Pencarian populer
Waspada Dampak Cyberbullying, Diam Namun 'Mematikan'
Ilustrasi media sosial (Foto: Pixabay)
Tak sesederhana perbuatannya, tindakan mengintimidasi dan meyerang seseorang dengan menggunakan platform daring,ternyata mampu menimbulkan dampak kerusakan fisik dan psikis yang tidak main-main pada mereka yang menjadi korbannya.
Sebagai gambaran, UNICEF mencatat di tahun 2016, antara 41 hingga 50 persen remaja di indonesia dalam kisaran usia 13-15 tahun, pernah menjadi korban dari tindakan cyberbullying.
Sementara itu, kembali ke dua tahun sebelum statistik tersebut dirilis, salah satu badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang secara khusus menangani masalah seputar kesejahteraan anak tersebut, juga sempat mengeluarkan sebuah data mengenai tingkat kesadaran remaja Indonesia akan risiko cyberbullying.
Yakni, dari 43,5 juta responden remaja Indonesia yang berada di usia 10 hingga 19, hanya 42 persen (setara dengan 18,2 juta anak) di antaranya yang menyadari risiko akan tindakan cyberbullying.
Berkaca dari angka tersebut, terdapat sebuah sinyal yang cukup kuat bahwa pengetahuan mengenai dampak cyberbullying di Indonesia mungkin belum sepenuhnya diketahui masyarakat secara meluas.
Sebagai sebuah acuan lainnya, sebuah riset yang dilakukan oleh Charisse L. Nixon pada 2014 lalu, menyebutkan lima dampak yang dapat ditimbulkan cyberbullying terhadap korbannya. Yakni pengaruh depresif, rasa kesepian, kecemasan sosial, gangguan somatik, serta perilaku bunuh diri.
Beberapa dampak yang disebutkan Nixon pun kemudian diamini oleh Liza Marielly Djaprie selaku seorang Psikolog Klinis. Saat dihubungi kumparan (kumparan.com) pada Selasa (24/4) siang, Liza mengatakan bahwa cyberbullying bisa berdampak pada hal psikis atau fisik.
"Sebenarnya yang bisa diurutkan adalah, dampaknya, tuh, apa aja, sih? Secara psikologis dia bisa minder, takut, atau punya amarah, entah terhadap lingkungan atau diri sendiri," ujarnya kepada kumparan.
"Kalau secara fisik, mungkin dia enggak bisa makan atau tidur. Secara emosi, ketika kita mengalami suatu trauma, emosinya bisa jadi naik turun," tambahnya.
Meski begitu, Liza yang sudah banyak menangani kasus serupa, merasa masih cukup kesulitan untuk menakar seberapa signifikan sebenarnya dampak dari cyberbullying terhadap seseorang. Sebab, menurutnya hal tersebut sangat bergantung terhadap kepribadian si koban, alias subjektif.
Berdaring Tanpa Cyberbullying (Foto: Sabryna Muviola)
"Jadi kita enggak bisa menentukan bahwa pasti dampaknya hancur banget, belum tentu. Karena proses recovery seseorang dari kejadian trautamis itu berbeda-beda," pungkasnya.
Termasuk dalam cara menyerap cyberbullying itu sendiri. Menurutnya, bentuk penindasan daring yang bisa berbentuk visual maupun verbal itu, dapat memiliki dampak yang berbeda pada setiap orang.
"Seperti karakter orang kan ada extrovert dan introvert. Begitu pun panca indera, mereka juga punya karakter. Ada panca indera yang lebih kuat secara visual, dan ada juga yang enggak, malah ke audio misalnya," jelas Liza.
Berdasarkan pengalamannya, tak mudah untuk menemukan seseorang yang dengan gamblang mengatakan dirinya sebagai korban dari cyberbullying. Sebab, setiap orang yang Liza tangani sering kali datang dengan penyampaian yang berbeda-beda.
Padahal, menurutnya, setelah melalui sesi konsultasi dan yang lainnya, kasus depresi yang kebanyakan dialami kliennya berawal dari terjadinya penindasan di media sosial mereka.
"Tadi misalnya, ada pasien yang merupakan seorang istri yang depresi karena suaminya selingkuh. Nah, salah satu komponen yang membuat dia depresi adalah tentu karena suaminya selingkuh, jadi hubungan dengan suaminya terganggu. Kedua, si pelakornya ini juga menyerang dia lewat medsos. Dari situ kan ada unsur cyberbullyingnya juga, kan?" lengkap Liza.
Mengingat cukup besarnya peran media sosial pada kasus cyberbullying yang banyak terjadi, Liza pun memberikan satu langkah preventif kepada para remaja, agar tidak sampai menjadi korban dari tindakan cyberbullying.
"Belajar untuk tidak menyerap semuanya. Karena, itu adalah akun orang lain. Kita enggak bisa mengontrol apa yang ia tulis dan apa yang ia posting. Jadi, kalau dirasa mengganggu sekali, block aja atau unfollow. Selesai. kita hanya bisa bertanggung jawab atau akun medsos kita sendiri dan respons kita terhadap konten orang lain," jelas Liza.
"Kalau sudah terlanjur menjadi korban, coba dikira-kira dulu, apakah bisa ditangani sendiri atau tidak. Kalau sudah sampai ada kecenderungan bunuh diri, enggak mau makan, dan segala macam, saran saya tentu segera pergi ke ahlinya'," tutupnya.
Kehidupan generasi milenial yang begitu erat dengan penggunaan media sosial memang sering kali meleburkan batasan informasi yang seharusnya diterima. Sebelum ada penambahan jumlah korban, tidak ada salahnya untuk belajar bijak bermedia sosial sejak saat ini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: