kumparan
23 Mar 2018 17:35 WIB

Riset: Pembajakan Musik Meningkat 14,7% di Tahun 2017

Rekaman Musik (Ilustrasi) (Foto: Unsplash)
Kehadiran layanan musik streaming nampaknya belum terlalu berhasil dalam mengurangi jumlah pembajakan musik di dunia. Hal tersebut setidaknya dibuktikan dengan adanya peningkatan jumlah pembajakan musik sebesar 14,7 % dari beberapa tahun sebelum 2017.
ADVERTISEMENT
Dilansir NME, data tersebut didapatkan dari hasil laporan tahunan yang dilakukan oleh MUSO yang berjudul 'Annual Piracy Report' pada tahun 2017. Persentase kenaikan tersebut juga menunjukkan adanya kunjungan sebanyak 73,9 miliar kali pada situs pembajakan musik di seluruh dunia.
"30,5 miliar kunjungan dibuat pada situs streaming web. 21,2 miliar kunjungan pada situs download web, 15,7 miliar pada situs ripping, 6 miliar pada situs torrent publik dan 500 juta pada situs torrent pribadi," tulis jurnalis Luke Morgan Britton pada NME.
Sementara itu, berdasarkan laporan tersebut, Amerika Serikat menduduki urutan pertama dalam tingkat pembajakan musik dengan 29,9 miliar kunjungan pada situs musik ilegal, diikuti oleh beberapa negara lain seperti Rusia, India dan Turki.
ADVERTISEMENT
Hal tersebut juga secara keseluruhan menunjukkan bahwa kegiatan pembajakan musik merupakan yang kedua paling populer setelah televisi.
"Ada kepercayaan bahwa meningkatnya kepopuleran dari layanan on-demand seperti Netflix dan Spotify dapat menyelesaikan (masalah) pembajakan, tapi teori tersebut tak lantas menyimpulkan permasalahan tersebut," ucap Andy Chatterly selaku CEO dan Co-founder MUSO, dikutip dari NME.
"Audiens dari pembajakan itu besar dan kebanyakan merupakan peluang yang betul-betul diabaikan. Penting bagi para pelaku industri konten untuk merangkul tren yang muncul dari data ini, tidak hanyak dalam strategi perlindungan konten, tapi juga dalam memahami profil dari para konsumen pembajakan untuk mendapatkan lebih banyak wawasan bisnis dan memonetisasi audiens tersebut," tutup Andy.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan