kumparan
14 Sep 2018 19:19 WIB

Ramai-ramai Investasi Brand Streetwear, Seberapa Untung?

Supreme x Louis Vuitton. (Foto: Dok. Louis Vuitton)
Bagi sebagian orang, membeli sesuatu barang bermerek dengan harga yang melambung tinggi tidaklah masuk akal. Tapi, ada juga beberapa orang yang justru menyukainya dan mengambil untung dari koleksi barang bermerek tersebut.
ADVERTISEMENT
Seperti yang dilakoni oleh Andra (23). Mahasiswa jurusan teknik dari Aachen University di Jerman ini mulai menyukai dan membeli merek-merek streetwear ternama karena cukup hype di lingkungan tempat tinggalnya.
“Di sini (Jerman) emang sehari-hari pakai brand streetwear,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, salah satu brand streetwear yang paling sering dipakai dan terkenal di sana adalah Supreme. Namun, karena menurut Andra Supreme tersebut cukup mainstream, dia hanya iseng membelinya untuk kemudian dijual kembali. Terutama untuk Supreme limited edition.
“Gue suka belinya doang, sensasi dapet barang yang limited dan datang ke rumah tuh, enak banget. Karena biasanya, barangnya bisa habis dalam hitungan detik, jadi kalau dapat ada kesenangan tersendiri,” kata Andra mengakui.
Sedikit berbeda dengan Andra yang mulai mengenakan brand streetwear karena pengaruh lingkungan, Danang (25) justru senang memakai brand, --tidak hanya streetwear, namun juga high end-- untuk terlihat menarik dan berbeda.
ADVERTISEMENT
“Gue suka kalau dapat menyedot perhatian. Tapi intinya sih, I dress nice for myself,” terangnya.
Loading Instagram...
Danang yang juga pemilik sebuah bisnis jasa pembelian brand-brand ternama ini mengatakan bahwa bisnis atau investasi brand ternama baik streetwear maupun high end ini bisa meraup keuntungan yang amat besar. Terutama jika brand tersebut memang sudah tersohor dan kuat pasarnya serta memproduksi barang yang terbatas.
Dia memberi contoh, kolaborasi streetwear dengan brand high end seperti Supreme x Louis Vuitton (LV) atau Supreme x RIMOWA termasuk dalam koleksi yang terbatas.
Supreme x Rimowa (Foto: Instagram @supremenewyork)
“Biasanya kalau barangnya susah banget didapat dan gue tahu itu bakal laku dijual lagi, gue akan beli dulu. Terus nanti baru gue jual lagi lebih mahal,” ucapnya.
ADVERTISEMENT
Untuk keuntungan, meski tidak tentu, Danang memberi gambaran bahwa dalam satu barang titipan beli, dia mampu mengambil 10 hingga 30 persen dari harga jual, plus tax refund.
“Gue pernah buka jasa titip satu jam tangan Richard Mille, hasilnya gue bisa beli tiga tas LV. Kalo dirupiahin sekitar Rp 60 juta,” bebernya.
Begitu pula dengan yang dialami Andra, dia pun merasa untung dengan investasi di brand streetwear.
Andra pernah membeli Supreme Box Logo Tee seharga 60 Euro dan menjualnya kembali dengan harga yang sama. Padahal dia sudah memakai kaus tersebut selama satu tahun.
“Itu kaus udah gue pakai setahun deh, dengan kondisi yang masih bagus. Gue bisa jual minimal dengan harga yang sama. Kan dipikir-pikir kayak gratis pakai kaus setahun jadinya,” ujarnya.
Yeezy Boost 350 V2 (Foto: Dok. Adidas Indonesia)
Selain itu, Andra mengaku pernah menjual kembali sneaker adidas Yeezy Boost 350 V2 Zebra miliknya dan mendapat keuntungan hinggal empat kali lipat.
ADVERTISEMENT
“Dulu waktu beli 250 euro, terus gue jual ke Indo dengan harga 1000 euro,” papar Andra.
Nah, bagaimana dengan kamu sendiri? Apakah kamu tertarik membeli brand-brand streetwear ternama dan kemudian menjualnya sebagai investasi?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan