buruk yang berujung pada depresi.
“Mereka menyangkal jati dirinya sendiri saat mereka membuat dua akun yang menampilkan sisi yang sangat berbeda. Harus segera diatasi. Tapi kalau hanya untuk stalking atau jualan, hal ini enggak berdampak apa-apa,” tutup Elizabeth.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·