kumparan
4 Sep 2019 13:19 WIB

UNICEF: 1 dari 3 Anak Muda di Dunia Jadi Korban Bullying Online

Stop bullying. Foto: Dok. Freepik
Satu dari tiga anak muda di 30 negara mengatakan mereka pernah jadi korban perundungan (bullying) online. Satu dari lima melapor bahwa mereka bahkan sempat membolos karena mengalami bullying online dan kekerasan.
ADVERTISEMENT
Dalam survei yang dirilis oleh UNICEF dan Perwakilan Khusus PBB (SRSG) untuk Kekerasan terhadap Anak, hampir tiga perempat anak muda mengatakan bahwa media sosial, termasuk Facebook, Instagram, Snapchat dan Twitter, adalah tempat dengan bullying online terbanyak.
“Perundungan terjadi di luar ruang kelas, itu berarti sekolah tidak lagi bisa memantau ketika para pelajar meninggalkan kelas. Kita harus memperhitungkan lingkungan yang mereka hadapi baik online maupun offline," kata Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore.
Melalui survei yang dilakukan U-Report, anak-anak muda mendapat serangkaian pertanyaan melalui SMS dan teknologi pesan instan yang berhubungan dengan pengalaman mereka tentang bullying dan kekerasan online. Menurut 31 persen dari mereka, yang harus bertanggungjawab untuk mengakhiri bullying di dunia maya adalah anak-anak muda itu sendiri, sementara 29 persennya mengatakan perusahaan penyedia layanan internet lah yang harus bertanggung jawab.
ADVERTISEMENT
“Salah satu pesan dari opini mereka adalah perlunya keterlibatan kita semua: pemerintah, penyedia jasa layanan internet (sektor swasta) dan anak muda itu sendiri,” kata Najat Maalla Mjid, Perwakilan Khusus Sekjen PBB (SRSG) untuk Kekerasan terhadap Anak.
Ilustrasi bullying. Foto: Shutter Stock
Lebih dari 170.000 responden berusia 13-24 tahun berpartisipasi dalam survei ini, termasuk dari Indonesia, Albania, Bangladesh, Belize, Bolivia, Brasil, Burkina Faso, Pantai Gading, Ekuador, Prancis, Gambia, Ghana, India, Irak, Jamaika, Kosovo, Liberia, Malawi, Malaysia, Mali, Moldova, Montenegro, Myanmar, Nigeria, Rumania, Sierra Leone, Trinidad & Tobago, Ukraina, Vietnam dan Zimbabwe.
Survei ini mementahkan opini bahwa bullying online antar teman sekelas hanya terjadi di negara-negara berpendapatan tinggi. Sebagai contoh, 34 persen responden di sub-Sahara Afrika mengatakan mereka pernah menjadi korban bullying online. Sedangkan 39 persen mengatakan mereka tahu ada grup online tertutup yang anggotanya adalah siswa-siswi yang saling berbagi informasi dengan tujuan mem-bully.
ADVERTISEMENT
Sebagai bagian dari kampanye untuk #AKHIRIKekerasan (#ENDViolence) di sekitar sekolah, anak-anak muda dari seluruh dunia merancang #ENDviolence Youth Manifesto pada 2018, yang menyerukan agar pemerintah, guru, orang tua serta anak-anak muda lain turut membantu mengakhiri kekerasan dan memastikan agar siswa merasa aman di lingkungan sekitar sekolah, --termasuk meminta adanya perlindungan online.
Henrietta Fore menambahkan, anak-anak muda baik di negara berpendapatan rendah ataupun tinggi pernah di-bully di dunia maya. Hal itu memengaruhi pendidikan mereka dan mereka ingin hal itu segera dihentikan.
“Saat kita memperingati 30 tahun Konvensi Hak Anak, kita harus memastikan hak-hak anak berada di garis depan keamanan dan kebijakan perlindungan digital,” tegasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan