kumparan
29 Agu 2019 11:26 WIB

Yang Bisa Kamu Lakukan untuk Melawan Bullying

Ilustrasi bullying. Foto: Shutter Stock
Bullying alias perundungan menjadi isu serius yang masih ditemui di lingkungan sekolah, kampus, bahkan pekerjaan. Mengkhawatirkannya, ternyata banyak orang yang belum menyadari bahaya dari bullying itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Khotimatus Sholikhati selaku dosen Komunikasi Psikologi di London School of Public Relations (LSPR) menyebut bullying sebagai fenomena gunung es. Menurut data yang dilaporkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2018, Indonesia berada di peringkat tiga di dunia, dan Jakarta sebagai kota dengan kasus bullying terbanyak.
"Sementara data yang rilis pada April 2019 melaporkan ada 151 kasus di KPAI, yang 50 persennya adalah bullying. Artinya, Indonesia itu darurat bullying. Mata rantainya harus segera diputus," tegas Khotimatus di acara diskusi bullying bersama Komunitas Sudah Dong di Dreamhub Coworking Space, Equity Tower, Jakarta Selatan, Rabu (28/8).
Khotimatus mengatakan, ada beberapa perilaku yang dapat dikategorikan sebagai bullying. Pertama adalah tindakan yang bersifat kekerasan, munculnya dominasi dari salah satu pihak, keinginan untuk menyakiti, dan terakhir, yaitu tindakan yang dilakukan secara berulang.
Adiyat Yori selaku Wakil Ketua Yayasan Kawula Muda dok Hesti Widianingtyas/kumparan
Adiyat Yori, selaku Wakil Ketua Yayasan Kawula Madani dan perwakilan dari Komunitas Sudah Dong yang fokus kepada anti-bullying di kalangan remaja, menambahkan, masih langgengnya bullying karena banyak yang menganggapnya sebagai tindakan remeh.
ADVERTISEMENT
Bullying merupakan isu yang sangat krusial untuk diberi perhatian, juga butuh bantuan seluruh pihak dalam proses (menghapuskannya). Bullying bisa terjadi di mana saja dan oleh siapa saja. Banyak kasus yang tidak terselesaikan, bahkan menyebabkan terjadinya peristiwa bunuh diri oleh sang korban," terangnya.
Ia menyebut masih kurangnya perhatian terhadap bullying karena tindakannya yang terkadang enggak kasat mata. Karena bullying enggak cuma soal kekerasan fisik, tapi juga verbal.
Maka itu, Yori menyarankan kepada sesama remaja, yang jika melihat perilaku bullying untuk enggak takut melawan.
"Harus speak up, karena kalau diam artinya kita enggak masalah dengan bullying. Banyak yang mengira bullying itu cuma bercanda, tapi apapun alasannya, it's not okay," ujar dia kepada kumparan.
ADVERTISEMENT
Yori menyebut, hal lain yang bisa kamu lakukan untuk melawan bullying adalah dengan bersikap lebih peka terhadap teman, serta menciptakan lingkungan yang sehat.
"Bergaul-lah dengan orang yang positif. Kalau terus kamu lakukan, hal ini bisa membantu melawan bullying," ucapnya.
Acara diskusi bullying yang diadakan oleh Komunitas Sudah Dong juga diramaikan dengan pemutaran film pendek berjudul 'Violet Violence'. 'Violet Violence' mengabadikan kisah tragis seorang perempuan yang di-bully di dunia maya.
Syahna Andita, creator dari 'Violet Violence', berusaha menyampaikan pesan dampak dari perundungan dapat menurunkan motivasi seseorang, menghambat prestasi, meningkatkan agresivitas, menimbulkan depresi, hingga dapat memunculkan keinginan bunuh diri.
“Film pendek berjudul Violet Violence terdiri dari dua kata yang memiliki artinya masing-masing. 'Violet' dalam filosofinya berarti sebuah ilusi dan 'violence' diambil dari bahasa Inggris berarti kekerasan. Jika kedua kata itu digabung membuat arti kekerasan ilusi. Dengan adanya film ini, saya ingin menyampaikan bahwa tindakan bullying di dunia maya itu memang enggak terlihat secara fisik, namun dapat mematikan karakter seseorang,” jelas Syahna.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan