Pencarian populer

Risiko Jadi Motivator Napi: Tertular Penyakit sampai Kena Pukul

Ilustrasi Penjara (Foto: Thinkstock)
Seorang motivator harus bisa mengandalkan kekuatan kata untuk memberikan semangat bagi orang lain dalam menjalani hidup yang lebih baik. Akan tetapi, untuk menjadi motivator napi, memiliki modal bicara saja enggak cukup.
ADVERTISEMENT
Menurut Psychology School Guide, menjadi motivator napi bukan hal yang bisa dilakukan semua orang. Kamu harus punya mental kuat untuk mendampingi napi menjalani hidupnya di penjara, dan mempersiapkan mereka menghadapi masyarakat setelah bebas.
Tak hanya mental kuat, fisik dan stamina yang terjaga juga menjadi bekal sehari-hari seorang motivator napi agar mampu bekerja cepat di bawah tekanan. Sebab, Edi Warsono, motivator napi di Lapas Batu Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, menyebut ada sejumlah risiko yang dihadapi motivator napi tiap harinya.
Pertama, secara mental motivator napi dapat terganggu karena menangani orang-orang bermasalah. "Kalau tidak siap bisa juga terkena pengaruh napi yang kecanduan narkoba, bahkan yang memiliki ideologi radikal," ujar dia kepada kumparan, Jumat (10/8).
ADVERTISEMENT
Penanganan tiap-tiap napi sendiri tak sama. Edi menjelaskan, napi pembunuhan dan pemerkosaan tergolong paling mudah karena biasanya disebabkan faktor ekonomi saja.
Sedangkan untuk napi narkoba memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. "Narkoba ini berurusan dengan sistem saraf. Banyak napi yang sudah sulit paham saat diajak bicara, sering bengong juga," sebut Edi.
Lain lagi dengan napi teroris yang dinilai Edi paling sulit untuk ditangani karena sudah memiliki pemahamannya sendiri.
"Susah untuk menggeser pemahaman itu. Biasanya orang lain sudah dianggap musuh oleh mereka," ujarnya.
Ilustrasi Perkelahian (Foto: Getty Images)
Motivator napi juga dihadapkan kepada risiko fisik ketika keributan atau pemberontakan yang bisa kapan saja terjadi. Kalau tidak siap, bisa kena pukul napi sampai mati.
"Terakhir ada risiko kesehatan. Banyak napi yang terkena penyakit menular seperti hepatitis jadi harus hati-hati," tambah Edi.
ADVERTISEMENT
Meski banyak risiko yang dihadapi, Edi mengaku menikmati pekerjaannya selama 32 tahun tersebut. Ia senang bila ada napi binaannya yang sukses.
"Saya anggap ini sebagai ibadah, lahan akhirat. Jadi senang bila ada napi yang dulu 'hitam' bisa jadi 'putih' atau taubat," tutupnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80