Pencarian populer
17 Februari 2019 18:48 WIB
..
..

Riset: Efek Patah Hati Dapat Menganggu Kinerja Otak

Makanya jangan terus bersedih. Foto: ThinkStock

Setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya patah hati. Setidaknya, sekali seumur hidup.

Saat patah hati, dunia serasa berhenti berputar. Kamu jadi galau, enggak mood melakukan apapun, bahkan kehilangan selera makan. Bawaannya pengin menyendiri, mengurung diri di kamar untuk meratapi apa yang salah di hubungan kalian dan mengingat semua kenangan indah bersama si dia.

Enggak jarang, patah hati bahkan menyebabkan seseorang jatuh sakit dan stres. Pernah mengalami (atau bahkan sedang melalui) fase menyiksa ini?

Selain menyakitkan secara emosi, patah hati rupanya punya dampak negatif terhadap otak kamu, lho. Hal ini sudah dibuktikan secara ilmiah lewat beragam studi independen.

Salah satunya adalah hasil FMRI (Functional Magnetic Resonancing Imaging) yang dipublikasikan Psychology Today.

Ketika patah hati, hasil scan otak manusia menunjukkan reaksi serupa saat tubuh mengalami cedera. Bahkan peneliti menyimpulkan rasa sakit akibat patah hati punya brain damage yang setara dengan sakit fisik.

Temuan lainnya juga menuturkan bahwa patah hati mengaktifkan mekanisme tertentu pada otak.

Mekanisme ini menganggu kinerja otak, sehingga bikin kamu sulit berpikir logis dan hilang fokus dalam tenggat waktu tertentu. Reaksi ini mirip dengan fase sakau pada pecandu narkoba yang mendadak disetop asupan zat adiktifnya.

Dan ketika patah hati, otak bekerja lebih keras dibanding biasanya dengan melepas hormon stres (kortisol). Area serebral korteks otak (yang berfungsi mengendalikan emosi) membuat kamu berimajinasi dan memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi bersama mantan.

Inilah yang jadi alasan mengapa kamu cenderung bertingkah nekat dan enggak bisa menyingkirkan bayangan si dia saat patah hati.

Namun, jangan khawatir. Fase menyakitkan ini akan segera berlalu jika kamu tahu caranya mengendalikan pikiran.

Kamu bisa meminimalisir rasa sakit dengan mengalihkan pikiran ke aktivitas bermanfaat lainnya, seperti rajin berolahraga. Hormon endorfin yang dihasilkan saat berolahraga bisa meredam produksi kortisol pada otak.

Selain mempercepat proses move on, tubuh pun makin fit dan sehat!

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: