kumparan
19 Feb 2019 16:36 WIB

SMSG: 13 Juta Anak Indonesia Tidak Mengenyam Pendidikan

Najelaa Shihab, praktisi pendidikan dan pendiri SMSG Foto: Dok. Worldwide Communications
Di ambang Revolusi Industri 4.0, Indonesia nyatanya masih memiliki masalah dalam mengelola sumber daya manusia (SDM). Ketika persaingan global menuntut orang-orang untuk memiliki kecakapan pengelolaan teknologi tinggi, wajah pendidikan Indonesia masih dihantui oleh sebuah fakta terpuruk.
ADVERTISEMENT
Menurut data dari Semua Murid Semua Guru (SMSG), sebuah komunitas pendidikan, ada sekitar 13 juta anak Indonesia yang enggak mengenyam pendidikan dan 187 ribu di antaranya putus sekolah. Pangkal masalah umumnya berasal dari kemiskinan.
Ini merupakan masalah pelik karena kemiskinan punya efek domino. Orang-orang miskin juga kekurangan asupan bergizi, kurangnya akses informasi, dan masalah besar lainnya. Maka itu, perlu ada akses yang setara terhadap pendidikan.
Selain banyaknya jumlah anak yang enggak mengenyam pendidikan dan putus sekolah, berdasarkan riset yang dilakukan Pusat Penilaian Pendidikan Kemdikbud pada 2016 lalu, hasil asesmen kompetensi siswa di Indonesia saja masih tergolong memprihatinkan.
Untuk kemampuan matematika sebesar 77,13 persen siswa masih di bawah standar, kemampuan membaca sekitar 46,83 persen di bawah standar, sedangkan untuk kemampuan isu sains ada 73,61 persen di bawah standar.
ADVERTISEMENT
Najelaa Shihab, seorang praktisi pendidikan sekaligus pendiri SMSG menyebut, peningkatan kualitas belajar-mengajar di Indonesia saat ini masih terlalu rendah, yaitu sebatas upaya pemenuhan pencapaian nilai ujian.
Najelaa Shihab di acara Parenting & Millenial Teaching Foto: Okke Oscar/kumparan
”Kualitasnya belum mempercakapkan kebutuhan asasi manusia, pengembangan individu yang utuh untuk menjawab kebutuhan abad 21, atau memupuk insan yang siap berkontribusi untuk negeri ini,” ungkap perempuan yang akrab disapa Mbak Ela tersebut saat mengisi acara di HDI Hive Menteng, kemarin (18/2).
Tapi, jangankan berkontribusi untuk negeri, para siswa sendiri bahkan kebingungan untuk menentukan masa depannya sendiri termasuk keputusannya dalam urusan pendidikan.
Dilansir SMSG, sebesar 90 persen siswa sekolah menengah enggak tahu persis ingin berkuliah jurusan apa, sementara 87 persen yang sudah berkuliah justru merasa salah ambil jurusan.
ADVERTISEMENT
Najelaa menegaskan, masalah pendidikan enggak hanya terletak di tenaga pengajar saja tapi juga semua pihak. Ekosistem pendidikan juga harus mendukung, mulai dari orang tua, guru, pemerintah, lingkungan, hingga media massa.
"Berkaca pada gawat darurat pendidikan Indonesia, kita harus menyadari bahwa seluruh pemangku kepentingan harus berkontribusi, jangan saling menyalahkan, tapi harus bekerja sama dalam menyelesaikan masalah pendidikan," jelas Najelaa.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan